Panggilan: Memperjuangkan Cinta

 

Bapak-ibu, saudara-saudari terkasih selamat pagi… Bagaimana kabarnya? Sehat-sehat? Alhamdulliah…

Bapak-ibu saudara-saudari terkasih, pagi ini saya merasa cukup yakin bahwa sebagian besar dari Anda bertanya-tanya siapa gerangan yang sedang berdiri di depan? Maka baiklah saya pertama-tama memperkenalkan diri. Biasanya, salah satu pertanyaan yang sangat sering ditanyakan orang di awal perjumpaan adalah “aslinya mana?” Kalau saya ditanyain seperti itu, maka saya balik bertanya, “kira-kira dari mana?” Nah, yang cukup menarik adalah muncul beberapa jawaban. Ketika saya masih di Girisonta beberapa tahun lalu, orang-orang di stasi seringkali menjawab: “Frater dari Jakarta ya”? Ketika saya sudah di Jakarta dan bahkan di Semarang sini, orang-orang menanyakan hal yang sama “Frater dari mana?” Sebagian besar menjawab “pasti dari Jogja ya”. Saya jawab “bukan”. Beberapa lainnya menjawab “dari Solo”. Lalu saya jawab: “betul, saya dari Solo… maksud saya Solo-esi.” Mungkin kalau orang tahu nama saya maka orang akan meragukan “ke-Jawa-an” saya dan mulai bertanya-tanya sepertinya saya bukan dari daerah Jawa, dan pelan-pelan membenarkan bahwa saya dari Sulawesi. Sebab nama saya adalah “Melky”, lengkapnya Bonifasius Melkyor Pando. Saat ini saya sedang menjalani masa Tahun Orientasi Kerasulan di Yayasan Kanisius bagian Pendidikan. Selama menjalani masa TOK ini saya tinggal di paroki Gedangan ini, sudah sejak Agustus tahun lalu.

 

Minggu Panggilan

Bapak-ibu, saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja universal merayakan “Hari Minggu Panggilan”. Untuk itulah saya berdiri di depan Anda saat ini. Maka secara lugas pertanyaan yang bisa mengantar sharing saya pada kesempatan ini adalah mengapa saya tertarik menjadi imam/Romo?

Panggilan menjadi Imam

Pertanyaan ini makin relevan untuk ditanyakan kalau melihat latar belakang keluarga saya: kami tidak punya keluarga dekat yang menjadi imam, bruder ataupun suster. Semakin relevan lagi kalau melihat latar pendidikan saya karena saya hanya sekali saja sekolah di luar negeri. Maksudnya kebanyakan di negeri. Mungkin kalau di dekat rumah saya ada SMP Kanisius Yoris, maka saya akan masuk ke Yoris (promosi SMP Kanisius Yoris yang tugas koor hari ini…:). Kenapa karena muridnya aktif-aktif, gurunya yang semangat dan dedikasinya sangat tinggi.

Lalu dari mana panggilan menjadi imam itu muncul? Saya juga pernah merasa heran, kok saya yang ganteng (hahaha…J) ini mau-maunya jadi Romo ya. Padahal nanti nggak punya istri, pasangan hidup, tempat berbagi, nggak punya keturunan, nggak ada yang masakin, nggak ada yang pijet kalau capek pulang kerja dll.

Kalau saya refleksikan lagi, bagi saya, pengalaman-pengalaman sederhana yang membuat saya tertarik menjadi imam. Beberapa pengalaman: dulu waktu kecil ibu saya selalu mewajibkan anak-anaknya untuk ikut sekolah minggu. Maka ikutlah saya. Karena kakak-kakak saya juga aktif, maka saya juga ikut-ikutan. Saya ikut sekolah minggu, lalu misdinar, pencak silat THS. Pengalaman aktif ini membuat saya banyak bertemu dengan romo. Saya melihat romo itu bisa dekat dengan siapa-saja: dari anak kecil, remaja, mudika, orang tua sampai orang sepuh bisa dekat. Itu pengalaman yang cukup menarik bagi saya. Pengalaman lain, saya sering melihat romo itu dibawain makanan sama umat. Maka selain tertarik karena romo bisa dekat dengan siapa saja, ketika itu pikiran saya sebagai anak kecil wah kalau jadi Romo nanti akan dapat banyak makanan. Paling tidak pengalaman dengan ibu saya dalam beberapa kesempatan sering memasakkan makanan buat romo. Selain itu, pakaiannya selalu dicuciin dan disetrikain daripada saya nyusahin ibu untuk nyuci dan nyetrika.

