Menembus Hujan-Banjir, Merengkuh Kegembiraan

Beberapa hari ini hujan terus mengguyur kota Semarang. Seorang anggota komunitas berkomentar “hujannya dinamis”. Sebentar rintik-rintik lalu lebat lagi. Begitu seterusnya.

Empat hari lalu aku mendapat telpon dari seorang kepala sekolah di salah satu sekolah di Kudus. Beliau memberitahukan undangan ultang tahun sekolah yang ke 65. Dalam pembicaraan tersebut, beliau sangat mengharapkan kehadiran perwakilan dari yayasan. Aku sendiri sudah memberitahu kalau Direktur sudah ada jadwal di tempat lain yang tidak bisa diwakilkan.

Tiga hari lalu. Di pagi hari undangan tertulis untuk acara tersebut baru datang. Dalam undangan tersebut salah satu agenda acara adalah “orasi pendidikan” yang diberikan oleh direktur yayasan dan kepala dinas. Direktur memberiku kebebasan untuk memilih akan ikut acara yang mana, Barat (bersama beliau), Timur atau Kota. Dengan ringan kujawab: “kalau tidak hujan saya akan ke Kudus, jika hujan maka saya akan berkeliling ke tiga sekolah di Kota yang sedang open house.”

“Bagaimanapun besok ada kemungkinan aku ke Kudus,” kataku dalam hati. Yang segera terpikir olehku “artinya besok aku yang akan menggantikan direktur untuk memberi orasi”. Aku sendiri tertawa ketika membaca undangan ini. Apa benar sekolah mengagendakan orasi? Ataukah yang dimaksud orasi adalah sambutan sebagaimana biasanya? Dalam kesederhanaan pemahamanku orasi itu semacam pidato yang diberikan oleh seseorang yang dirasa cukup ahli dalam bidang tertentu. Apa tidak salah aku memberikan orasi dalam bidang pendidikan? Siapakah aku ini yang mau berorasi? Barangkali kalau berorasi di jalan aku bisa. Dulu, waktu kuliah, aku tiga kali berorasi setiap hari Sumpah Pemuda. Itupun sebenarnya karena aku menjadi gerekan sosial senat. Selanjutnya karena permintaan teman serumah. Namun, orasi kali ini tentu bereda. Nuansa intelektual menjadi ciri khasnya.

Malam harinya, aku mendapat telpon lagi dari kepala sekolah. Mereka sungguh mengharapkan kehadiran perwakilan dari yayasan. Dan sekali lagi, orang yang paling mungkin hadir adalah aku. Bisa saja aku menolak. Dan ada banyak alasan untuk itu. Sekolah di tempat lain juga membutuhkan. Tokh direktur sendiri memberiku kebebasan. Dan hujan! Itu tentu alasan yang amat kuat.

Namun entah kenapa ada perasaan yang jauh lebih kuat yang mendorongku untuk mengusahakan hadir pada perayaan ulang tahun sekolah tersebut. Aku merasa disodorkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mungkin aku tidak menyambut penantian orang-orang yang mengharapkan kehadiranku? Mereka dengan penuh kegembiraan merayakan ulang tahun ke-65, apa aku tidak mau menyambut kegembiraan yang mereka tawarkan? Apa aku tidak mau bergembira bersama mereka? Kegembiraan itulah yang menjadi alasan kuat bagiku untuk berangkat.

Pagi-pagi kukendarai motorku menuju kota Kudus. Jujur, aku masih menyimpan keraguana, karena buruknya cuaca, karena aku belum begitu mengenal kota ini sehingga orientasi jalan masih kabur. Memang aku sudah 4 kali berkunjung ke sana tetapi selalu bersama orang lain. Sendirian saja aku belum pernah. Tapi, “bersama Dia pasti bisa, kata seorang saudara. Kubulatkan tekadku. I have to go!

Kukenakan jas hujan yang akhirnya tembus air juga. Yah, hujan memang lagi hebat-hebatnya mengguyur semua daerah Jawa Tengah. Belum aku ke luar dari kota Semarang, banjir sudah selutut. Laju motor kupelankan, kuikuti beberapa motor di depanku. Pikirku sederhana, jika mereka jatuh berarti di depanku ada lubang. Aku sungguh berhati-hati. Belum lagi jalan ke kota Kudus diwarnai dengan lubang-lubang. Padahal beberapa bulan lalu jalan ke sana masih cukup mulus. Barangkali karena truk-truk besar yang tak pernah berhenti melintasi jalan tersebut.

Sepanjang perjalanan hujan terus mengguyur. Kadang rintik-rintik, tetapi lebih sering hujannya lebat. Bagi orang sepertiku, yang cacat mata dan menggunakan kacamata, mengendarai motor saat hujan adalah sebuah perjuangan, pandangan amat kabur dan aku tahu kalau itu berbahaya. Laju motorku hanya sekitar 50 Km/jam. Lama kelamaan aku merasa perjalanan itu tidak berujung. Sampai aku merasa capek. Sesekali jika jalanan sepi laju motorku kupercepat sampai 80 km/jam. Tidak lebih dari itu. Aku belum kenal medan, banyak lubang dan hujan. Akhirnya setelah 1 jam 45 menit, aku tiba di kota Kudus tepat di sekolah Kanisius. Kuparkir motorku, kubereskan jas hujanku dan segera aku berganti pakaian dan memakai sepatu. Tampilan formal. Batik, celana kain, sepatu pantofel.

