Tentang Seorang Guru di Pati

Saya belum memberikan apa-apa buat keluarga…

Aku memutuskan untuk merayakan hari guru, 25 November 2014, dengan mengunjungi guru-guru di daerah Timur, khususnya Pati. Aku menginap di rumah seorang guru yang juga kepala sekolah. Selama tiga hari, ia menemaniku mengunjungi beberapa sekolah Kanisius, termasuk yang ada di Juwana. Sore dan malam hari ia mengantarku untuk menyapa guru-guru dengan berkunjung dari rumah ke rumah. Tiga hari aku di sana. Tiga hari untuk kunjungan, berjumpa, menyapa. Tiga hari untuk guru. Tiga hari untuk merayakan hari guru.

Saat itu, kami sedang dalam perjalanan dari sekolah menuju rumah, tempat aku menginap selama tiga hari kemarin. Cerita demi cerita mengiringi perjalanan kami. Mulai dari cerita tentang sekolah sampai pergulatan pribadi. Tak habis-habisnya. Padahal sejak aku tiba kami saling bertukar cerita, berbagi pengalaman. Kami mungkin tidak akan berhenti jika mata kami semakin lama semakin tidak kuat menahan rasa kantuk. Namun, saat itu, dia mengatakan sesuatu yang menggetarkan dawai hati. “Saya belum memberikan apa-apa buat keluarga.” Seketika aku tersentak. Kutepuk-tepuk pundaknya dan kukatakan padanya, “ahh…bapak sudah memberikan banyak.”

Aku mengenalnya sebagai seorang pekerja keras. Rumah yang mereka tinggali, wujud dari kerja kerasnya. Tiga hari bersamanya pun mengatakan demikian. Pagi-pagi berangkat ke sekolah, memimpin para guru, mengajar anak-anak, memimpin dan mengawasi proyek rehab sekolah, berurusan dengan dinas pendidikan/pemerintah, dengan orang tua siswa, kurikulum sekolah, sampai mengusahakan kesejahteraan rekan-rekan gurunya. Aku kira kerja hanya sampai di situ. Kami pulang ke rumah segera makan ‘siang’ (de facto sudah sore) bersama keluarga yang juga sudah menunggu. Tak lama kemudian, dia pamit padaku: “tak tinggal sebentar ya, nggolek tambahan upah”. Aku kaget. Aku tak membayangkan bahwa sore hingga malam hari masih akan kerja lagi. Rasanya persoalan sekolah saja sudah cukup menyita waktu dan tenaga. Apa daya, selama kita hidup di dunia pun, kita tetap butuh materi untuk hidup. Memang, aku sepenuhnya sadar gaji untuk menghidupi isteri dan dua anak tentu tidak cukup, apalagi di zaman ini. Hampir setiap hari kegiatannya seperti itu. Malam hari baru pulang ke rumah. Belum lagi jika ada undangan doa lingkungan atau pertemuan.

Aku mengenalnya sebagai orang yang apa adanya (just the way he is). Dia menerima aku di rumahnya dengan apa adanya. Nothing special. Keadaan rumah, situasi keluarga, makanan yang tersaji, semuanya tidak dibuat-buat “dalam rangka kedatanganku”. Sebaliknya, semua berjalan sebagaimana biasanya. Bahkan sikap dan tindakan mereka sekeluarga juga apa adanya. Dan apa adanya itu ramah, terbuka, amat bersahabat – penuh kekeluargaan.

Aku mengenalnya sebagai orang yang jujur. Tahun ini ada banyak bantuan yang diterima. Namun bantuan itu sungguh berwujud. Dia membuat sekolah menjadi lebih layak huni. Pengembangan diri anak-anak diprioritaskan dengan menggalakkan kegiatan-kegiatan sekolah. Cara kerja yang transparan menjadi salah satu bukti yang valid, tak terbantahkan.

Pengenalan-pengenalan itu yang membuatku tersentak ketika dia mengatakan bahwa dia belum memberikan apa-apa buat keluarga. Bagaimana mungkin dia sampai mengatakan belum memberikan apa-apa buat keluarga padahal usahanya sudah amat keras? Bagaimana mungkin orang yang sudah berjuang keras untuk keluarga, sekolah, rekan dan sahabatnya mengatakan bahwa dirinya belum berbuat apa-apa? Lalu apa artinya berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari? Apa artinya berjerih lelah?

Bagiku, ia sudah berbuat banyak, bahkan tak terhitung jumlahnya. Perjuangan untuk menghidupi dan membahagiakan keluarga itulah yang diperbuatnya. Apa yang diperbuat, dikerjakan, diperjuangkan adalah wujud cintanya yang amat luhur untuk keluarga yang dibangunnya dengan tidak mudah. Cinta itu terpateri kuat, tidak bisa direbut dari padanya.

Akh Tuhan, ternyata Kau menuntunku sampai ke tempat ini untuk merasakan peristiwa manis yang tak berbayar; hanya bisa dialami, dirasakan. Tiga hari untuk menyaksikan cinta seorang guru untuk sekolah, cinta seorang bapak untuk keluarga. Tiga hari nan manis merayakan hari guru, 25 November 2014.

Terima kasih guru.