Itulah beberapa pengalaman awal saya berjumpa dengan Romo. Seiring perjalanan waktu, ketertarikan itu juga pudar. Namun ketika saya SMP dan sebentar lagi akan lulus maka saya merasa tertarik untuk masuk Seminari. Sebenarnya ada agenda lain juga. Dengan masuk seminari saya bisa pergi dari rumah. Lalu saya coba tes masuk dan akhirnya diterima. ketika itu hanya saya seorang diri dari paroki yang masuk seminari. Saya tidak kenal siapapun di dalam dan tidak tahu cara hidupnya seperti apa.

Seiring perjalanan waktu saya merasa menemukan panggilan itu. Saya pelan-pelan menikmati cara hidup yang seperti ini. Atau dalam istilah anak-anak sekarang “this is it”. Saya pelan-pelan membangun dasar panggilan dengan menjalin relasi dengan Yesus. Cinta akan Yesus pelan-pelan saya bangun dengan hidup rohani dan ini saya dapatkan waktu di Seminari.

 

Panggilan menjadi Jesuit

Lalu mengapa saya tertarik masuk Jesuit? Ketika di Seminari saya suka sastra. Nah setiap kali masuk perpustakaan saya selalu melihat banyak penulis itu adalah Jesuit. Maka saya tertarik menjadi Jesuit karena ingin menjadi penulis. Walaupun dalam perkembangan ketertarikan ini memudar bahkan hilang sama sekali. Keinginan lain karena Jesuit itu dikenal pintar/pandai-pandai-terkenal. Prinsip saya sebagai orang muda, saya ingin menjadi bagian dari mereka.

Lalu dari seminari saya mendaftar untuk masuk ke serikat Yesus. Waktu itu lagi-lagi saya seorang diri saja. Kami tes ber-18 dan yang diterima 9 orang. Sampai sekarang kami masih ber-6. Ketika masuk ke serikat Yesus saya merasa motivasi saya sebelumnya pelan-pelan diruntuhkan dan dibangunlah motivasi yang mendasar dan lebih kokoh. Saya ingat salah satu pertanyaan St. Ignatius Loyola kepada St. Fransiskus Xaverius: “apa gunanya memperoleh seluruh dunia jika kehilangan jiwamu”. Kita tahu bahwa Xaverius orang yang sangat ambisius untuk menaklukkan dunia. Dia orang cerdas dan punya misi untuk mempertahankan keharuman nama keluarganya. Saya merasa memiliki pengalaman yang senada. Impian awal saya juga ingin menjadi orang yang dikenal, bagian dari orang-orang pintar dll. Saya berefleksi kalau saya mau mengikuti Yesus mengapa pertimbangan-pertimbangan dasar saya sangat bersifat duniawi? Kalau mau ikut Yesus ya harus total dan menanggalkan keduniawian. Tapi tentu totalitas ini tidak mengingkari kemanusiawian.

Oom saya pernah mengatakan: “kalau saya jadi kamu saya akan memilih ‘ordo/kongkregasi’ yang tidak jauh, sehingga masih bisa sering pulang berjumpa dengan keluarga. Namun bagi saya, yang terpenting adalah mengikuti Yesus. Saya merasa bahwa dengan meilih masuk Serikat Yesus, saya akan lebih mengikuti Yesus secara lebih total, tidak setengah-setengah. Tidak mengatakan bahwa keluarga tidak penting. Tentu sangat penting dan berpengaruh pada panggilan. Namun saya merasa justru mengikuti Yesus secara lebih total saya merasa mendapat banyak keluarga baru. Anda semua menjadi keluarga baru bagi saya.

Salah satu ketertarikan lain adalah pamflet promosi Jesuit: Pendosa yang di panggil. Bagi saya ini sangat mengena. Saya merasa juga bagian dari orang berdosa tetapi di sisi lain saya juga merasa di dalam diri saya ada panggilan.

 

Bacaan Injil: Yohanes 10:1-10

Bacaan Injil hari ini bagi saya mau mengajak kita untuk merefleksikan siapa Yesus bagi kita? Pertanyaan ini bisa menjadi bahan refleksi kita masing-masing: siapa Yesus bagi kita? Penginjil Yohanes dengan mantap menyebut Yesus sebagai seorang Gembala yang menuntun dan memelihara kawanan dombaNya. Ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada Maria Magdalena, “Maria”. Lalu Maria menjawab “Rabuni” artinya Guru. Bagi Maria, Yesus adalah Guru. Dalam bacaan Injil beberapa minggu lalu kita mendengar Thomas yang tidak percaya pada kebangkitan Yesus sampai mencucukkan tangannya ke lambung dan tangan Yesus. Dia mengatakan “ya Tuhanku dan Allahku…” lalu bagi Anda, Yesus itu siapa?