Aku menempati kursi paling depan. Sebenarnya aku paling tidak suka suasana semacam ini. Tapi mau bagaimana lagi. Kehadiranku tidak hanya mewakili diriku, aku mewakili direktur, aku mewakili yayasan, aku mewakili serikat, aku mewakili keuskupan. Agak lebay mungkin :). Bersamaku ada beberapa orang pemerintahan yang bertugas di dinas pendidikan, komite sekolah, para donatur, perwakilan masyarakat, orang tua siswa, guru-guru, beberapa kepala sekolah, romo paroki dan dewannya serta anak-anak sekolah. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Tugasku jelas, aku akan memberikan orasi (sekali lagi menurutku ini bahasa mereka). Aku sudah menyiapkan sebanyak dua setengah/tiga halaman. Malam harinya aku membaca banyak tanggapan Anies Baswedan tentang pendidikan. Retorikanya membuatku sungguh terkesan dan mengobarkan semangatku untuk menyampaikan pidato/orasi sebagaimana dia berpidato/berorasi. Aku tahu tentu latar belakang pengalaman dan pengetahuannya memang amat luas. Well, siang harinya aku juga sudah menyempatkan membaca PPR (paradigma pedagogi reflektif) yang menjadi bagian dari cara pendidikan khas di persekolahan Kanisius. Maka, berdasarkan itu semua aku meramu sambutan atau pidato atau orasi atau mungkin yang lebih tepat sharing.

Ketika tiba saatnya, aku pun menyampaikan kata sambutan dan dua poin besar tentang pendidikan. Point besarnya: pendidikan kemanusiaan dan sikap kita terhadap pendidikan. Tentu kusertakan ucapan terima kasih pula kepada semua pihak yang sudah mendukung penyelenggaraan sekolah sampai usianya yang ke-65 ini. Didengarkan atau tidak, dipahami atau tidak, bermutu atau tidak, yang pasti aku telah menyampaikannya dengan penuh usaha.

Tanpa mengurangi usaha untuk menyampaikannya dan mengusahakan yang terbaik, bagiku, yang terpenting bukan itu lagi. Namun yang terpenting bagiku adalah aku bisa hadir di tengah-tengah mereka. Dan adalah rahmat tersendiri ketika mereka menyambutku dengan penuh kegembiraan. Setiap wajah yang kujumpai ada pancaran kegembiraan. “Tidak salah aku datang ke sini”, tegasku dalam hati. Jiwaku sungguh dipuaskan. Hujan, banjir, jalan berlubang, jauh, capek, apapun itu, semua demi merengkuh kegembiraan ini. Wajah kegembiraan inilah yang membayar semua perjuanganku hari itu. Tak ada satu materipun yang bisa membayarnya.

Kutembus hujan dan banjir untuk merengkuh kegembiraan jiwa…

Advertisements

Vigil Night, Rio 2013

Teramat sayang jika kotbah yang mendalam dan penuh inspirasi ini tidak direkam. Kotbah ini disampaikan Paus Fransiskus ketika Vigil Night WYD di Rio tahun 2013.

Dear Young Friends,

We have just recalled the story of Saint Francis of Assisi. In front of the crucifix he heard the voice of Jesus saying to him: “Francis, go, rebuild my house.” The young Francis responded readily and generously to the Lord’s call to rebuild his house. But which house? Slowly but surely, Francis came to realize that it was not a question of repairing a stone building, but about doing his part for the life of the Church. It was a matter of being at the service of the Church, loving her and working to make the countenance of Christ shine ever more brightly in her. Today too, as always, the Lord needs you, young people, for his Church.

Today too, he is calling each of you to follow him in his Church and to be missionaries. How? In what way? Well, I think we are able to learn something from what has happened these days: how we had to move this vigil from Campus Fidei in Guaratiba because of the bad weather. Would not the Lord be willing to say to us that the real area of faith, the true campus fidei, is not a geographical place but are we that very place? Yes! Each of us, each one of you. And missionary discipleship means to recognize that we are the Campus Fidei of God! Starting with the name of the place where we are, Campus Fidei, the field of faith, I have thought of three images that can help us understand better what it means to be a disciple and a missionary. First, a field is a place for sowing seeds; second, a field is a training ground; and third, a field is a construction site.

A field is a place for sowing seeds. We all know the parable where Jesus speaks of a sower who went out to sow seeds in the field; some seed fell on the path, some on rocky ground, some among thorns, and could not grow; other seed fell on good soil and brought forth much fruit (cf. Mt 13:1-9). Jesus himself explains the meaning of the parable: the seed is the word of God sown in our hearts (cf. Mt 13:18-23). This, dear young people, means that the real Campus Fidei, the field of faith, is your own heart, it is your life. It is your life that Jesus wants to enter with his word, with his presence. Please, let Christ and his word enter your life, blossom and grow.

Jesus tells us that the seed which fell on the path or on the rocky ground or among the thorns bore no fruit. What kind of ground are we? What kind of terrain do we want to be? Maybe sometimes we are like the path: we hear the Lord’s word but it changes nothing in our lives because we let ourselves be numbed by all the superficial voices competing for our attention; or we are like the rocky ground: we receive Jesus with enthusiasm, but we falter and, faced with difficulties, we don’t have the courage to swim against the tide; or we are like the thorny ground: negativity, negative feelings choke the Lord’s word in us (cf. Mt 13:18-22).

But today I am sure that the seed is falling on good soil, that you want to be good soil, not part-time Christians, not “starchy” and superficial, but real. I am sure that you don’t want to be duped by a false freedom, always at the beck and call of momentary fashions and fads. I know that you are aiming high, at long-lasting decisions which will make your lives meaningful. Jesus is capable of letting you do this: he is “the way, and the truth, and the life” (Jn 14:6). Let’s trust in him. Let’s make him our guide!

A field is a training ground. Jesus asks us to follow him for life, he asks us to be his disciples, to “play on his team.” I think that most of you love sports! Here in Brazil, as in other countries, football is a national passion.