Advertisements

Guru itu Pahlawan

Saya selalu yakin Tuhan akan membalas semuanya dalam bentuk yang lain…

Seorang saudara yang juga rekan kerja “menemani” perjalananku dari Muntilan ke Semarang. Usianya relatif lebih tua dariku. Perkenalan kami pun belum begitu lama, kira-kira satu tahun, pun tidak intensif, hanya sebatas ‘jika’ ada tugas. Namun cukuplah aku mengenalnya sebagai pribadi yang jujur, tulus dan apa adanya. Kami baru saja membagikan pengalaman dan hasil pendalaman kami seputar model penilaian kepada guru-guru di sana. Sebenarnya kami berempat. Namun hampir sepanjang perjalanan dua orang rekan lainnya tertidur.
Kami mulai bertukar cerita. Sampai pada satu titik aku bertanya: “kok mau-maunya mengusahakan banyak hal untuk sekolah dan yayasan padahal tidak diberi bayaran?” Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Saudaraku ini seorang kepala sekolah, baru satu tahun. Sebagai guru dan sebagai kepala sekolah tentu tanggungjawabnya tidak sedikit. Mulai dari mengusahakan banyak murid, keberlangsungan pendidikan, mengusahakan pembangunan atau setidak-tidaknya perawatan gedung, bertanggungjawab atas guru-guru dan karyawan yang ada di sekolah, atas pekerjaan mereka, atas kelakuan mereka. Belum lagi jika ada orang tua yang protes ini itu; tuntutan pemerintah yang harus diintegrasikan dengan visi-misi serta permintaan yayasan yang keduanya tidaklah sedikit. Semua harus ditanggung, dikerjakan.
Di sisi lain, aku tahu jumlah gaji yang diperoleh tidaklah seberapa untuk menghidupi istri dan dua anak.
Aku heran namun sekaligus kagum, mengapa dia tak pernah mengeluh soal penghasilan. Padahal tanggungjawabnya besar. Usahanya tidak sedikit. Waktu, tenaga dan pikiran rasa-rasanya penuh dengan urusan sekolah. Untuk “pergi-pergi” seperti ini pun tidak diberi bayaran, malah sering menggunakan uang pribadi. Aku heran namun kagum karena hidupnya kok terasa cukup, tidak kurang, tidak berlebih juga. Atau mungkin sang istri juga pandai mengatur keuangan? Entah. Sekalipun iya, mungkin tidak amat membantu. Entah.
Dalam keheranan dan kekaguman itu aku bertanya padanya. Terasa amat ringan baginya untuk menjawab: “saya selalu yakin Tuhan akan membalas semuanya dalam bentuk yang lain…” Aku terhenyak. Jawabannya menusuk kalbu. Barangkali jika berada dalam posisinya, aku tak bisa menjadi seperti dirinya. Ternyata, di zaman ini masih ada orang yang mau memberi lebih tanpa menghitung biaya keringat dan waktu.
Aku merasa beruntung ketemu saudara-saudara yang jelas sekali dedikasinya. Dia/mereka menjadi contoh nyata kemuliaan pahlawan tanpa tanda jasa dan orang-orang kudus yang tersembunyi. Di zaman ini kepahlawanan mungkin tidak lagi harus mati demi membela sesuatu tapi memberikan diri seutuhnya untuk sebuah tugas dan menghayatinya sebagai bentuk persembahan indah bagi Tuhan.
Selamat hari pahlawan saudara…

“Teach us, Lord, to serve you as you deserve; to give and not to count the cost; to fight and not to heed the wounds; to toil and not to seek for rest; to labour and not to ask for any reward, save that of knowing that we do your will.” St. Ignatius Loyola

Berkumpul, Bersahabat, Bergembira dan akhirnya Diutus!

peregrinasi 4

Llévame donde los hombres, necesiten tus palabras,
necesiten mis ganas de vivir,
donde falta la esperanza, donde todo sea triste,
simplemente por no saber de ti.

Lagu inilah yang senantiasa mengiri perjalanan peregrinasi kami selama kurang lebih enam hari di Brasil tepatnya di sepanjang garis pantai kota Sao Paulo. Kami tak tahu bahasa Portugis pun Spanyol namun kesederhanaan nada lagu ini membuat kami segera tahu sehingga bisa ikut bernyanyi. Boleh dikatakan, lagu ini menjadi lagu favorit kami selama berada di Brasil. Teman-teman Brasil dan Chile-lah yang mengajari kami lagu ini dan menjelaskan artinya. Tidak hanya nadanya yang sederhana tetapi juga liriknya penuh makna sehingga mampu membangkitkan semangat untuk terus melangkahkan kaki dan untuk berani maju. Arti lirik lagu di atas kira-kira seperti ini:

Bawa aku di mana ada banyak orang yang membutuhkan sabdaMu,
yang membutuhkan keinginan diriku untuk hidup,
di mana ada kekurangan harapan, di mana semuanya bersedih,
hanya karena tidak mengenalMu.

 

Along Journey to Brasil
Hampir dua bulan sebelum berangkat, kami menyiapkan sebuah tampilan dalam rangka festival malam budaya magis. Hampir setiap Sabtu-Minggu, lima orang teman yang mewakili kami, mempersiapkan tampilan tersebut. Tentu, itu hanya satu persiapan dari sekian persiapan lainnya. Tepat tanggal 9 Juli kami berangkat menuju Brasil. Kami berdelapan orang, dua orang anggota magis Jogja, lima orang anggota magis Jakarta dan saya sendiri. Tujuan utama memang ke Brasil. Dan ternyata Brasil negara daratan yang sangat luas. Karena beberapa kegiatan dilangsungkan di kota yang berbeda maka perjalanan menjadi lebih panjang lagi. Tujuan awal kami ke Salvador, Bahia tempat magis gathering dan pertemuan dengan P. Adolfo Nikolas SJ diadakan. Untuk sampai ke sana, kami harus melalui tiga kali transit, masing-masing di Singapura, Istanbul, Sao Paulo sampai akhirnya tiba di Salvador. Total waktu berada di pesawat dari Jakarta – Salvador, kurang lebih, 30 jam. Tentu saja, ini belum termasuk lama transit. Sungguh, perjalanan yang amat panjang nan melelahkan.

