Mengapa Anda Menjalani Hidup Ini?

Tema ini seringkali menjadi pertanyaan oleh banyak orang. Beberapa mungkin akan menjawab dengan mantap. Tak jarang juga ada yang merasa galau dengan pertanyaan itu. Tapi, kegalauan itu barangkali sekaligus menjadi tanda pencarian jawaban atasnya. 

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka secara singkat akan saya jawab, saya menjalani hidup saya yang sekarang ini karena cinta. Karena cinta itu pula saya berani memilih berjerih payah demi memperjuangkan cinta saya itu.

Cinta ini yang meyakinkan saya untuk menjalani hidup yang saya jalani sekarang, paling tidak sampai saat ini. Saya katakan sampai saat ini karena masa depan adalah misteri, yang bukan tanpa harapan. Soal masa depan, siapa sih yang tahu, apa lagi merasa yakin, selain Tuhan? Maka persoalannya bukan saya yakin dengan jalan yang saya hidupi ini, bahwa saya akan tetap di jalani ini seterusnya, tetapi keberanian untuk mengambil dan menjalaninya; keberanian untuk memilih jalan mana yang harus saya tempuh. Satu-satunya keniscayaan adalah kasih Tuhan yang tiada berkesudahan.

Saya hanya berharap, jika cinta ini luntur bahkan padam, saya ingin sekali dan akan merindukan memohon supaya bisa jatuh cinta lagi.

 

Advertisements

Yang Lumrah – Yang Sementara

Kita hidup di dunia yang dibentuk oleh media untuk terpukau hal-hal yang tak biasa. Kita menengok ke sekitar dan pasar membujuk kita terpikat benda-benda yang tak lumrah karena dikemas. Dan yang sehari-hari, yang tak dikemas, pun jadi datar. Rasa bosan, tanpa selalu disadari, menyusup. Kita pun terus menerus mencari cara membebaskan diri dari yang banal. Yang banal menjemukan.

Tapi kejemuan adalah sejenis bunuh diri yang lambat. Ia dimulai ketika orang tak menemukan arti dalam hal-hal yang tak bisa kekal, benda yang sepele, laku yang sederhana-sementara justru hal dan benda yang sedemikian itu yang merupakan bagian langsung kehidupan.

Dalam film ‘Before Sunrise’ yang tak terlupakan justru karena hal tentang saat-saat yang lumrah, sementara, tentang hal 12 jam yang tanpa drama dalam hidup dua orang yang tak sengaja bertemu dan tak punya tujuan tertentu.

Jesse naik kereta di Budapest menuju Wina dari mana ia akan terbang kembali ke Amerika, dan Celine menuju Paris, kembali kuliah. Dalam gerbong itu mereka terlibat dalam percakapan, dan makin lama makin merasa percakapan itu menyenangkan. Maka Celine setuju turun di Wina sampai esok paginya, sampai pada pukul 09.30 saat Jesse dengan Austrian Airlines kembali ke Amerika.

Jesse tak punya cukup uang untuk menginap di hotel; mereka memutuskan untuk hanya berjalan sepanjang malam menyusuri kota. Berjalan, bercakap-cakap, minum di kafe, berbaring di taman, berciuman, tapi tak lebih. Mereka tahu beberapa jam lagi mereka tak akan saling melihat. Mereka takut akan saling kehilangan.

Pertemuan itu begitu sementara. Anehnya kita, yang mengikutinya, justru tersentuh oleh apa yang sementara. Percakapan itu begitu biasa, tapi kita pelan-pelan tahu bahwa yang lumrah itu justru istimewa.

Jesse: Aku pikir benar sekali, maksudku, semua hal-setiap hal-tak bisa kekal. Tapi kamu juga tahu kan, itu yang membuat waktu kita, di saat-saat tertentu, begitu penting?

Celine: Yah, aku tahu. Tapi itu kan seperti kita malam ini. Sehabis besok pagi, kita mungkin tak akan pernah ketemu lagi…

Pagi datang dan mereka tak menangis. Hidup selalu terdiri atas pelbagai selamat tinggal. Tapi bukan kematian.

 

Tulisan ini disadur langsung dari tulisan Goenawan Mohamad berjudul “Lumrah” dimuat di TEMPO, 30 Maret 2014.

Jadi Guru itu “priceless”

Salah satu tanggungjawab yang saya emban saat ini adalah mencari, menyeleksi, mewawancarai dan memberi penugasan pada seorang guru. Jangankan memberi penugasan, mencari saja cukup sulit. Jangankan menyeleksi, ada saja sudah bersyukur. Ini fenomena yang amat eksistensial dan sungguh memprihatinkan. Pertanyaan yang cukup mengusikku, apakah profesi guru tidak menarik lagi bagi orang-orang zaman sekarang?

Sering kali muncul berita di TV tentang merosotnya pendidikan di Indonesia. Lalu diskusi dilakukan di mana-mana, semua orang pun dari yang berpendidikan sampai pada orang-orang yang terkadang hanya asal nyelethuk, banyak yang angkat bicara. Tapi adakah yang angkat tangan dan mengatakan ‘saya mau jadi guru’, atau sekurang-kurangnya mengatakan ‘saya mau terlibat dalam pendidikan? Saya mau ikut ambil bagian dalam mencerdaskan anak bangsa?’ Tak jarang orang menangis menyaksikan tontonan TV di mana banyak anak yang putus sekolah – karena tidak mampu secara ekonomi; karena harus membantu orang tua mencari penghasilan bahkan untuk bertahan hidup demi sesuap nasi; keadaan keluarga yang ambur radul atau karena keadaan sekolah yang hancur karena gedung roboh tak bisa diperbaiki atau karena ketaksanggupan membiayai guru -, tapi apa cukup dengan menangis? Tidak! Yang dibutuhkan setelah menangis, mau melakukan apa…

Mengapa orang-orang zaman sekarang tak lagi tertarik menjadi guru? Apa karena gaji guru yang sedikit? Apa karena status sosial guru yang tidak sejajar dengan pegawai perusahaan apalagi seorang manajer dan direktur?