Now, what do players do when they are asked to join a team? They have to train, and to train a lot! The same is true of our lives as the Lord’s disciples. Saint Paul tells us: “athletes deny themselves all sorts of things; they do this to win a crown of leaves that withers, but we a crown that is imperishable” (1 Cor 9:25). Jesus offers us something bigger than the World Cup! He offers us the possibility of a fulfilled and fruitful life; he also offers us a future with him, an endless future, eternal life. But he asks us to train, “to get in shape,” so that we can face every situation in life undaunted, bearing witness to our faith. How do we get in shape? By talking with him: by prayer, which is our daily conversation with God, who always listens to us. By the sacraments, which make his life grow within us and conform us to Christ. By loving one another, learning to listen, to understand, to forgive, to be accepting and to help others, everybody, with no one excluded or ostracized. Dear young people, be true “athletes of Christ!”

A field is a construction site. When our heart is good soil which receives the word of God, when “we build up a sweat” in trying to live as Christians, we experience something tremendous: we are never alone, we are part of a family of brothers and sisters, all journeying on the same path: we are part of the Church; indeed, we are building up the Church and we are making history. Saint Peter tells us that we are living stones, which form a spiritual edifice (cf. 1 Pet 2:5). Looking at this platform, we see that it is in the shape of a church, built up with stones and bricks. In the Church of Jesus, we ourselves are the living stones. Jesus is asking us to build up his Church, but not as a little chapel which holds only a small group of persons. He asks us to make his living Church so large that it can hold all of humanity, that it can be a home for everyone! To me, to you, to each of us he says: “Go and make disciples of all nations.” Tonight, let us answer him: Yes, I too want to be a living stone; together we want to build up the Church of Jesus! Let us all say together: I want to go forth and build up the Church of Christ!

In your young hearts, you have a desire to build a better world. I have been closely following the news reports of the many young people who throughout the world and also here in Brazil who have taken to the streets in order to express their desire for a more just and fraternal society. They are young people who what to be protagonists of change. I encourage them, in an orderly, peaceful and responsible way, motivated by the values of the Gospel, to continue overcoming apathy and offering a Christian response to the social and political concerns present in their countries.

But the question remains: Where do we start? What are the criteria for building a more just society? Mother Teresa of Calcutta was once asked what needed to change in the Church. Her answer was: you and I!

Dear friends, never forget that you are the field of faith! You are Christ’s athletes! You are called to build a more beautiful Church and a better world. Let us lift our gaze to Our Lady. Mary helps us to follow Jesus, she gives us the example by her own “yes” to God: “I am the servant of the Lord; let it be done to me as you say” (Lk 1:38). All together, let us join Mary in saying to God: let it be done to me as you say. Amen!

“Hadiah Natal Terindah”, Tubuh dan Darah-Nya

Ibu-bapak, saudari-saudara yang terkasih selamat pagi. Selamat Natal!

Barangkali banyak di antara Anda yang bertanya-tanya siapa gerangan yang ada di hadapan Anda sekarang ini. Maka baiklah saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Bonifasius Melkyor Pando, sejak kecil sampai sekarang saya dipanggil Melky. Saya berasal dari paroki ini. Sejak 11 tahun saya masuk Seminari, ini pertama kalinya saya berdiri di depan umat paroki. Maka, saya berterima kasih kepada Rm.Lucas atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saat ini saya sedang menjalani masa Tahun Orientasi Kerasulan di yayasan Kanisius, bagian pendidikan di Semarang, Jawa Tengah. Setelah lulus dari Seminari saya melanjutkan pendidikan menjadi imam ke Ordo Serikat Yesus (SJ).

 Ibu-bapak, saudari-saudara yang terkasih

Saya akan memulai renungan pagi ini dengan sebuah cerita. Cerita ini sekaligus poin refleksinya saya peroleh dari salah seorang saudara saya yang selalu memberi inspirasi bagi saya. Romo Ardi SJ namanya. Ceritanya demikian: Selama Perang Dunia II, banyak anak-anak berusia 12 dan 13 tahun dibawa ke Junior Gestapo, di sana mereka harus kerja paksa, tanpa istirahat. Setelah perang berakhir , sebagian besar anak-anak ini telah kehilangan kontak dengan keluarga mereka dan berjalan tanpa tujuan, tanpa makanan atau tempat tinggal. Sebagai bagian dari program bantuan untuk membangun kembali pasca perang Jerman, banyak pemuda tersebut ditempatkan di kota-kota tenda. Di sana, dokter dan perawat bekerja dengan mereka dalam upaya untuk memulihkan kesehatan mental, fisik, dan emosional mereka. Itu adalah perjuangan yang berat.

Banyak dari anak-anak akan terbangun beberapa kali selama malam menjerit ketakutan. Seorang dokter memiliki ide untuk menangani rasa takut mereka . Setelah melayani anak-anak yang sedemikian melimpah, dia akan memasukkan mereka ke tempat tidur dengan sepotong roti di tangan mereka, mereka diberitahu untuk menyimpan sampai pagi. Anak-anak mulai tidur nyenyak setelah itu karena, setelah bertahun-tahun kelaparan dan ketidakpastian makanan mereka selanjutnya, mereka akhirnya memiliki jaminan makanan untuk hari berikutnya.

Inilah yang Tuhan lakukan bagi kita. Tuhan memberikan kita Yesus dan Yesus memberi kita diriNya sendiri. Dia memberi kita tidak hanya roti untuk diselipkan ke tangan kita tapi dia memberi kita dagingnya untuk makan dan minum darah sehingga kita bisa tetap di dalam Dia dan Dia di dalam kita.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Kalau hari ini anak-anak menerima komuni: roti dan anggur lambang Tubuh dan Darah Kristus, kita ingat pemberian diri Yesus – hadiah Yesus di Perjamuan Terakhir dan di kayu salib. Lalu mengapa kita merayakan Ekaristi sekitar 2.000 tahun kemudian/saat ini? Kita melakukan ini karena Yesus mengatakan kepada kita untuk melakukannya: “Lakukan ini untuk mengenangkan Daku!” Mengapa kita membutuhkan Ekaristi? Dalam Ekaristi ia memberikan tanda terlihat dan cara yang efektif untuk dia hadir kepada kami dan kami hadir kepadanya . Seperti kata Yesus sendiri , “Mereka yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam mereka.”