Tidak bermasuk alay, tapi bagi saya Yesus adalah Cinta. Bagi saya Dia adalah perwujudan cinta. Dia adalah Unconditional Love (cinta tak bersyarat). Karena itu, jika saya berdiri di depan Anda saat ini sebagai seorang frater yang ingin menjadi imam itu karena cinta saya kepada Tuhan. Paling tidak sampai saat ini. Dalam perjalanan meniti panggilan ini kadang cinta akan yang lain – akan dunia juga muncul dan kadang sedemikian kuat sehingga cinta akan Yesus itu pelan-pelan memudar, luntur. Namun, jika cinta itu luntur atau bahkan hilang maka yang saya mohonkan adalah jatuh cinta kepadaNya kembali. Namun itulah panggilan. Panggilan bagi saya adalah perjuangan mengenal Cinta, memelukNya, mencintaiNya. Panggilan bagi saya adalah memperjuangkan Cinta itu sendiri.

 

Penutup

Marilah kita mohon agar dari hari ke hari kita bisa makin mengenalNya lebih dalam, mencintaiNya lebih mesra dan mengikutiNya lebih dekat. Di akhir sharing ini kami ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk Anda semua. Lagu ini berjudul “I beg to fall in love with Thee”. Sebuah lagu yang menggambarkan kerinduan mendalam untuk bisa jatuh cinta pada Tuhan.

Biasanya memang Jesuit dikenal tidak bisa menyanyi. Maka jika nanti terdengar suara fals, itu menegaskan bahwa kami sungguh-sungguh Jesuit. Hehehe…

 

Sharing/kotbah ini saya bagikan hari ini, 11 Mei 2014 dalam rangka Minggu Panggilan.

Advertisements

Tiga Rahasia Iman

homili Fr.General

Rahasia Pertama: Iman ada dalam Hati

Dalam bacaan pertama hari ini disebutkan rahasia iman kita. Dan rahasia yang pertama yang bagi saya paling penting berhubungan dengan seluruh tradisi gereja secara khusus yang cukup familiar dengan kita yakni tradisi Ignasian. Iman pada umumnya berada dalam hati. Ia tidak jauh; kita tidak perlu mencarinya ke surga. Kita tidak perlu membuat spekulasi-spekulasi yang sulit untuk membuktikan iman kita. Ia harus ditemukan dalam hati. Dan hanya ada satu hal yang harus kita lakukan: dengarkanlah hati; lihat apa yang dikatakan oleh hati.

Dan sebagaimana yang sudah pernah saya ceritakan tentang sebuah acara televisi yang saya tonton di Jepang beberapa tahun lalu. Ketika itu saya menonton dengan para jesuit muda. Acara tersebut tentang pertemuan dengan 50 orang muda dua tahun hidup di luar Jepang. Mereka bekerja sebagian korps perdamaian, bekerja dua tahun di Afrika, atau di Amerika Latin, di India, di Pilipina, dll. Dan mereka ditanyai: mengapa Anda pergi ke sana? apa yang terjadi padamu? Dan mereka menjawab satu demi satu bahwa, kami tidak pergi karena alasan yang indah, kami tidak pergi ke sana untuk meningkatkan kemanusiaan, atau melakukan apa pun. Satu demi satu mengatakan: “Saya pergi ke sana, karena penasaran, saya ingin melihat bagaimana kehidupan di luar Jepang, saya ingin melihat bagaimana orang mengatur keluarga mereka, bisnis mereka, dll.” Jadi, itu adalah motivasi yang superfisial. Tapi mereka mengatakan: “tinggal dua tahun dengan orang-orang di sana mengubah diri saya. Dan itu mengubah diri saya karena saya melihat orang-orang yang menderita, orang-orang yang memiliki kesulitan besar tetapi mereka memiliki harapan, mereka memiliki sukacita. Sebuah sukacita yang tidak pernah saya lihat di negara saya sendiri. Sukacita dan keinginan untuk hidup, untuk berjuang, untuk mencari solusi terhadap masalah-masalah. Dan itu mengubah saya.” Dan apa yang saya katakan pada saat itu adalah orang-orang seperti inilah yang saya inginkan bergabung dengan Serikat Yesus. Orang-orang seperti inilah yang punya hati, mereka punya kapasitas untuk bertumbuh dalam Kristus. Mereka punya salah satu rahasia iman kita, bahwa iman itu ada dalam hati bukan di tempat yang sulit tetapi di dalam hati.