Perjalanan kami selama di Brasil bisa dipetakan demikian: Sao Paulo, Salvador – Bahia, Sao Paulo di beberapa kota: Peruibe, Mongagua, Sao Vicente, Santos, Rio de Janeiro, dan Sao Paulo lagi untuk kembali ke Jakarta. Dua program yang kami ikuti: Magis Brasil dan World Youth Day (WYD) atau JMJ (Jornada Mundial de Juventude) memang mengharuskan kami selalu berpindah tempat. WYD sendiri hanya dilaksanakan di satu kota yakni di Rio de Janeiro. Kami berpindah-pindah tempat karena adanya experiment magis.

 

Disatukan di Bawah Satu Bendera

bendera magis

Jumlah orang muda yang menjadi peserta yang mengikuti magis Brasil ini sekitar 3000 orang. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia, terhitung kira-kira 50 negara. Karena diadakan di Brasil, maka pantaslah jika kebanyakan partisipan datang dari negera-negara Amerika Latin seperti Chile dan Argentina. Sampai-sampai hampir di setiap acara yel-yel merekalah yang amat dikenal. Bunyinya demikian: “Chi..Chi.. Le..Le.. Viva Chile”. Siapapun yang ikut magis dan WYD saya rasa akan mengingat yel-yel mereka.

Di hari pertama, semua peserta datang dengan simbol bendera masing-masing negara. Dengan penuh kebanggaan mereka mengibarkan bendera negara mereka. Malam harinya ketika opening ceremony diadakan, semua bendera dari negara-negara yang hadir dijahit menjadi satu kesatuan. Bendera itu dikibarkan di aula College Antonio Vieria dan menjadi lambang dibukanya acara magis Brasil. We are different but we are one! We are magis!

Pengalaman berjumpa dan berbagi memang menjadi nuansa yang sangat kental dalam acara ini. Di Salvador, kami saling membagikan pengalaman lewat setiap perjumpaan. Masing-masing begitu bersemangat membagikan pengalaman dan kekayaan (budaya ) di negara masing-masing. Semangat ini jugalah yang tampak dalam festival malam budaya magis. Tarian Ronggeng Manis dari Indonesia mampu menarik dan memikat perhatian publik. Paduan musik, gerak dan pakaiannya yang wonderful mampu mencuri perhatian. Hanya ada sekitar 20 negara yang diminta menampilkan budayanya, Indonesia salah satu di antaranya. Karena tarian ini pula, “Indonesia” menjadi cukup dikenal oleh teman-teman magis. Setiap kali bertemu dengan orang muda dari negara lain, yang selalu mereka ingat adalah tampilan budaya. Bahkan beberapa kali saya berjumpa dengan jesuit dari negara lain mereka selalu memberi apresiasi. Great presentation, begitu kata mereka.

peregrinasi 2

Pengalaman perjumpaan dan berbagi itu menjadi lebih terasa selama menjalani eksperimen. Ada lima eksperimen yang diadakan yakni sosial, spiritualitas, seni dan budaya, ekologi dan peregrinasi. Kami sendiri mengikuti peregrinasi. Pesan Pater Jenderal Adolfo Nikolas SJ yang senantiasa kami ingat selama masa ekperiment adalah “membiarkan hati dan mata tetap terbuka, untuk menerima, menyambut dan melihat apa yang dilakukan Tuhan bagi kita. Harapannya kita mungkin akan diubah oleh pengalaman itu jika kita terbuka padanya.” Pesan itulah juga yang membuat kami melepaskan segala zona nyaman dan berani mengalami semua kemungkinan yang terjadi selama peregrinasi. Bagi orang-orang muda ini menjadi pengalaman yang baru dan berbeda. Kami menjalani peregrinasi bersama teman-teman dari Prancis, Chile dan Brasil yang praktis mother tongue –nya sungguh berbeda. Praktis hampir selalu kami menggunakan empat bahasa: Inggris, Portugis, Spanyol dan Prancis. Namun, sekali lagi perbedaan budaya dan bahasa tidak menjadi batas yang memisahkan. Dalam peregrinasi, kami pun selalu berjalan dan berbagi bersama. Kami pernah berdoa rosario dalam beberapa bahasa sambil berjalan. Peregrinasi kami jalani di sepanjang garis pantai di kota Sao Paulo. Bisa dibayangkan ketika siang, matahari bahkan bisa sampai membakar kulit namun saat sore datang, dingin pun mulai menusuk sampai ke tulang. Malam hari kami mampir di gereja-gereja tertentu untuk melepas lelah dan istirahat. Setiap hari kami berjalan dengan membawa carrier yang isinya pakaian, sleeping bag, matras, dan lain sebagainya. Bagi saya pribadi ini yang membuat fisik terasa capek lebih karena beban bawaan. Namun kegembiraan yang senantiasa mengiri perjalanan mengobati rasa capek itu. Seorang teman dari Chile, Ivan namanya, selalu terlihat gembira. Dia tak tahu bahasa Inggris, namun dia selalu berusaha membuat orang bersemangat. Padahal bawaannya sangat banyak, tubuhnya gemuk. Maka bisa dibayangkan bagaimana dia tampak sulit melangkah. Namun dia sama sekali tidak mengeluh, kakinya lecet tetapi dia tetap gembira dan berusaha menyemangati teman seperjalanannya.