Bagi anak-anak yang hari ini menerima komuni: ini adalah hadiah Natal terindah dalam hidupmu. Kamu menerima Tubuh Kristus, Yesus sendiri dan menyatukanNya dalam dirimu. Sama halnya dengan kita orang dewasa yang telah menerima komuni, dengan kelahiran Bayi Yesus yang kita peringati, rayakan dan pestakan kita diingatkan akan Allah yang menjelma menjadi manusia yang memberikan DiriNya kepada kita.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Berbicara tentang Natal, pada 10 Desember, Koran Italia, “La Stampa” menlansir wawancara dengan Paus Fransiskus. Kepada Bapa Paus ditanyakan:

Apa makna Natal bagi Paus?  Beliau menjawab: “Natal adalah sebuah pertemuan dengan Yesus. Allah selalu mencari umatNya, memimpinnya, menjaganya, berjanji bahwa Ia akan selalu berada di dekatnya. Di dalam kitab Ulangan kita membaca bahwa Allah berjalan dengan kita, memimpin kita dengan tanganNya seperti seorang bapak kepada anaknya. Hal itu indah. Natal adalah pertemuan Allah dengan umatNya. Bagi saya, Natal selalu hal ini: merenungkan/mengontemplasikan kunjungan Allah bagi umatNya.

Apa yang disampaikan Natal bagi orang zaman ini?

Allah berbicara 2 hal kepada kita saat menemui kita. Yang pertama: milikilah harapan! Allah selalu membuka pintu-pintu, tidak pernah Dia menutupnya. Dia adalah bapak yang membukakan pintu bagi kita. Yang kedua: janganlah takut akan kelembutan! Ketika orang-orang Kristiani melupakan harapan dan kelembutan, mereka berubah menjadi sebuah Gereja yang dingin, yang tidak tahu ke mana pergi dan mengekang diri sendiri di dalam ideologi-ideologi. Saya takut ketika orang-orang Kristiani kehilangan harapan dan kapasitas untuk merangkul.”

Natal seringkali ditampilkan sebagai dongeng yang manis. Namun, Allah lahir di dalam dunia di mana terdapat banyak penderitaan dan kesengsaraan.

“Apa yang kita baca dalam Injil adalah sebuah warta sukacita. Para penginjil mengisahkan sebuah sukacita. Natal bukanlah sebuah keluhan tentang ketidakadilan sosial, tentang kemiskinan, namun adalah warta sukacita. Natal adalah sukacita, sukacita rohani, sukacita Allah, sukacita batin, sukacita karena terang dan kedamaian. Ketika orang tidak memiliki kapasitas atau berada di dalam situasi manusiawi yang tidak memungkinkannya memahami sukacita ini, dia merayakan pesta itu dengan kegembiraan duniawi.”

Sukacita itulah juga yang disampaikan dalam Bacaan Injil hari ini. Ketika mereka melihat Bayi Yesus di dalam palungan, para gembala mewartakan kabar sukacita mulia kelahiran Yesus sang Putera.

Satu catatan yang diberikan Romo Gianto SJ. Disebutkan dalam ay. 15 “… gembala-gembala itu berkata satu kepada yang lain, ‘Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat ….'” Kita diajak oleh para gembala yang telah menyaksikan kebesaran Tuhan untuk ikut pergi mencarinya “di Betlehem”, di tempat yang kita semua tahu, yang dapat dicapai, bukan di negeri antah-berantah sana. Tak lain tak bukan ialah pergi mendapati dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau siapa saja – di “Betlehem” – boleh jadi dalam diri orang yang kita cintai, boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, dalam diri orang-orang yang membutuhkan kedamaian, atau juga dalam diri kita sendiri yang diajak ikut menghadirkannya. Ini bisa memberi arah baru dalam kehidupan. Betlehem bisa bermacam-macam wujudnya, namun satu hal sama. Di situlah Tuhan diam menantikan orang datang menyatakan simpati kepada-Nya.

Para gembala dengan sukacita mengajak kita ke Betlehem kita masing-masing untuk melihat sukacita itu dan memberitakan sukacita itu pula. Dan sukacita itu adalah bahwa kita telah menerima Yesus.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Semoga Tubuh dan Darah Kristus ini baik bagi anak-anak yang komuni pertama atau orang tua yang sudah selalu menyambutNya sungguh menyadari bahwa kita menjadi apa yang kita terima yakni Kristus sendiri yang kelahiranNya dengan penuh sukacita kita rayakan hari ini.

Anak-anak, lihatlah Yesus menyelipkan roti ke tanganMu, bahkan masuk ke dalam diriMu. Dan ini pengalaman sukacita dan hadiah Natal terindah untukmu.

Semoga anak-anak dan kita semua membagikan pengalaman sukacita ini sama seperti para gembala yang mewartakan pengalaman berjumpa dengan Bayi Yesus. Semoga kita mampu menjadi roti hidup bagi sesama. Kita menjadi darah yang tercurah bagi sesama.

Marilah kita memberikan hadiah terindah untuk bayi Yesus, yakni diri kita sendiri. Semoga makin hari kita makin hidup dalam pengharapan dan kelembutan hati. Mari kita menemukan sukacita dan mengajak orang lain menemukannya di Betlehem kita masing-masing. Selamat Natal! Tuhan memberkati. Amin.

 

(Ini adalah catatan kotbah yang saya sampaikan pada 25 Desember 2013 di paroki Soroako, Sul-Sel).

Kotbah Paus Fransiskus pada Pembukaan WYD Rio 2013

paus

Dua hari lalu Paus Fransiskus merayakan 44 tahun imamat-nya. Aku masih ingat perjumpaanku dengan beliau, walau dengan jarak satu meter, tiga meter sampai hanya bisa melihatnya di screen. Tapi kesuciannya sampai merasukiku bahkan semua orang yang ada di situ. Adalah kebahagiaan ketika mendengarkan kotbahnya, suaranya yang lantang, wajahnya yang penuh sukacita, sapaannya yang personal, dialog yang hidup, dan pesan hidup yang amat mendalam.