 

Rahasia Kedua: Yesus adalah Ringkasan/Ikhtisar Iman Kita

Ringkasan/ikhtisar iman kita adalah Yesus. Yesus adalah ringkasan/ikhtisar dan ia menunjukkan dalam karyanya yang sangat sederhana, dalam perumpamaan-Nya, khotbahnya, dan hidupnya. Dan dia mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah belas kasih. Kita tidak perlu memperumit, kita tidak perlu buku teologi yang tebal untuk membuktikannya. Kita perlu hati. Hati yang dapat bereaksi dalam garis belas kasih Allah. Dan menurut saya bahwa popularitas Paus Fransiskus justru bahwa ia berbicara dalam bahasa yang sangat sederhana. Saya melihat presentasi powerpoint yang dikirim oleh seseorang kepada saya dari Jepang tapi dibuat di Amerika Latin. ‘Beberapa permintaan untuk Paus.’ Dan salah satu permintaan itu adalah “continue to give us the teaching of Benedict, but in you own language. Make it simple, make it accessible, so that our heart a move.” Dan saya pikir itu permintaan sangat bermakna.

 

Rahasia Ketiga: Rahasia dari Rahasia adalah KasihWP_20130714_007

Rahasia ketiga yang kita peroleh dari Injil. Rahasia dari rahasia adalah kasih. Kasih Allah sebagaimana yang kita dengar dari perumpamaan tentang orang Samaria yang baik yang Anda ketahui dengan sangat baik. Kasih Allah berubah menjadi kasih kepada sesama. Ini hati yang penuh kasih (loving heart). Perbedaannya apa? Ini bukan soal siapa yang kita kasihi. Ini soal kita mengasihi atau tidak. Itulah pertanyaannya. Dan sebagaimana yang saya katakan tentang seorang uskup di Kamboja (di sini ada tiga delegasinya, Anda dapat bertanya kepada mereka, mereka dari Battambang). Dia memilih simbol keuskupannya adalah jerapah. Mengapa ia memilih jerapah? Karena jerapah adalah salah satu hewan yang memiliki hati besar. Berat hati jerapa sekitar 4 atau 5 kg, untuk memompa darah ke otak. Jadi jerapah memiliki hati yang besar dan titik pandang yang sangat tinggi. Jerapah dapat melihat kenyataan yang jauh lebih tinggi daripada yang kita lihat. Dan saya pikir, perayaan pada hari ini mengutus Anda ke pengalaman-pengalaman baru, di mana Anda akan menemukan orang-orang, situasi, pemandangan, keindahan yang mungkin belum pernah Anda lihat sebelumnya. Dan pesan saya adalah biarkan hati dan matamu tetap terbuka, untuk menerima, menyambut dan melihat apa yang dilakukannya untuk kita. Kita mungkin akan diubah oleh pengalaman itu jika kita terbuka padanya.

 

Ini adalah terjemahan kotbah Pater Adolfo Nikolas SJ dalam Misa MAGIS Brasil 2013 yang disampaikan dalam Bahasa Inggris.

Vigil Night, Rio 2013

Teramat sayang jika kotbah yang mendalam dan penuh inspirasi ini tidak direkam. Kotbah ini disampaikan Paus Fransiskus ketika Vigil Night WYD di Rio tahun 2013.

Dear Young Friends,

We have just recalled the story of Saint Francis of Assisi. In front of the crucifix he heard the voice of Jesus saying to him: “Francis, go, rebuild my house.” The young Francis responded readily and generously to the Lord’s call to rebuild his house. But which house? Slowly but surely, Francis came to realize that it was not a question of repairing a stone building, but about doing his part for the life of the Church. It was a matter of being at the service of the Church, loving her and working to make the countenance of Christ shine ever more brightly in her. Today too, as always, the Lord needs you, young people, for his Church.

Today too, he is calling each of you to follow him in his Church and to be missionaries. How? In what way? Well, I think we are able to learn something from what has happened these days: how we had to move this vigil from Campus Fidei in Guaratiba because of the bad weather. Would not the Lord be willing to say to us that the real area of faith, the true campus fidei, is not a geographical place but are we that very place? Yes! Each of us, each one of you. And missionary discipleship means to recognize that we are the Campus Fidei of God! Starting with the name of the place where we are, Campus Fidei, the field of faith, I have thought of three images that can help us understand better what it means to be a disciple and a missionary. First, a field is a place for sowing seeds; second, a field is a training ground; and third, a field is a construction site.