Siang dan sore hari kami istirahat dan refleksi pribadi. Di sore hari, satu jam sebelum istirahat kami jalan sendiri-sendiri dan hening sambil merefleksikan semua pengalaman selama sehari. Setiap malam kami mengadakan magis circle (sharing). Hampir setiap dari kami mengalami bahwa sekalipun kami selalu menggunakan 3 bahasa pengantar namun sama sekali tidak terasa sebagai batas yang memisahkan. Bahkan seringkali kami menggunakan bahasa tubuh. Setiap pagi kami memulai dengan morning prayer diambil dari buku “pilgrim’s handbook” yang sudah disediakan oleh panitia. Setiap hari kami merenungkan satu kutipan dari Latihan Rohani. Maka, kami mengalami bahwa rasa kesatuan yang terjadi tidak hanya karena punya semangat yang sama sebagai orang muda, tetapi juga penghayatan akan spiritualitas yang sama juga menjadi perekat yang mampu “menyambungkan” komunikasi di antara grup dengan ragam bahasa ini.

Di bawah Satu Bendera tidak hanya berarti harafiah bahwa semua bendera dijahit satu sehingga hanya ada satu bendera. Namun Satu Bendera adalah Kristus yang sama-sama diimani. Ketika datang dengan simbol bendera masing-masing, pengalaman iman dan spiritualitas ignasian ini menyatukan di bawah Satu Bendera, Bendera Panji Kristus. Maka Bendera yang Satu itu tidak lain adalah Kristus sendiri.

 

Jose Maria de Anchieta SJ

passosAnchieta dikenal sebagai pendiri kota Sao Paulo. Bagi saya pribadi ini adalah hal yang menakjubkan, seorang jesuit bisa mendirikan sebuah kota yang sekarang berdiri megah dan ditinggali banyak orang. Jejak perjalanan rohani Anchieta menjadi rute peregrinasi kami. Kami melalui tempat dia berkontemplasi, letaknya persis di pinggir pantai. Bahkan, sampai sekarang masih ada batu tempat dia biasa duduk, merenung dan mengkontemplasikan dunia. Sekarang tempat ini menjadi tempat ziarah bagi orang Brasil. Selain itu kami juga mengunjungi tempat Anchieta membaptis orang-orang Sao Paulo. Di sana ada patung Anchieta serta sumber air yang diyakini membawa berkat. Anchieta sungguh menjadi teladan tidak hanya bagi para jesuit khususnya jesuit muda tetapi juga bagi orang-orang muda untuk terus berkobar mewartakan Kristus. Anchieta masih berumur 19 tahun ketika mulai merasul di tengah-tengah orang Brasil. Dalam usianya yang masih amat muda itu Anchieta menjadi teladan yang sungguh memberi jawab atas Esperam Por Nos Nações (nations await us) yang menjadi tema magis Brasil 2013 dan “go, do not be afraid and serve” yang tak lain adalah pesan Paus kepada seluruh orang muda. Anchieta tak hanya membangun kota Sao Paulo tetapi juga membangun iman.

 

Berkumpul untuk Diutus

flashmob
Magis menyatukan semua orang muda dari berbagai sudut dunia untuk berjumpa dan berbagi satu sama lain dalam semangat yang sama, semangat Ignasian. Setelah magis, orang-orang muda bergabung dengan jutaan orang muda lainnya yang memikili iman yang sama, iman akan Kristus yang telah menjadi manusia. Perayaan iman itu dipestakan bersama-sama dan dipimpin oleh Bapa Paus Fransiskus. Semua orang antusias menyambut kehadirannya. Ketika Misa berlangsung, tiga juta orang yang hadir bisa duduk diam dan mendengarkan setiap kata yang disampaikannya dalam kotbah.

Saat vigili night Bapa Paus Fransiskus mengajak orang-orang muda untuk menjadi rasul-rasul Kristus. “Jesus asks us to follow him for life, he asks us to be his disciples, to “play on his team.” Demikian ajakan Paus kepada orang muda. Ajakan untuk menjadi rasul Kristus digambarkan dengan ilustrasi tentang sebuah tim sepak bola, sebagaimana Brasil dikenal sebagai negara sepak bola. Apa yang dilakukan para pemain ketika mereka diminta bergabung dengan sebuah tim? Mereka tentu akan berlatih dan terus berlatih. Hal yang sama juga terjadi dalam hidup kita sebagai rasul Kristus. Kepada orang muda Paus mengajak untuk menjadi “atlet Kristus”. Paus mengutip apa yang dikatakan Santo Paulus “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1 Kor 9:25). Yesus menawarkan sesuatu yang lebih besar dari Piala Dunia! Dia menawarkan kehidupan yang berbuah, ia juga menawarkan kita sebuah masa depan bersamaNya, masa depan yang tak berujung, hidup yang kekal. Namun, Dia meminta kita untuk berlatih, supaya kita terbentuk sehingga kita dapat menghadapi setiap situasi kehidupan dengan gentar, menjadi saksi iman kita. Supaya kita bisa terbentuk kita harus berbicara denganNya: dalam doa, yang merupakan percakapan sehari-hari kita dengan Allah; dalam sakramen, yang membuat hidupNya tumbuh dalam diri kita dan kita pun serupa dengan Kristus; dalam cinta satu akan yang lain, belajar untuk mendengarkan, memahami, memaafkan, menerima dan membantu orang lain, semua orang, tanpa ada yang dikecualikan atau dikucilkan. “Jadilah atlet Kristus yang benar!”, demikian pesan Paus.

Dalam Misa magis bersama Pater Jenderal jelas disebut sebagai Misa pengutusan. Hal yang senada diulangi lagi ketika WYD oleh Mgr. Orani Joao Tempesta ketika Misa bersama Paus. Beliau mengatakan bahwa ini adalah waktu pengutusan dan bukan perpisahan. Lebih lanjut, Bapa Paus Fransiscus sendiri berpesan: “Jesus is calling you to be a disciple with a mission!” Beliau menegaskan kembali bahwa waktunya menyampaikan pengalaman iman ini kepada orang lain. Iman itu adalah kobaran api yang tumbuh kuat bila semakin dibagikan, sehingga setiap orang dapat mengetahui, mencintai dan mengakui Yesus Kristus, Tuhan atas kehidupan dan sejarah (lih. Rom 10:9).