Selama beberapa hari ke depan, aku ingin membagikan beberapa kotbah beliau selama WYD Rio 2013.

Dear Young Friends,

Good evening! In you I see the beauty of Christ’s young face and I am filled with joy. I recall the first World Youth Day on an international level. It was celebrated in 1987 in Argentina, in my home city of Buenos Aires. I still cherish the words of Blessed John Paul II to the young people on that occasion: “I have great hope in you! I hope above all that you will renew your fidelity to Jesus Christ and to his redeeming Cross” (Address to Young People, Buenos Aires, 11 April 1987).

Before I continue, I would like to call to mind the tragic accident in French Guiana in which young Sophie Morinière was killed and other young people were wounded. I invite all of you to observe a minute’s silence and to pray for Sophie, for the wounded, and for their families.

This year, World Youth Day comes to Latin America for the second time. And you, young people, have responded in great number to the invitation extended by Pope Benedict XVI to celebrate this occasion. We express to him our heartfelt thanks. I am looking at the large crowd before me – there are so many of you! And you have come from every continent! In many cases you have come from afar, not only geographically, but also existentially, culturally, socially and humanly. But today you are all here, or better yet, we are all here together as one, in order to share the faith and the joy of an encounter with Christ, of being his disciples. This week Rio has become the centre of the Church, its heart both youthful and vibrant, because you have responded generously and courageously to the invitation that Christ has made to you to be with him and to become his friends.

The train of this World Youth Day has come from afar and has travelled across all of Brazil following the stages of the project entitled “Bota fé – put on faith!” Today the train has arrived at Rio de Janeiro. From Corcovado, Christ the Redeemer embraces us and blesses us. Looking out to this sea, the beach and all of you gathered here, I am reminded of the moment when Jesus called the first disciples to follow him by the shores of Lake Tiberias. Today Christ asks each of us again: Do you want to be my disciple? Do you want to be my friend? Do you want to be a witness to my Gospel? In the spirit of The Year of Faith, these questions invite us to renew our commitment as Christians. Your families and local communities have passed on to you the great gift of faith, Christ has grown in you. I have come today to confirm you in this faith, faith in the living Christ who dwells within you, but I have also come to be confirmed by the enthusiasm of your faith!

I greet you with great affection. To all of you assembled here from the five continents and, through you, to all young people of the world, and in particular to those who have not been able to come to Rio de Janeiro but who are following us by means of radio, television and internet, I say: Welcome to this immense feast of faith! In several parts of the world, at this very moment, many young people have come together to share this event: let us all experience the joy of being united with each other in friendship and faith. And be sure of this: my pastoral heart embraces all of you with universal affection. From the summit of the mountain of Corcovado, Christ the Redeemer welcomes you to this beautiful city of Rio!

I wish to extend greetings to the President of the Pontifical Council for the Laity, the dear and tireless Cardinal Stanisław Ryłko, and to all who work with him. I thank Archbishop Orani João Tempesta, of São Sebastião do Rio de Janeiro, for the warm welcome given to me and for the considerable work of preparation for this World Youth Day, together with the many Dioceses of this vast country of Brazil. I would also like to express my gratitude to all the national, state and local authorities and to those who have worked to make possible this unique moment of celebration of unity, faith and fraternity. Thank you to my brother Bishops, to the priests, seminarians, consecrated persons and the lay faithful that have accompanied the young from various parts of the world on their pilgrimage to Jesus. To each and every one of you I offer my affectionate embrace in the Lord.

Brothers and sisters, dear friends, welcome to the XXVIII World Youth Day in this marvellous city of Rio de Janeiro!

Jadi Guru itu “priceless”

Salah satu tanggungjawab yang saya emban saat ini adalah mencari, menyeleksi, mewawancarai dan memberi penugasan pada seorang guru. Jangankan memberi penugasan, mencari saja cukup sulit. Jangankan menyeleksi, ada saja sudah bersyukur. Ini fenomena yang amat eksistensial dan sungguh memprihatinkan. Pertanyaan yang cukup mengusikku, apakah profesi guru tidak menarik lagi bagi orang-orang zaman sekarang?

Sering kali muncul berita di TV tentang merosotnya pendidikan di Indonesia. Lalu diskusi dilakukan di mana-mana, semua orang pun dari yang berpendidikan sampai pada orang-orang yang terkadang hanya asal nyelethuk, banyak yang angkat bicara. Tapi adakah yang angkat tangan dan mengatakan ‘saya mau jadi guru’, atau sekurang-kurangnya mengatakan ‘saya mau terlibat dalam pendidikan? Saya mau ikut ambil bagian dalam mencerdaskan anak bangsa?’ Tak jarang orang menangis menyaksikan tontonan TV di mana banyak anak yang putus sekolah – karena tidak mampu secara ekonomi; karena harus membantu orang tua mencari penghasilan bahkan untuk bertahan hidup demi sesuap nasi; keadaan keluarga yang ambur radul atau karena keadaan sekolah yang hancur karena gedung roboh tak bisa diperbaiki atau karena ketaksanggupan membiayai guru -, tapi apa cukup dengan menangis? Tidak! Yang dibutuhkan setelah menangis, mau melakukan apa…

Mengapa orang-orang zaman sekarang tak lagi tertarik menjadi guru? Apa karena gaji guru yang sedikit? Apa karena status sosial guru yang tidak sejajar dengan pegawai perusahaan apalagi seorang manajer dan direktur?