A field is a place for sowing seeds. We all know the parable where Jesus speaks of a sower who went out to sow seeds in the field; some seed fell on the path, some on rocky ground, some among thorns, and could not grow; other seed fell on good soil and brought forth much fruit (cf. Mt 13:1-9). Jesus himself explains the meaning of the parable: the seed is the word of God sown in our hearts (cf. Mt 13:18-23). This, dear young people, means that the real Campus Fidei, the field of faith, is your own heart, it is your life. It is your life that Jesus wants to enter with his word, with his presence. Please, let Christ and his word enter your life, blossom and grow.

Jesus tells us that the seed which fell on the path or on the rocky ground or among the thorns bore no fruit. What kind of ground are we? What kind of terrain do we want to be? Maybe sometimes we are like the path: we hear the Lord’s word but it changes nothing in our lives because we let ourselves be numbed by all the superficial voices competing for our attention; or we are like the rocky ground: we receive Jesus with enthusiasm, but we falter and, faced with difficulties, we don’t have the courage to swim against the tide; or we are like the thorny ground: negativity, negative feelings choke the Lord’s word in us (cf. Mt 13:18-22).

But today I am sure that the seed is falling on good soil, that you want to be good soil, not part-time Christians, not “starchy” and superficial, but real. I am sure that you don’t want to be duped by a false freedom, always at the beck and call of momentary fashions and fads. I know that you are aiming high, at long-lasting decisions which will make your lives meaningful. Jesus is capable of letting you do this: he is “the way, and the truth, and the life” (Jn 14:6). Let’s trust in him. Let’s make him our guide!

A field is a training ground. Jesus asks us to follow him for life, he asks us to be his disciples, to “play on his team.” I think that most of you love sports! Here in Brazil, as in other countries, football is a national passion.

Now, what do players do when they are asked to join a team? They have to train, and to train a lot! The same is true of our lives as the Lord’s disciples. Saint Paul tells us: “athletes deny themselves all sorts of things; they do this to win a crown of leaves that withers, but we a crown that is imperishable” (1 Cor 9:25). Jesus offers us something bigger than the World Cup! He offers us the possibility of a fulfilled and fruitful life; he also offers us a future with him, an endless future, eternal life. But he asks us to train, “to get in shape,” so that we can face every situation in life undaunted, bearing witness to our faith. How do we get in shape? By talking with him: by prayer, which is our daily conversation with God, who always listens to us. By the sacraments, which make his life grow within us and conform us to Christ. By loving one another, learning to listen, to understand, to forgive, to be accepting and to help others, everybody, with no one excluded or ostracized. Dear young people, be true “athletes of Christ!”

A field is a construction site. When our heart is good soil which receives the word of God, when “we build up a sweat” in trying to live as Christians, we experience something tremendous: we are never alone, we are part of a family of brothers and sisters, all journeying on the same path: we are part of the Church; indeed, we are building up the Church and we are making history. Saint Peter tells us that we are living stones, which form a spiritual edifice (cf. 1 Pet 2:5). Looking at this platform, we see that it is in the shape of a church, built up with stones and bricks. In the Church of Jesus, we ourselves are the living stones. Jesus is asking us to build up his Church, but not as a little chapel which holds only a small group of persons. He asks us to make his living Church so large that it can hold all of humanity, that it can be a home for everyone! To me, to you, to each of us he says: “Go and make disciples of all nations.” Tonight, let us answer him: Yes, I too want to be a living stone; together we want to build up the Church of Jesus! Let us all say together: I want to go forth and build up the Church of Christ!

In your young hearts, you have a desire to build a better world. I have been closely following the news reports of the many young people who throughout the world and also here in Brazil who have taken to the streets in order to express their desire for a more just and fraternal society. They are young people who what to be protagonists of change. I encourage them, in an orderly, peaceful and responsible way, motivated by the values of the Gospel, to continue overcoming apathy and offering a Christian response to the social and political concerns present in their countries.

But the question remains: Where do we start? What are the criteria for building a more just society? Mother Teresa of Calcutta was once asked what needed to change in the Church. Her answer was: you and I!

Dear friends, never forget that you are the field of faith! You are Christ’s athletes! You are called to build a more beautiful Church and a better world. Let us lift our gaze to Our Lady. Mary helps us to follow Jesus, she gives us the example by her own “yes” to God: “I am the servant of the Lord; let it be done to me as you say” (Lk 1:38). All together, let us join Mary in saying to God: let it be done to me as you say. Amen!