JMJ ini sungguh menjadi perayaan pesta iman. Setiap hari kami mengikuti katekese-katekese yang diberikan oleh para uskup. Tempatnya tersebar di semua gereja di Rio, dibagi berdasarkan bahasa masing-masing. Bagi Sandrine, seorang teman Prancis, dia merasa sangat beruntung bisa mengikuti perayaan puncak bagi orang-orang muda yang memiliki iman yang sama. Baginya, ini juga menjadi dinamika yang penting bagi orang-orang muda Katolik untuk bisa berkumpul dan berbagi kekayaan iman. Jumlah orang muda yang hadir dalam JMJ kali ini sekitar tiga juta orang. Tiga juta orang ini dikumpulkan dalam perayaan iman bersama bapa Paus Fransiskus di pinggir pantai Copacabana, Rio de Janeiro.

 

Pengalaman Iman dan Persahabatan

Pengalaman magis dan JMJ ini sungguh menjadi pengalaman yang amat berarti. Beberapa teman memberi kesan:

“Saya merasa ini seperti sebuah ilusi tapi dalam proses inilah saya merasa ini bukan imajinasi belaka tapi ini nyata dan Tuhan lah yang menghidupkan semuanya ini sehingga rasanya begitu indah. Kehangatan dari para Jesuit disini yang mengayomi dan memperhatikan kami, teman-teman yang begitu unik dan baik hati sampai ingin menangis saat melihat teman dari Chile yang menangis saat kita pulang, dan Father Michael SJ yang memberi pesan pada saya untuk terus pantang menyerah dalam hidup.” (Esi, Magis Jakarta)

Magis mengajarkan saya banyak hal. Lewat perjalanan ini saya belajar untuk menghadapi hal-hal yang selama ini saya hindari. Saya diajar untuk keluar dari comfort zone saya. Ke depannya, saya ingin mencoba dan berusaha terlebih dahulu sebelum akhirnya saya berkata saya tidak bisa. (Vera, Magis Jakarta)

Aku belajar banyak hal dari perjalananku selama Magis Gathering dan World Youth Day 2013. Berbagi pengalaman hidup dengan teman-teman baru juga membuka mataku akan hal-hal esensial dalam hidup, misalnya cinta, baik itu dalam hubungan vertikal maupun horizontal. Sekembalinya aku dari Brazil, aku berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik serta lebih terbuka. Jalan hidup yang terpampang di depan mata ini sungguh tak ada ujungnya, kadang menakutkan, sama ketika kami berjalan menyusur garis pantai, tak ada ujungnya. Namun ketika aku menerima hidup ini dengan keyakinan akan rencanaNya, aku tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. (Priska, Magis Jakarta)

Masing-masing orang muda mendapat banyak pengalaman yang sungguh meneguhkan iman mereka akan Yesus Kristus dan rasa persahabatan dengan sesama. Pengalaman iman dan persahabatan inilah yang senantiasa meneguhkan untuk makin mengenal Kristus, mencintai lalu mengikutiNya dari hari ke hari. Orang-orang muda sungguh diajak dan sekaligus ditantang untuk membawa kabar gembira kepada banyak orang yang membutuhkan sabdaNya, di mana ada kekurangan harapan, di mana semua orang bersedih, hanya karena tidak mengenalNya.

Pengalaman iman dan persahabatan ini yang senantiasa meneguhkan untuk makin mencintai Kristus dan berbagi dengan sesama, sebagaimana yang tercermin dalam lagu di bawah ini. Lagu ini yang senantiasa juga diulangi selama perjalanan acara magis Brasil. Lagu ini dinyanyikan oleh seorang Jesuit, Cristobal Fones SJ dan saya ingat persisi lagu ini juga menjadi lagu favorit magister saya ketika novisiat.

Amarte a ti, Senor
En todas las cosas
Y a todas en ti
En todo amar y servir
En todo amar y servir.

 

Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman mengikuti MAGIS Gathering dan World Youth Day di Brasil pada 2013. Refleksi ini juga telah dimuat di majalah Internos 2013

Keramahtamahan yang Tak Pernah Terpikirkan

 

Image

 

Brasil. Siapapun yang berpikir tentangnya barangkali akan membayangkan penuh dengan kejahatan tempat para mafia dan bandar narkoba. Kami semua pun berpikir tentang hal yang sama. Bahkan sebelum berangkat, tak jarang pesan yang kami dapat supaya penuh hati-hati selama di sana. Maka tak heran jika ada yang merasa takut karena bayangan yang demikian menakutkan. Barangkali jika berkunjung ke Salvador, Bahia, suasana penuh ketakutan itu memang ada. Di sana kami sempat melakukan city tour. Kami harus dikawal polisi yang selalu siap dengan pistolnya, kalau-kalau ada yang melakukan hal yang tidak diinginkan. Hampir di setiap sudut tempat orang bermain judi, minuman keras dijual di mana saja, musik diputar sekeras mungkin. Dan satu lagi, tampang orang-orangnya amat menyeramkan. Maka, ketika di Salvador kami memang kami mengamini Brasil sebagai negara yang tingkat kejahatannya tinggi.

Namun segera pengalaman itu diganti dengan pengalaman yang bertolak belakang. Pengalaman berkunjung ke kota lain misalnya Rio de Janeiro, Sao Paulo dan wilayah sekitarnya seperti Santos dan berjumpa dengan banyak pribadi di sana membuka mata kami akan keramahtamahan negara ini. Siapa bilang Brasil tidak ramah? Siapa bilang Brasil penuh dengan kejahatan? Kami merasa bahwa pengalaman di Salvador amat tidak dapat digeneralisasi untuk mengatakan bahwa Brasil negara yang penuh kejahatan. Buktinya kami mengalami perjumpaan yang sungguh mengesankan dari banyak pribadi.

