Tentang Seorang Guru di Pati

Saya belum memberikan apa-apa buat keluarga…

Aku memutuskan untuk merayakan hari guru, 25 November 2014, dengan mengunjungi guru-guru di daerah Timur, khususnya Pati. Aku menginap di rumah seorang guru yang juga kepala sekolah. Selama tiga hari, ia menemaniku mengunjungi beberapa sekolah Kanisius, termasuk yang ada di Juwana. Sore dan malam hari ia mengantarku untuk menyapa guru-guru dengan berkunjung dari rumah ke rumah. Tiga hari aku di sana. Tiga hari untuk kunjungan, berjumpa, menyapa. Tiga hari untuk guru. Tiga hari untuk merayakan hari guru.

Saat itu, kami sedang dalam perjalanan dari sekolah menuju rumah, tempat aku menginap selama tiga hari kemarin. Cerita demi cerita mengiringi perjalanan kami. Mulai dari cerita tentang sekolah sampai pergulatan pribadi. Tak habis-habisnya. Padahal sejak aku tiba kami saling bertukar cerita, berbagi pengalaman. Kami mungkin tidak akan berhenti jika mata kami semakin lama semakin tidak kuat menahan rasa kantuk. Namun, saat itu, dia mengatakan sesuatu yang menggetarkan dawai hati. “Saya belum memberikan apa-apa buat keluarga.” Seketika aku tersentak. Kutepuk-tepuk pundaknya dan kukatakan padanya, “ahh…bapak sudah memberikan banyak.”

Aku mengenalnya sebagai seorang pekerja keras. Rumah yang mereka tinggali, wujud dari kerja kerasnya. Tiga hari bersamanya pun mengatakan demikian. Pagi-pagi berangkat ke sekolah, memimpin para guru, mengajar anak-anak, memimpin dan mengawasi proyek rehab sekolah, berurusan dengan dinas pendidikan/pemerintah, dengan orang tua siswa, kurikulum sekolah, sampai mengusahakan kesejahteraan rekan-rekan gurunya. Aku kira kerja hanya sampai di situ. Kami pulang ke rumah segera makan ‘siang’ (de facto sudah sore) bersama keluarga yang juga sudah menunggu. Tak lama kemudian, dia pamit padaku: “tak tinggal sebentar ya, nggolek tambahan upah”. Aku kaget. Aku tak membayangkan bahwa sore hingga malam hari masih akan kerja lagi. Rasanya persoalan sekolah saja sudah cukup menyita waktu dan tenaga. Apa daya, selama kita hidup di dunia pun, kita tetap butuh materi untuk hidup. Memang, aku sepenuhnya sadar gaji untuk menghidupi isteri dan dua anak tentu tidak cukup, apalagi di zaman ini. Hampir setiap hari kegiatannya seperti itu. Malam hari baru pulang ke rumah. Belum lagi jika ada undangan doa lingkungan atau pertemuan.

Aku mengenalnya sebagai orang yang apa adanya (just the way he is). Dia menerima aku di rumahnya dengan apa adanya. Nothing special. Keadaan rumah, situasi keluarga, makanan yang tersaji, semuanya tidak dibuat-buat “dalam rangka kedatanganku”. Sebaliknya, semua berjalan sebagaimana biasanya. Bahkan sikap dan tindakan mereka sekeluarga juga apa adanya. Dan apa adanya itu ramah, terbuka, amat bersahabat – penuh kekeluargaan.

Aku mengenalnya sebagai orang yang jujur. Tahun ini ada banyak bantuan yang diterima. Namun bantuan itu sungguh berwujud. Dia membuat sekolah menjadi lebih layak huni. Pengembangan diri anak-anak diprioritaskan dengan menggalakkan kegiatan-kegiatan sekolah. Cara kerja yang transparan menjadi salah satu bukti yang valid, tak terbantahkan.

Pengenalan-pengenalan itu yang membuatku tersentak ketika dia mengatakan bahwa dia belum memberikan apa-apa buat keluarga. Bagaimana mungkin dia sampai mengatakan belum memberikan apa-apa buat keluarga padahal usahanya sudah amat keras? Bagaimana mungkin orang yang sudah berjuang keras untuk keluarga, sekolah, rekan dan sahabatnya mengatakan bahwa dirinya belum berbuat apa-apa? Lalu apa artinya berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari? Apa artinya berjerih lelah?

