Guru itu Pahlawan

Saya selalu yakin Tuhan akan membalas semuanya dalam bentuk yang lain…

Seorang saudara yang juga rekan kerja “menemani” perjalananku dari Muntilan ke Semarang.¬†Usianya relatif lebih tua dariku. Perkenalan kami pun belum begitu lama, kira-kira satu tahun, pun tidak intensif, hanya sebatas ‘jika’ ada tugas. Namun cukuplah aku mengenalnya sebagai pribadi yang jujur, tulus dan apa adanya. Kami baru saja membagikan pengalaman dan hasil pendalaman kami seputar model penilaian kepada guru-guru di sana. Sebenarnya kami berempat. Namun hampir sepanjang perjalanan dua orang rekan lainnya tertidur.
Kami mulai bertukar cerita. Sampai pada satu titik aku bertanya: “kok mau-maunya mengusahakan banyak hal untuk sekolah dan yayasan padahal tidak diberi bayaran?” Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Saudaraku ini seorang kepala sekolah, baru satu tahun. Sebagai guru dan sebagai kepala sekolah tentu tanggungjawabnya tidak sedikit. Mulai dari mengusahakan banyak murid, keberlangsungan pendidikan, mengusahakan pembangunan atau setidak-tidaknya perawatan gedung, bertanggungjawab atas guru-guru dan karyawan yang ada di sekolah, atas pekerjaan mereka, atas kelakuan mereka. Belum lagi jika ada orang tua yang protes ini itu; tuntutan pemerintah yang harus diintegrasikan dengan visi-misi serta permintaan yayasan yang keduanya tidaklah sedikit. Semua harus ditanggung, dikerjakan.
Di sisi lain, aku tahu jumlah gaji yang diperoleh tidaklah seberapa untuk menghidupi istri dan dua anak.
Aku heran namun sekaligus kagum, mengapa dia tak pernah mengeluh soal penghasilan. Padahal tanggungjawabnya besar. Usahanya tidak sedikit. Waktu, tenaga dan pikiran rasa-rasanya penuh dengan urusan sekolah. Untuk “pergi-pergi” seperti ini pun tidak diberi bayaran, malah sering menggunakan uang pribadi. Aku heran namun kagum karena hidupnya kok terasa cukup, tidak kurang, tidak berlebih juga. Atau mungkin sang istri juga pandai mengatur keuangan? Entah. Sekalipun iya, mungkin tidak amat membantu. Entah.
Dalam keheranan dan kekaguman itu aku bertanya padanya. Terasa amat ringan baginya untuk menjawab: “saya selalu yakin Tuhan akan membalas semuanya dalam bentuk yang lain…” Aku terhenyak. Jawabannya menusuk kalbu. Barangkali jika berada dalam posisinya, aku tak bisa menjadi seperti dirinya. Ternyata, di zaman ini masih ada orang yang mau memberi lebih tanpa menghitung biaya keringat dan waktu.
Aku merasa beruntung ketemu saudara-saudara yang jelas sekali dedikasinya. Dia/mereka menjadi contoh nyata kemuliaan pahlawan tanpa tanda jasa dan orang-orang kudus yang tersembunyi. Di zaman ini kepahlawanan mungkin tidak lagi harus mati demi membela sesuatu tapi memberikan diri seutuhnya untuk sebuah tugas dan menghayatinya sebagai bentuk persembahan indah bagi Tuhan.
Selamat hari pahlawan saudara…

“Teach us, Lord, to serve you as you deserve; to give and not to count the cost; to fight and not to heed the wounds; to toil and not to seek for rest; to labour and not to ask for any reward, save that of knowing that we do your will.” St. Ignatius Loyola
Advertisements