Beberapa kali mendapatkan bantuan yang sungguh berarti. Kami diterima di setiap tempat yang kami singgahi bahkan diperlakukan lebih dari tamu. Suatu kali ketika kami berjalan (peregrinasi) seseorang mendekati kami dengan sepedanya, sambil memberi semangat dia memberi kami dua botol minuman segar guarana, khas Brasil. Ketika kami tidak tahu jalan, sering kali tanpa kami minta, orang menawarkan bantuan pada kami bahkan tidak segan-segan ada yang mengantar kami sampai ke tujuan. Bukankah ini suatu kebaikan dan keramahtamahan yang tak terkira?

Pengalaman di Brasil mengubah gambaran kami tentang orang-orang Brasil. Beberapa teman bercerita tentang pengalamannya.

Sebelum ke sana, stigma yang melekat itu orang-orang Brazil jahat, harus hati-hati sama mereka karena bisa rampok-rampok bunuh-bunuh orang. Sampe sana, ya emang horror sih tapi mereka mau aja untuk bantu strangers. Jadi inget waktu peregrinasi, lagi jalan eh ada yang ngasih minuman. Di indonesia mana ada? (Vera, Magis Jakarta)

Pada persepsi awal, sebelum ke sana adalah rasa takut dengan karakter orang Amerika selatan. Biasanya kalau muncul di TV adalah human trafficking, drugs, penipuan. Cuma semua pandangan itu hilang saat ngerasain budaya mereka secara langsung. Mereka hampir seluruhnya sangat helpful and welcoming. (Fitri, Magis Jakarta)

Orang-orangnya ramah banget seperti supir bus, kondektur, polisi, dll. Gue awalnya berpikir gue akan kena drug trafficking atau perdagangan organ tubuh atau ketembak mafia. (Priska, Magis Jakarta)

Kami semua mengalami suatu proses transformasi paradigma tentang Brasil. Bayangan tentang Brasil sebelum dan sesudah ke sana sungguh bertolakbelakang. Keramahtamahan itulah yang melancarkan perjalanan kami selama di sana. Mereka orang yang sangat welcoming dan selalu tampak ingin menjelaskan banyak hal tentang budaya dan apa saja tentang negara mereka.

Sebagian besar orang Brasil yang kami jumpai tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan para romo juga sebagian tidak bisa berbahasa Inggris. Memang bahasa Spanyol mereka sangat mahir. Namun, bahasa tidak menjadi batas untuk bersikap ramah kepada siapa saja. Walau kami sering tidak saling mengerti (bahasa) tetapi bisa saling memahami. Dalam banyak waktu kami menggunakan bahasa tubuh. Mereka sungguh menerima dan menganggap kami seperti keluarga. Barangkali menjadi kebiasaan bagi mereka untuk memeluk siapa saja. Namun bagi kami, rasanya seperti keluarga atau orang yang sudah amat lama kenal. Kami merasa sungguh diterima. Maka benarlah kutipan syair dalam lagu hymne magis brasil 2013:

From Europe and America, from Asia and Africa
From the islands and the seas, for a world renewed and free
Everyone is meant to be.

Keramahtamahan mereka membuat setiap orang sungguh dihargai, dihormati dan bahkan dianggap sebagai keluarga karena setiap orang punya arti dan makna sendiri.

Kami pun mereka-reka, boleh jadi, masyarakat Brasil sangat ramah karena penduduknya yang multikultural. Hal itu dikarenakan dulunya Brasil banyak didatangi oleh para pendatang seperti orang Eropa dan juga Asia yang kebanyakan adalah orang Jepang. Maka, kalau sekarang melihat ras mereka betul-betul bercampur. Karena itu juga sepertinya tingkat toleransi mereka sangat tinggi.

 

Kacang Merah dan Kopi a la Brasil
Setiap kali makan nasi, pasti akan selalu ada kacang merah. Itu menjadi hukum wajib. Di mana-mana akan selalu dijumpai nasi dan kacang merah. Menu ini biasanya untuk siang hari. Daging menjadi makanan utama orang Brasil sehingga harganya bisa dikatakan relatif lebih murah dibanding makanan lainnya.

Setelah makan orang biasanya minum kopi. Dalam bahasa Portugisnya cafe do Brasil. Rasa-rasanya itu menjadi hukum wajib juga. Di setiap tempat makan yang kami masuki ada coffee corner. Bagi mereka penutup makan adalah small cup coffee. Dan itu disediakan gratis untuk semua pengunjung. Tampaknya kopi menjadi suatu keharusan. Bukan tanpa alasan, Brasil juga dikenal sebagai “negara kopi” karena mereka mampu memproduksi kopi dalam jumlah yang tinggi dan mengekspornya ke banyak negara. Mereka pun punya sejarah yang cukup panjang tentang kopi. Kami sempat mengujungi museum kopi di kota Santos.