Bagiku, ia sudah berbuat banyak, bahkan tak terhitung jumlahnya. Perjuangan untuk menghidupi dan membahagiakan keluarga itulah yang diperbuatnya. Apa yang diperbuat, dikerjakan, diperjuangkan adalah wujud cintanya yang amat luhur untuk keluarga yang dibangunnya dengan tidak mudah. Cinta itu terpateri kuat, tidak bisa direbut dari padanya.

Akh Tuhan, ternyata Kau menuntunku sampai ke tempat ini untuk merasakan peristiwa manis yang tak berbayar; hanya bisa dialami, dirasakan. Tiga hari untuk menyaksikan cinta seorang guru untuk sekolah, cinta seorang bapak untuk keluarga. Tiga hari nan manis merayakan hari guru, 25 November 2014.

Terima kasih guru.

Advertisements

Guru itu Pahlawan

Saya selalu yakin Tuhan akan membalas semuanya dalam bentuk yang lain…

Seorang saudara yang juga rekan kerja “menemani” perjalananku dari Muntilan ke Semarang.¬†Usianya relatif lebih tua dariku. Perkenalan kami pun belum begitu lama, kira-kira satu tahun, pun tidak intensif, hanya sebatas ‘jika’ ada tugas. Namun cukuplah aku mengenalnya sebagai pribadi yang jujur, tulus dan apa adanya. Kami baru saja membagikan pengalaman dan hasil pendalaman kami seputar model penilaian kepada guru-guru di sana. Sebenarnya kami berempat. Namun hampir sepanjang perjalanan dua orang rekan lainnya tertidur.
Kami mulai bertukar cerita. Sampai pada satu titik aku bertanya: “kok mau-maunya mengusahakan banyak hal untuk sekolah dan yayasan padahal tidak diberi bayaran?” Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Saudaraku ini seorang kepala sekolah, baru satu tahun. Sebagai guru dan sebagai kepala sekolah tentu tanggungjawabnya tidak sedikit. Mulai dari mengusahakan banyak murid, keberlangsungan pendidikan, mengusahakan pembangunan atau setidak-tidaknya perawatan gedung, bertanggungjawab atas guru-guru dan karyawan yang ada di sekolah, atas pekerjaan mereka, atas kelakuan mereka. Belum lagi jika ada orang tua yang protes ini itu; tuntutan pemerintah yang harus diintegrasikan dengan visi-misi serta permintaan yayasan yang keduanya tidaklah sedikit. Semua harus ditanggung, dikerjakan.
Di sisi lain, aku tahu jumlah gaji yang diperoleh tidaklah seberapa untuk menghidupi istri dan dua anak.
Aku heran namun sekaligus kagum, mengapa dia tak pernah mengeluh soal penghasilan. Padahal tanggungjawabnya besar. Usahanya tidak sedikit. Waktu, tenaga dan pikiran rasa-rasanya penuh dengan urusan sekolah. Untuk “pergi-pergi” seperti ini pun tidak diberi bayaran, malah sering menggunakan uang pribadi. Aku heran namun kagum karena hidupnya kok terasa cukup, tidak kurang, tidak berlebih juga. Atau mungkin sang istri juga pandai mengatur keuangan? Entah. Sekalipun iya, mungkin tidak amat membantu. Entah.
Dalam keheranan dan kekaguman itu aku bertanya padanya. Terasa amat ringan baginya untuk menjawab: “saya selalu yakin Tuhan akan membalas semuanya dalam bentuk yang lain…” Aku terhenyak. Jawabannya menusuk kalbu. Barangkali jika berada dalam posisinya, aku tak bisa menjadi seperti dirinya. Ternyata, di zaman ini masih ada orang yang mau memberi lebih tanpa menghitung biaya keringat dan waktu.
Aku merasa beruntung ketemu saudara-saudara yang jelas sekali dedikasinya. Dia/mereka menjadi contoh nyata kemuliaan pahlawan tanpa tanda jasa dan orang-orang kudus yang tersembunyi. Di zaman ini kepahlawanan mungkin tidak lagi harus mati demi membela sesuatu tapi memberikan diri seutuhnya untuk sebuah tugas dan menghayatinya sebagai bentuk persembahan indah bagi Tuhan.
Selamat hari pahlawan saudara…

“Teach us, Lord, to serve you as you deserve; to give and not to count the cost; to fight and not to heed the wounds; to toil and not to seek for rest; to labour and not to ask for any reward, save that of knowing that we do your will.” St. Ignatius Loyola