Saya pun sepenuhnya sadar bahwa setiap orang tetap butuh ekonomi yang “cukup” untuk hidup; untuk membiayai keluarga; untuk menyekolahkan anak-anak. Dan memang sebagai guru, gaji yang diberikan tidak banyak namun kira saya masih cukup untuk hidup. Atau mungkin orang-orang sekarang lebih tertarik dengan gaya hidup yang dipamerkan di media, tentang keluarga bahagia punya rumah mewah, mobil yang jamani, semua gadget dll. Tapi apakah semua itu akan abadi? Apakah semua itu menjamin kebahagiaan?

Di mata dunia barangkali menjadi guru itu melarat; tidak membahagiakan. Namun pada saat seseorang menjadi guru – saya meminjam kata-kata Anies Baswedan – “Anda akan punya pengalaman dan itu bermakna seumur hidup. Anda punya saudara baru. Anda punya keluarga baru. Anda punya rumah baru. Dan Anda akan punya anak didik yang suatu saat akan kembali ke Anda, nulis sms, nulis email dan bilang: “terima kasih saya seperti ini karena dulu Anda hadir di desa saya menjadi guru.” Itu priceless, tidak bisa dihargai dengan rupiah karena yang kita tawarkan adalah kemuliaan. Anda pilih jadi guru satu tahun, pengalaman Anda, pendidikan yang Anda berikan itu bermakna bagi mereka, di desa itu, seumur hidup mereka.”

Memang profesi guru tidak menawarkan kekayaan dunia. Tetapi dia menawarkan sesuatu yang lebih mulia, lebih agung daripada kekayaan yakni kekayaan batin; dan kekayaan itu yang tak akan pernah habis dimakan ngengat, tak akan pernah hilang dicuri orang namun dia selalu terpatri kuat dan dalam. Dan sesungguhnya di sanalah kebahagiaan itu.

 

Jadi guru itu priceless!

 

sebuah “ruang”

Akhir-akhir ini aku suka merekam obrolan-obrolan kecilku dengan siapa saja yang kuanggap berharga, bernilai, bermakna walau singkat dan sederhana.

Kemarin, aku bersama seorang saudara jalan-jalan ke Purwodadi. Tak satu pun dari kami yang pernah menjejakkan kaki di sana. Maka tekad kami hanyalah ingin mengisi hari libur dengan jalan-jalan ke sana. Hanya itu. Dan kami nikmati perjalanan.

Cerita demi cerita menemani jalan-jalan kami. Kami mengobrolkan tentang sebuah “ruang”. Kusebut sebagai ruang karena rasanya tak ada sebutan yang bisa menggambarkannya dengan pasti. Obrolan kami itu berawal dari Habibie Ainun. Aku belum pernah menontonnya apalagi membaca novelnya. Ketika film itu booming di bioskop rasa-rasaku film itu biasa-biasa saja. Tapi (setelah diceritakan dan menontonnya sepulangjalan-jalan) ternyata ada yang tidak biasa dari film/kisah tersebut dan memang tidak layak disebut ‘biasa-biasa saja’.

images

Itu adalah kisah pasangan suami isteri. Siapapun yang menonton akan setuju kalau mereka, Habibie & Ainun, adalah pasangan yang menghidupi sungguh apa arti kesetiaan. Namun kesetiaan itu berujung pada sebuah rasa ketergantungan. Memang, suami isteri patutnya setia dan selalu bersama selamanya. Hidup tentu akan terasa bahagia, seperti bulan madu setiap hari. Namun ketika salah satu tulang rusuk itu harus diambil maka hidup seakan kehilangan maknanya; yang tersisa adalah sakit dan luka yang tak ada obatnya. Habibie kehilangan Aninun setelah beberapa waktu menderita kanker. Kepergian sang kekasih hidup seketika membuat hidup seakan tak layak dijalani. Hari-hari membekaskan bayangan akan Ainun. Bagaimana tidak, lima puluh tahun sudah mereka mengaruhi bahtera hidup. Pahit getirnya hidup telah ditelan bersama. Dan bukankah itu memang suatu proses alami sebagai manusia? Aku sempat berpikir mengapa orang disatukan lalu pada akhirnya dipisahkan? Bukankah ini ketidakadilan; ketika dua menjadi satu lalu diceraikan lagi, apa itu cukup adil?

Ini pergumulan. Aku saja yang tidak berkeluarga (atau belum…hehehe…) merasakan perpisahan itu sebagai salib yang berat dan amat memilukan. Namun karena hidup harus terus berjalan, Habibie perlu menerima kepergian Ainun. Ia harus merelakan kepergiannya dan secara jujur mengakuinya. Habibie memperlukan sebuah terapi untuk akhirnya bisa melepas kepergian. Terapi itu dijalani dengan menuliskan semua pengalaman hidupnya bersama Ainun. Dengan itu dia melepaskan segala beban yang belum membuatnya lepas bebas menjalani hari-harinya semenjak kepergian Ainun. Itulah terapi yang pelan-pelan membuatnya bisa menerima kenyataan ini.

Ragam perspektif dapat dipakai untuk menonton/mengamat-amati persitiwa ini. Namun kami pilih melihatnya dari kata ‘terapi’. Ketika seseorang berada dalam pergumulan hidup – mengalami krisis yang tampak tak berkesudahan yang membuat hidup seakan tak layak lagi dijalani – ia perlu masuk ke sebuah “ruang”. Sekali lagi aku merasa tak ada sebutan yang amat pas untuknya selain itu. Sebuah “ruang” yang kumaksud adalah saat di mana seseorang hening, secara jernih melihat hidupnya, meneliti krisisnya. Di dalam “ruang” itu dia berjumpa dengan dirinya sendiri. Pasti ada banyak penolakan, pemberontakan. Ketika itu kami merasa beruntung bahwa sebagai jesuit kami diajarkan untuk selalu menyediakan waktu hening. Dalam situasi itu, kami diajari untuk secara bening melihat jejak pengalaman yang telah lalu, selanjutnya belajar membuat peta di hari kemudian. Kami diajari menerima dengan lepas bebas dan bahkan selalu berusaha menempatkan rasa syukur. Kukatakan ini bukan hal mudah. Namun kukatakan pula mungkin ini jalan terbaik karena tokh tak ada orang yang bisa sedemikian mengerti betapa hancurnya hidup yang dijalani, betapa beratnya krisis yang menerpa. Ini pergumulan.