Tentang makanan, orang Brasil sangat menjunjung kebersihan. Itu tampak dari kebiasaan setiap orang/pelayan menggunakan jaring penutup kepala. Pemandangan seperti ini tidak hanya ada di restoran tetapi di setiap rumah pun mereka yang melayani di dapur wajib memakai jaring penutup kepala. Kata seorang teman Brasil, satu rambut akan mengurangi banyak pengunjung dan penilaian masyarakat/pengunjung terhadap restoran tersebut akan menjadi sangat rendah. Kebersihan tidak hanya menjadi bagian dari kualitas pelayanan tetapi akhirnya menjadi sikap/cara bertindak yang mereka junjung tinggi.
Bola, Musik dan Goyang Samba
Ketika kami menjalani peregrinasi kami selalu menginap di gereja. Setiap kali kami mampir ke Gereja, umat khususnya orang muda sudah menanti kami dengan penuh kegembiraan. Setelah makan mereka selalu mangajak kami untuk bermain bola. Dan yang mengajak tidak hanya laki-laki bahkan perempuan juga tidak kalah semangatnya. Selama menjalani peregrinasi dan di setiap kota yang kami kunjungi/lewati pemandangan yang selalu ada adalah sepak bola. Mulai dari anak-anak sampai opa-oma, laki-laki dan perempuan, semuanya bisa bermain bola. Tak heran jika bintang-bintang pesepak bola banyak datang dari Brasil. Selain itu mereka semua juga suka menonton bola. Dan ketika mereka menonton bola, teriak dan ekspresi akan selalu ada sepanjang pertandingan berlangsung. Tak sedikit yang menggeprak meja. Tapi itu adalah bagian dari ekspresi mereka ketika menonton.

Seorang teman mengatakan: orang Brasil itu lahir sudah dengan dua kemampuan: satu bermain bola dua musik. Hidup belum lengkap tanpa musik. Di mana-mana dan di setiap acara selalu ada musik. Jenis musik mereka pun tendesinya lebih ke yang membangkitkan semangat untuk bergoyang. Musik akan selalu berpasangan dengan goyang/tarian. Dan yang khas dari mereka adalah goyang samba. Dua hal ini selalu beriringan. Maka, bisa ditambahkan bahwa orang Brasil itu lahir sudah dengan tiga kemampuan: bermain bola, bermusik atau setidaknya menyanyi dan menari/goyang samba. Kalau mau melihat semangat orang Brasil, perhatikanlah saat mereka menyanyi dan menari. Seorang teman mengatakan: “Kayaknya bangga banget kalau bisa nari samba dengan gerakan kaki yang complicated” (Dion, Magis Jogja). Dan yang luar biasa adalah kalau sudah menyanyi dan menari mereka bisa tahan lama. Ketika kami mengadakan flash mob teman-teman Brasil-lah yang tampak paling bersemangat dan tidak pernah lelah melakukannya berulang-ulang. Ketika mendengar musik seakan-akan naluri mereka untuk bergerak begitu cepat bereaksi. Ketika di aula ada musik mereka langsung berlarian dan bersama-sama menari. Seorang teman sampai mengatakan “baterenya ga abis-abis bo” (Esi Maria, Magis Jakarta).

 

Peduli Pada yang Lemah
Ketika sudah tiba di sana dan mengalami hidup di sana, kami ragu untuk mengatakan bahwa Brasil itu negara berkembang. Mengapa? Kami melihat fasilitas umum mereka bisa dikatakan sangat maju, banyak yang mewah dan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Dan pembangunan/fasilitas umum selalu memperhatikan orang-orang yang lemah. Pemerintah Brasil sangat peduli akan sarana untuk orang cacat di setiap fasilitas publik. Kami melihat di semua tempat selalu tersedia tempat khusus bagi mereka yang cacat/lemah. Fasilitas publik (bangunan atau transportasi) selalu memberi akses bahkan mengutamakan orang cacat/lemah. Konkretnya, di semua kamar mandi, selalu tersedia kamar mandi untuk orang cacat/lemah. Di setiap transportasi umum: metro (bus), subway selalu ada tempat khusus untuk orang cacat/lemah. Dan masyarakat sungguh-sungguh menaati peraturan tersebut.

 

Kesenian: Ekspresi Kebebasan
Pemandangan yang cukup unik adalah di sudut-sudut jalan biasanya terdapat mural. Itu bagian dari art street yang menambah keindahan kota, unik, dan menunjukkan kebebasan berekspresi. Tidak hanya mural tapi banyak sculpture yang turut mempercantik kota-kota mereka. “Bikin muralnya juga ga tanggung-tanggung bisa segede high rise building dan artistnya bukan artist ecek ecek,” demikian kata seorang teman. Karena itu kami merasa bahwa Brasil kota seni, di sana ada kebebasan untuk berkreasi.

 

 

Tulisan ini merupakan refleksi atas kesaksian budaya Brasil, dimuat di Internos 2013.

 

 

 

 

Satu Hati Satu Tekad Mengembangkan Layar Kanisius

 

“Semoga di masa depan, di sekolah-sekolah Kanisius terus hidup model pendidikan reflektif, yang mengajak setiap orang untuk terbuka bagi makna baru dari hidup kita yang merupakan anugerah dari Allah ini.”

Pesan tersebut disampaikan oleh Romo Provincial dalam sambutannya pada yubileum 95 tahun Yayasan Kanisius. Rasa syukur atas usia 95 tahun tersebut diungkapkan dalam Perayaan Ekaristi bersama Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. J. Pujasumarta Pr sebagai selebran utama, Romo provincial Serikat Yesus Indonesia Rm. Riyo Mursanto SJ, ketua pengurus yayasan Kanisius Rm. Paul Suparno SJ, direktur yayasan Kanisius Pusat dan cabang Semarang Rm. Sigit Widisana SJ, direktur kanisius cabang Yogyakarta Rm. A. Mintara SJ, direktur kanisius cabang Surakarta Rm. Moerti Yoedho Koesoemo SJ, kepala paroki Muntilan Rm. Surya SJ dan beberapa romo undangan lainnya.