“Hadiah Natal Terindah”, Tubuh dan Darah-Nya

Ibu-bapak, saudari-saudara yang terkasih selamat pagi. Selamat Natal!

Barangkali banyak di antara Anda yang bertanya-tanya siapa gerangan yang ada di hadapan Anda sekarang ini. Maka baiklah saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Bonifasius Melkyor Pando, sejak kecil sampai sekarang saya dipanggil Melky. Saya berasal dari paroki ini. Sejak 11 tahun saya masuk Seminari, ini pertama kalinya saya berdiri di depan umat paroki. Maka, saya berterima kasih kepada Rm.Lucas atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saat ini saya sedang menjalani masa Tahun Orientasi Kerasulan di yayasan Kanisius, bagian pendidikan di Semarang, Jawa Tengah. Setelah lulus dari Seminari saya melanjutkan pendidikan menjadi imam ke Ordo Serikat Yesus (SJ).

 Ibu-bapak, saudari-saudara yang terkasih

Saya akan memulai renungan pagi ini dengan sebuah cerita. Cerita ini sekaligus poin refleksinya saya peroleh dari salah seorang saudara saya yang selalu memberi inspirasi bagi saya. Romo Ardi SJ namanya. Ceritanya demikian: Selama Perang Dunia II, banyak anak-anak berusia 12 dan 13 tahun dibawa ke Junior Gestapo, di sana mereka harus kerja paksa, tanpa istirahat. Setelah perang berakhir , sebagian besar anak-anak ini telah kehilangan kontak dengan keluarga mereka dan berjalan tanpa tujuan, tanpa makanan atau tempat tinggal. Sebagai bagian dari program bantuan untuk membangun kembali pasca perang Jerman, banyak pemuda tersebut ditempatkan di kota-kota tenda. Di sana, dokter dan perawat bekerja dengan mereka dalam upaya untuk memulihkan kesehatan mental, fisik, dan emosional mereka. Itu adalah perjuangan yang berat.

Banyak dari anak-anak akan terbangun beberapa kali selama malam menjerit ketakutan. Seorang dokter memiliki ide untuk menangani rasa takut mereka . Setelah melayani anak-anak yang sedemikian melimpah, dia akan memasukkan mereka ke tempat tidur dengan sepotong roti di tangan mereka, mereka diberitahu untuk menyimpan sampai pagi. Anak-anak mulai tidur nyenyak setelah itu karena, setelah bertahun-tahun kelaparan dan ketidakpastian makanan mereka selanjutnya, mereka akhirnya memiliki jaminan makanan untuk hari berikutnya.

Inilah yang Tuhan lakukan bagi kita. Tuhan memberikan kita Yesus dan Yesus memberi kita diriNya sendiri. Dia memberi kita tidak hanya roti untuk diselipkan ke tangan kita tapi dia memberi kita dagingnya untuk makan dan minum darah sehingga kita bisa tetap di dalam Dia dan Dia di dalam kita.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Kalau hari ini anak-anak menerima komuni: roti dan anggur lambang Tubuh dan Darah Kristus, kita ingat pemberian diri Yesus – hadiah Yesus di Perjamuan Terakhir dan di kayu salib. Lalu mengapa kita merayakan Ekaristi sekitar 2.000 tahun kemudian/saat ini? Kita melakukan ini karena Yesus mengatakan kepada kita untuk melakukannya: “Lakukan ini untuk mengenangkan Daku!” Mengapa kita membutuhkan Ekaristi? Dalam Ekaristi ia memberikan tanda terlihat dan cara yang efektif untuk dia hadir kepada kami dan kami hadir kepadanya . Seperti kata Yesus sendiri , “Mereka yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam mereka.”

Bagi anak-anak yang hari ini menerima komuni: ini adalah hadiah Natal terindah dalam hidupmu. Kamu menerima Tubuh Kristus, Yesus sendiri dan menyatukanNya dalam dirimu. Sama halnya dengan kita orang dewasa yang telah menerima komuni, dengan kelahiran Bayi Yesus yang kita peringati, rayakan dan pestakan kita diingatkan akan Allah yang menjelma menjadi manusia yang memberikan DiriNya kepada kita.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Berbicara tentang Natal, pada 10 Desember, Koran Italia, “La Stampa” menlansir wawancara dengan Paus Fransiskus. Kepada Bapa Paus ditanyakan:

Apa makna Natal bagi Paus?  Beliau menjawab: “Natal adalah sebuah pertemuan dengan Yesus. Allah selalu mencari umatNya, memimpinnya, menjaganya, berjanji bahwa Ia akan selalu berada di dekatnya. Di dalam kitab Ulangan kita membaca bahwa Allah berjalan dengan kita, memimpin kita dengan tanganNya seperti seorang bapak kepada anaknya. Hal itu indah. Natal adalah pertemuan Allah dengan umatNya. Bagi saya, Natal selalu hal ini: merenungkan/mengontemplasikan kunjungan Allah bagi umatNya.