Ketika berada pada situasi pergumulan hebat; daya tak lagi ada; … Di sanalah seseorang perlu masuk ke dalam “ruang” tersebut. Kalau Habibie masuk ke dalam ruang terapi dengan menuliskan perziarahan rumah tangganya bersama Ainun – dan dengan itu dia pelan-pelan nan pasti melepaskan segala yang menghambatnya untuk tulus menerima ketiadaan Ainun- maka sebagai Jesuit ruang terapi itu situasi hening dan bening meneliti hidup, mencecap-cecap segala yang dialami.

Ada saat di mana seseorang bergumul sampai seakan-akan berada di akhir batas dayanya. “Ruang” – di mana seseorang sendiri dan yang ada hanya keheningan – membantu untuk melihat segala menjadi lebih jelas dengan mata yang baru. Pahit getir pergumulan dan pencarian dicerahkan dalam “ruang” itu. Inilah proses beriman itu, selalu bergumul, selalu ada kegelisahan dan seseorang diajak untuk terus mencari dan mencari. Ia tak pernah mapan.

Entah,

“the voice that calls within”…

Akhir-akhir ini aku memang amat sibuk dengan tugas-tugasku yang baru. Bangun pagi-pagi, ikut Misa lalu sarapan dan bergegas berangkat kerja. Kadang aku pulang sore kadang juga teramat sore. Dan yang kubawa pulang adalah rasa capek disertai pikiran tentang kelanjutan tugas di hari esok. Aku belum pernah merasa sedemikian lelah yang berkelanjutan. Aku ingin setiap kali pulang langsung saja menjatuhkan diri di bantal, tidur sampai esok. Tak usah mandi, pun makan. Tidur sudah sangat berharga bagiku. Aku tidak stres, hanya lelah saja. Boleh jadi karena shock juga dengan keadaan baru.

Suatu waktu aku bercerita dengan seorang saudara, membagikan secuil pengalaman yang kudapatkan di tempat baruku ini termasuk tentang kisah ini. Sungguh pun aku tahu ini masih sangat awal. Aku tak menduga kalau cerita-cerita kecil ini membawa suatu peneguhan bagiku. Maka amat sayang jika diskusi-diskusi rohani ini tidak kutuliskan. Ini berharga karena meneguhkan.

Setelah kami saling bertukar cerita, saudaraku itu menanggapi: “Daftar tugasnya banyak ya! Dalam semua itu semoga ora lali sembahyang lan bimbingan rohani. Dan semoga semakin mengalami kebenaran bahwa dari sisi tugas dan pekerjaan, menjadi jesuit itu akan membawa kita tidak akan pernah kekurangan pekerjaan. Tetapi akumulasi tugas dan pekerjaan sendiri tidak dengan sendirinya menentukan kejesuitan kita.” Entah mengapa, tapi semua yang dikatakan itu tepat mengena diriku.

Beberapa waktu terakhir, aku memang banyak bergulat dengan hidup rohani. Bahkan, dalam beberapa kesempatan aku banyak bertanya pada Tuhan. Mengapa ada orang yang punya relasi intim dengan Tuhan? Mengapa mereka sedemikian kuat meyakini bahwa panggilan yang mereka jalani adalah pilihan tepat bagi mereka? Aku heran. Tapi aku juga iri. Aku iri karena kekokohan pondasi panggilan mereka. Sehingga ketika ada badai yang coba menggoyangkan ia tetap berdiri tegap. Aku iri karena aku tak memiliki kekokohan yang demikian. Aku iri karena relasiku dengan Tuhan seakan-akan hanya berjalan biasa-biasa saja. Aku iri dengan keintiman mereka bersama Tuhan. Aku juga ingin memiliki keyakinan yang sama. Aku juga ingin memiliki pengalaman yang sama, sehingga kalau datang badai aku tidak goyah karena aku kuat berdiri; karena aku punya pengalaman yang sungguh menguatkanku sebagaimana dengan pengalaman yang dimiliki saudara-saudaraku. Maka, kutanyakan kepada Tuhan, apa yang mesti kubuat agar aku juga bisa seperti mereka? Apa yang harus kubuat agar makin hari relasiku dengan Tuhan makin dekat, akrab dan kokoh? Apa selama ini aku kurang berdoa? Ataukah aku yang “kurang mendalam” merefleksikan pengalaman hidupku? Sungguh, Engkau tahu ya Tuhan bahwa aku juga mau dan berhasrat memiliki keyakinan dan kekokohan iman yang sama seperti mereka; iman yang yakin akan jalan keterpanggilan ini.

Saudaraku menyambungnya: “Kerinduanmu untuk berdoa dan mengalami percakapan rohani itu pasti dari kendalaman yang sering disebut “the voice that calls within”. Tak ada kata terlambat untuk selalu melangkah maju dalam kedekatan dengan Tuhan supaya menjadi saluran rahmat-nya. Tidak ada kebenaran rohani “menghidupi doa di tengah kesibukan karya” tanpa secara pribadi menyedikan waktu konkret berdoa. Apalagi untuk kita, yang masih banyak kelemahan. Dan dalam hal ini kita bisa berpikir praktis dan sederhana: sediakan waktu dan disiplin serta committed dengan rencana tersebut.

Kusadari, seringkali ungkapan bagus menemukan Tuhan dalam segala atau contemplativus in actione menjadi penghiburan semu yang membenarkanku untuk tidak secara konkret dan teguh mengusahakan waktu doa, membangun keakraban dengan Tuhan; atau bahkan menjadi sekedar wacana saleh untuk mengurangi rasa bersalah yang benar di ruang terdalam nurani ini.