Saya pun sepenuhnya sadar bahwa setiap orang tetap butuh ekonomi yang “cukup” untuk hidup; untuk membiayai keluarga; untuk menyekolahkan anak-anak. Dan memang sebagai guru, gaji yang diberikan tidak banyak namun kira saya masih cukup untuk hidup. Atau mungkin orang-orang sekarang lebih tertarik dengan gaya hidup yang dipamerkan di media, tentang keluarga bahagia punya rumah mewah, mobil yang jamani, semua gadget dll. Tapi apakah semua itu akan abadi? Apakah semua itu menjamin kebahagiaan?

Di mata dunia barangkali menjadi guru itu melarat; tidak membahagiakan. Namun pada saat seseorang menjadi guru – saya meminjam kata-kata Anies Baswedan – “Anda akan punya pengalaman dan itu bermakna seumur hidup. Anda punya saudara baru. Anda punya keluarga baru. Anda punya rumah baru. Dan Anda akan punya anak didik yang suatu saat akan kembali ke Anda, nulis sms, nulis email dan bilang: “terima kasih saya seperti ini karena dulu Anda hadir di desa saya menjadi guru.” Itu priceless, tidak bisa dihargai dengan rupiah karena yang kita tawarkan adalah kemuliaan. Anda pilih jadi guru satu tahun, pengalaman Anda, pendidikan yang Anda berikan itu bermakna bagi mereka, di desa itu, seumur hidup mereka.”

Memang profesi guru tidak menawarkan kekayaan dunia. Tetapi dia menawarkan sesuatu yang lebih mulia, lebih agung daripada kekayaan yakni kekayaan batin; dan kekayaan itu yang tak akan pernah habis dimakan ngengat, tak akan pernah hilang dicuri orang namun dia selalu terpatri kuat dan dalam. Dan sesungguhnya di sanalah kebahagiaan itu.

 

Jadi guru itu priceless!

 

Apa yang Kau Inginkan?

Kita memang pernah bercerita tentang masa yang akan datang. Kala itu, kita bagikan segala mimpi yang akan kita cengkeram sekuat daya kita. Kau kisahkan mimpimu, begitupun aku.

Entah, kau masih ingat atau tidak. Kobaran api yang meluap-luap saat kita kontemplasi tentang dunia ini. Tentang saat di mana kita terjun dan masuk ke setiap sudut dunia, setiap relung hati yang butuh penyembuhan. Kita begitu terpesona dengan keberanian para misionaris. Memang kita tidak bermimpi jadi misionaris. Tapi semangatnya yang menyala, membara yang membakar semangat kita sampai kita berkobar-kobar.

Di mata dunia, kita mungkin termasuk orang-orang yang fuga mundi (lari dari dunia). Apa yang kau cari? Apa yang kau inginkan? Begitu tanya banyak orang. Apa mereka tidak tahu tentang panggilan? Apa mereka tidak pernah melihat orang-orang seperti kita? Atau apakah kita seperti orang-orang gila, orang bodoh yang mau hidup sedemikian berbeda? Dan apakah jalan hidup yang kita lakoni ini sungguh berbeda? Padahal kita juga hidup apa adanya manusia, makan, minum, ingin itu-ini, ke sana-sini. Semua ada dan tak pernah dimatikan.

Apa gunanya memperoleh seluruh dunia jika kehilangan nyawa? Itu yang sedemikian mengobarkan Xaverius kala itu. Maka dia berlayar ke Timur. Kisah-kisah seperti itu yang menginspirasi untuk maju terus.

Setiap orang punya jalan sendiri. Karena hidup ini sungguh personal, dijalani dengan diri sendiri pula. Memang kita tak pernah akan selalu bersama, dengan siapa pun. Perjumpaan yang lebih banyak adalah perjumpaan dengan diri sendiri. Maka kau harus mampu terima itu. Namun, keyakinan akan suatu kebahagiaan karena jiwa yang dipuaskan terus mendorong kaki ini melangkah. Tersandung sesekali. Yah…hanya luka sedikit. Maju lagi. Begitu seterusnya, tahap demi tahap. Dan setiap tahap ada kisahnya sendiri.

Namun pada satu titik kita berhenti dan mulai menanyakan semua yang telah lalu sambil menatap ke masa yang akan datang. Apa yang kau inginkan? Akkhhh…sulit rasanya menjawab pertanyaan itu. Ternyata, diam-diam aku ragukan mimpi itu; mimpi yang pernah kita kisahkan indah, hebat, heroik.

Pertanyaan itu terasa menuntut untuk dijawab, Apa yang kau inginkan? Lukas mengabarkan bahwa Bartimeus menjawabnya “Guru, biarlahkanlah aku melihat kembali”.

Lalu?

OASIS

If you feel like being in the desert, perhaps you need to consider this quotation sent by my brother.

“Sometimes those desert lines are simply the only way to the next oasis, which is far more lush and beautiful after the desert crossing that it could possibly have been without… The nest oasis is always better and deeper!”