Apa yang disampaikan Natal bagi orang zaman ini?

Allah berbicara 2 hal kepada kita saat menemui kita. Yang pertama: milikilah harapan! Allah selalu membuka pintu-pintu, tidak pernah Dia menutupnya. Dia adalah bapak yang membukakan pintu bagi kita. Yang kedua: janganlah takut akan kelembutan! Ketika orang-orang Kristiani melupakan harapan dan kelembutan, mereka berubah menjadi sebuah Gereja yang dingin, yang tidak tahu ke mana pergi dan mengekang diri sendiri di dalam ideologi-ideologi. Saya takut ketika orang-orang Kristiani kehilangan harapan dan kapasitas untuk merangkul.”

Natal seringkali ditampilkan sebagai dongeng yang manis. Namun, Allah lahir di dalam dunia di mana terdapat banyak penderitaan dan kesengsaraan.

“Apa yang kita baca dalam Injil adalah sebuah warta sukacita. Para penginjil mengisahkan sebuah sukacita. Natal bukanlah sebuah keluhan tentang ketidakadilan sosial, tentang kemiskinan, namun adalah warta sukacita. Natal adalah sukacita, sukacita rohani, sukacita Allah, sukacita batin, sukacita karena terang dan kedamaian. Ketika orang tidak memiliki kapasitas atau berada di dalam situasi manusiawi yang tidak memungkinkannya memahami sukacita ini, dia merayakan pesta itu dengan kegembiraan duniawi.”

Sukacita itulah juga yang disampaikan dalam Bacaan Injil hari ini. Ketika mereka melihat Bayi Yesus di dalam palungan, para gembala mewartakan kabar sukacita mulia kelahiran Yesus sang Putera.

Satu catatan yang diberikan Romo Gianto SJ. Disebutkan dalam ay. 15 “… gembala-gembala itu berkata satu kepada yang lain, ‘Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat ….'” Kita diajak oleh para gembala yang telah menyaksikan kebesaran Tuhan untuk ikut pergi mencarinya “di Betlehem”, di tempat yang kita semua tahu, yang dapat dicapai, bukan di negeri antah-berantah sana. Tak lain tak bukan ialah pergi mendapati dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau siapa saja – di “Betlehem” – boleh jadi dalam diri orang yang kita cintai, boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, dalam diri orang-orang yang membutuhkan kedamaian, atau juga dalam diri kita sendiri yang diajak ikut menghadirkannya. Ini bisa memberi arah baru dalam kehidupan. Betlehem bisa bermacam-macam wujudnya, namun satu hal sama. Di situlah Tuhan diam menantikan orang datang menyatakan simpati kepada-Nya.

Para gembala dengan sukacita mengajak kita ke Betlehem kita masing-masing untuk melihat sukacita itu dan memberitakan sukacita itu pula. Dan sukacita itu adalah bahwa kita telah menerima Yesus.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Semoga Tubuh dan Darah Kristus ini baik bagi anak-anak yang komuni pertama atau orang tua yang sudah selalu menyambutNya sungguh menyadari bahwa kita menjadi apa yang kita terima yakni Kristus sendiri yang kelahiranNya dengan penuh sukacita kita rayakan hari ini.

Anak-anak, lihatlah Yesus menyelipkan roti ke tanganMu, bahkan masuk ke dalam diriMu. Dan ini pengalaman sukacita dan hadiah Natal terindah untukmu.

Semoga anak-anak dan kita semua membagikan pengalaman sukacita ini sama seperti para gembala yang mewartakan pengalaman berjumpa dengan Bayi Yesus. Semoga kita mampu menjadi roti hidup bagi sesama. Kita menjadi darah yang tercurah bagi sesama.

Marilah kita memberikan hadiah terindah untuk bayi Yesus, yakni diri kita sendiri. Semoga makin hari kita makin hidup dalam pengharapan dan kelembutan hati. Mari kita menemukan sukacita dan mengajak orang lain menemukannya di Betlehem kita masing-masing. Selamat Natal! Tuhan memberkati. Amin.