I think I’ll follow the voice that calls within
Dance to the silent song it sings
I hope to find my place
So my life can fall in place
I know in time I’ll find my place
In the greater scheme of things

Evening Meditation

Life is hard. Full of difficult challenges. And hard choices. But even though you can’t see it, and even if you don’t feel it, God is always with you. Helping you. Trust that God is with you and will help you face your struggles and make good and life-giving decisions. [James Martin SJ]

Aku masih mencintaimu

Keinginan Bartimeus hanyalah sederhana namun eksistensial bagi dirinya. Dia menginginkan kesembuhan, dan persis bahwa keinginan itulah yang mengantarnya untuk memperolehnya.

Iri aku dengan Bartimeus. Mengapa imannya begitu kuat dasarnya. Juga dengan orang-orang, saudara-saudaraku yang punya keintiman relasi yang mengokohkan hidupnya juga, setidaknya membuat mereka yakin dengan apa yang dijalaninya. Sirik aku dengan mereka.

Sudah kukatakan aku ragukan semua mimpi mulia nan heroik yang pernah ada. Barangkali aku akan mendapatnya, tapi aku ragukan juga diriku yang menjalaninya. Aku ragukan kesiapanku, aku cemaskan kesetiaanku, aku takutkan kekuatanku. Melihat samudera dengan gelombang badai dahsyat, padang gurun kering membakar, bukit dengan tanjakan penuh kerikil; sewaktu-waktu batu besar bisa menjatuhimu dari atas. Aku ragukan apakah aku bisa. Jujur, aku tak mau jatuh pada lubang yang sama di mana orang, pendahuluku juga jatuh. Aku ragu, cemas, takut.

Di sinilah aku Tuhan, berdiri lunglai, tak berdaya dan tak kuat lagi. Maka, jika Bartimeus memiliki keinginan untuk sembuh bahkan aku rasa aku tak punya keinginan semacam itu untuk diriku.

Ignatius bahkan menurunkan level pertanyaannya apakah kau punya keinginan untuk menginginkannya?

Well, kujernihkan hati dan budiku, kumantapkan jalan yang harus kulewati. Ingin rasanya kujauhkan mimpi yang pernah ada dan kubuang jauh biar yang baru datang lagi dan kurajut kisah bersamanya. Sulit. Mimpi yang sama masih membayangiku, samar-samar memang tapi ada. Mimpi itu masih bersuara, lirih memang tapi ada. Dia undang aku untuk mencapainya, dia undang aku berbulan madu bersamanya. Sulit.

Aku lelah dan menyerah. Kau luar biasa jauh melebihi yang terpikirkan. Sampai-sampai, aku harus akui bahwa rasa itu masih ada. Dan dengan malu-malu pula kukatakan dari hati terdalamku “aku masih mencintaimu”. Aku tak tahu sampai kapan; tak tahu pula sampai di mana kubisa berdiri tegar memanggul salib hidupku; salib yang kuyakini membawaku sampai pada kemuliaan. Yang kutahu bahwa “aku masih ada rasa denganmu; aku masih ingin melanjutkan kisah kita karena aku masih mencintaimu.”

Jadi!

Apa yang Kau Inginkan?

Kita memang pernah bercerita tentang masa yang akan datang. Kala itu, kita bagikan segala mimpi yang akan kita cengkeram sekuat daya kita. Kau kisahkan mimpimu, begitupun aku.

Entah, kau masih ingat atau tidak. Kobaran api yang meluap-luap saat kita kontemplasi tentang dunia ini. Tentang saat di mana kita terjun dan masuk ke setiap sudut dunia, setiap relung hati yang butuh penyembuhan. Kita begitu terpesona dengan keberanian para misionaris. Memang kita tidak bermimpi jadi misionaris. Tapi semangatnya yang menyala, membara yang membakar semangat kita sampai kita berkobar-kobar.

Di mata dunia, kita mungkin termasuk orang-orang yang fuga mundi (lari dari dunia). Apa yang kau cari? Apa yang kau inginkan? Begitu tanya banyak orang. Apa mereka tidak tahu tentang panggilan? Apa mereka tidak pernah melihat orang-orang seperti kita? Atau apakah kita seperti orang-orang gila, orang bodoh yang mau hidup sedemikian berbeda? Dan apakah jalan hidup yang kita lakoni ini sungguh berbeda? Padahal kita juga hidup apa adanya manusia, makan, minum, ingin itu-ini, ke sana-sini. Semua ada dan tak pernah dimatikan.

Apa gunanya memperoleh seluruh dunia jika kehilangan nyawa? Itu yang sedemikian mengobarkan Xaverius kala itu. Maka dia berlayar ke Timur. Kisah-kisah seperti itu yang menginspirasi untuk maju terus.

Setiap orang punya jalan sendiri. Karena hidup ini sungguh personal, dijalani dengan diri sendiri pula. Memang kita tak pernah akan selalu bersama, dengan siapa pun. Perjumpaan yang lebih banyak adalah perjumpaan dengan diri sendiri. Maka kau harus mampu terima itu. Namun, keyakinan akan suatu kebahagiaan karena jiwa yang dipuaskan terus mendorong kaki ini melangkah. Tersandung sesekali. Yah…hanya luka sedikit. Maju lagi. Begitu seterusnya, tahap demi tahap. Dan setiap tahap ada kisahnya sendiri.

Namun pada satu titik kita berhenti dan mulai menanyakan semua yang telah lalu sambil menatap ke masa yang akan datang. Apa yang kau inginkan? Akkhhh…sulit rasanya menjawab pertanyaan itu. Ternyata, diam-diam aku ragukan mimpi itu; mimpi yang pernah kita kisahkan indah, hebat, heroik.

Pertanyaan itu terasa menuntut untuk dijawab, Apa yang kau inginkan? Lukas mengabarkan bahwa Bartimeus menjawabnya “Guru, biarlahkanlah aku melihat kembali”.

Lalu?