 

(Ini adalah catatan kotbah yang saya sampaikan pada 25 Desember 2013 di paroki Soroako, Sul-Sel).

Kotbah Paus Fransiskus pada Pembukaan WYD Rio 2013

paus

Dua hari lalu Paus Fransiskus merayakan 44 tahun imamat-nya. Aku masih ingat perjumpaanku dengan beliau, walau dengan jarak satu meter, tiga meter sampai hanya bisa melihatnya di screen. Tapi kesuciannya sampai merasukiku bahkan semua orang yang ada di situ. Adalah kebahagiaan ketika mendengarkan kotbahnya, suaranya yang lantang, wajahnya yang penuh sukacita, sapaannya yang personal, dialog yang hidup, dan pesan hidup yang amat mendalam.

Selama beberapa hari ke depan, aku ingin membagikan beberapa kotbah beliau selama WYD Rio 2013.

Dear Young Friends,

Good evening! In you I see the beauty of Christ’s young face and I am filled with joy. I recall the first World Youth Day on an international level. It was celebrated in 1987 in Argentina, in my home city of Buenos Aires. I still cherish the words of Blessed John Paul II to the young people on that occasion: “I have great hope in you! I hope above all that you will renew your fidelity to Jesus Christ and to his redeeming Cross” (Address to Young People, Buenos Aires, 11 April 1987).

Before I continue, I would like to call to mind the tragic accident in French Guiana in which young Sophie Morinière was killed and other young people were wounded. I invite all of you to observe a minute’s silence and to pray for Sophie, for the wounded, and for their families.

This year, World Youth Day comes to Latin America for the second time. And you, young people, have responded in great number to the invitation extended by Pope Benedict XVI to celebrate this occasion. We express to him our heartfelt thanks. I am looking at the large crowd before me – there are so many of you! And you have come from every continent! In many cases you have come from afar, not only geographically, but also existentially, culturally, socially and humanly. But today you are all here, or better yet, we are all here together as one, in order to share the faith and the joy of an encounter with Christ, of being his disciples. This week Rio has become the centre of the Church, its heart both youthful and vibrant, because you have responded generously and courageously to the invitation that Christ has made to you to be with him and to become his friends.

The train of this World Youth Day has come from afar and has travelled across all of Brazil following the stages of the project entitled “Bota fé – put on faith!” Today the train has arrived at Rio de Janeiro. From Corcovado, Christ the Redeemer embraces us and blesses us. Looking out to this sea, the beach and all of you gathered here, I am reminded of the moment when Jesus called the first disciples to follow him by the shores of Lake Tiberias. Today Christ asks each of us again: Do you want to be my disciple? Do you want to be my friend? Do you want to be a witness to my Gospel? In the spirit of The Year of Faith, these questions invite us to renew our commitment as Christians. Your families and local communities have passed on to you the great gift of faith, Christ has grown in you. I have come today to confirm you in this faith, faith in the living Christ who dwells within you, but I have also come to be confirmed by the enthusiasm of your faith!

I greet you with great affection. To all of you assembled here from the five continents and, through you, to all young people of the world, and in particular to those who have not been able to come to Rio de Janeiro but who are following us by means of radio, television and internet, I say: Welcome to this immense feast of faith! In several parts of the world, at this very moment, many young people have come together to share this event: let us all experience the joy of being united with each other in friendship and faith. And be sure of this: my pastoral heart embraces all of you with universal affection. From the summit of the mountain of Corcovado, Christ the Redeemer welcomes you to this beautiful city of Rio!

I wish to extend greetings to the President of the Pontifical Council for the Laity, the dear and tireless Cardinal Stanisław Ryłko, and to all who work with him. I thank Archbishop Orani João Tempesta, of São Sebastião do Rio de Janeiro, for the warm welcome given to me and for the considerable work of preparation for this World Youth Day, together with the many Dioceses of this vast country of Brazil. I would also like to express my gratitude to all the national, state and local authorities and to those who have worked to make possible this unique moment of celebration of unity, faith and fraternity. Thank you to my brother Bishops, to the priests, seminarians, consecrated persons and the lay faithful that have accompanied the young from various parts of the world on their pilgrimage to Jesus. To each and every one of you I offer my affectionate embrace in the Lord.

Brothers and sisters, dear friends, welcome to the XXVIII World Youth Day in this marvellous city of Rio de Janeiro!