Kanisius dalam usia 95 telah banyak mengukir sejarah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Usia yang memang pantas disyukuri, ketika banyak organisasi/yayasan pendidikan lainnya telah mati, Kanisius masih tetap ada tentu bukan tanpa gelombang tantangan yang dari waktu ke waktu harus dihadapi. Refleksi atas perjalanan hidup yang begitu lama juga menjadi langkah konkret untuk bisa memetakan perjalanan di masa depan. Saatnya pula untuk menggali dan menemukan kembali semangat para pendahulu yang telah sedemikian berjerih payah untuk mendidik orang-orang muda. Mengapa orang muda? Karena orang muda diyakini akan membentuk masa depan gereja dan masyarakat. Maka, pendidikan menjadi ranah yang sangat relevan dan kontekstual untuk mewujudkan misi tersebut.

Tema yang diangkat dalam Yubileum 95 tahun Yayasan Kanisius adalah “Satu hati, satu tekad, mengembangkan layar Kanisius”.

 

Menapak Sejarah Masa Lalu
Kita tahu bahwa Petrus Kanisius adalah salah satu jesuit yang diutus Bapa Ignatius mendirikan mendirikan kolese pertama 1548 di Messina. Memang setelah dari Messina, Kanisius hijrah ke Jerman untuk menjalankan tugas perutusan baru namun dalam ranah yang sama yakni pendidikan. Karya pelayanan Kanisius menampakkan jiwa militannya dalam mendidik orang-orang muda. Nama Yayasan Kanisius pun berasal dari nama St. Petrus Kanisius yang lahir tahun 1521 di Nijmegen, Belanda. Dia menjadi Jesuit tahun 1543 waktu berumur 22 tahun.

Yayasan Kanisius didirikan pada tahun 1918 oleh Pater Fransiskus van Lith, SJ dengan tujuan: memberi kesempatan belajar kepada anak-anak rakyat kecil yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dan menabur sabda Kristus di kalangan masyarakat Jawa. Awalnya yayasan Kanisius dinamakan Canisius Vereniging atau perkumpulan Kanisius didirikan tanggal 31 Agustus 1918 di Muntilan oleh P. J.H.J.L. Hoeberechts, SJ sebagai ketua dan P. Josephus van Lith, SJ sebagai sekretaris. Ketika P. Van Lith meninggal, jumlah sekolahan Kanisius sebanyak 74 sekolah dan semuanya adalah SD. Canisius Vereniging kemudian diubah menjadi Canisius Stichting pada saat P. F. Strater, SJ menjadi direktur.

Perahu Kanisius mulai menghadapi gelombang ketika perang dunia II pada saat Rm. Djajasepoetra SJ menjadi pimpinan. Sekolah yang berbahasa Belanda ditutup dan sekolah berbahasa Jawa yang ada di pelosok-pelosok kehilangan subsidi, pemimpin dan pengasuhnya. Gelombang itu tak hanya terhenti pada perang dunia tetapi juga masa revolusi pasca kemerdekaan Indonesia.
Tak lama kemudian, sekitar tahun 1950-1953 nama Canisius Stichting berubah menjadi Yayasan Kanisius. Perubahan itu terjadi ketika P. Looymans SJ menjabat sebagai pimpinan Kanisius. Gelombang yang saat itu dihadapi bantuan bersubsidi untuk semua sekolah swasta dihapuskan sehingga banyak guru yang pindah ke negeri yang membawa dampak selanjutnya yaitu mencari guru-guru pengganti. Maka, diputuskan untuk mengadakan reorganisasi baru dan dengan berat hati menyerahkan beberapa sekolah ke pihak lain: Marsudirini, Keluarga, Tarakanita, Loyola, de Britto, Kebon Dalem dan Marganingsih.

Melihat ke belakang bukanlah sebuah romantisme nostalgia melainkan sebuah ajakan untuk menimba semangat para pendahulu. Betapa pendidikan menjadi media yang mencerahkan budi dan hati anak-anak didik. Dan itu merupakan suatu kebanggaan luar biasa yang pernah dimiliki. Dalam kotbahnya, Bapak Uskup juga menekankan: “Semoga keyakinan Tuhan menyertai di masa lampau memberi semangat untuk menjalani masa sekarang yang penuh tantangan. Tidak hanya di masa kini tetapi untuk di masa yang akan datang pula. Sekiranya ini menjadi suatu mesin yang bisa memompa semangat kita.”

 

Banyak Sekolah yang “Mati”
Sekolah Katolik banyak yang mati. Pernyataan itu bukan hanya isu semata melainkan merupakan fakta yang banyak dialami oleh sekolah-sekolah Katolik. Yayasan Kanisius juga memiliki kisah perjuangan yang sama. Hal ini jelas terlihat ketika kita melihat ke belakang dan mengamati sejarah yang pernah terjadi dan fakta masa kini. Sejarah menampilkan banyak sekolah Kanisius yang diserahkan ke pihak lain dan tak jarang pula yang ditutup. Dalam kotbahnya Bapak Uskup mengatakan: “Bagi sekolah-sekolah Kanisius yang memang karena situasi harus tutup, maka sekolah tersebut sudah menjadi “pahlawan” yang telah berjuang sekian tahun dan melahirkan generasi yang baik dan bermutu.”

Di sisi lain kita pun harus tetap melihat masa sekarang di mana masih cukup banyak sekolah Kanisius yang juga masih berdiri dengan tegak dan berani tetapi ada pula yang malu-malu. Atas fakta ini Romo Provincial menandaskan: “… semangat persevera itu tetap hidup di dalam hati para pengasuh pendidikan di sekolah-sekolah Kanisius. Semangat itu juga hidup di dada banyak orang untuk tetap mempertahankan tanda kehadiran Kerajaan Allah sebagai kerajaan kasih itu dalam masyarakat.” Artinya kalau Kanisius masih bertahan dari goncangan gelombang ombak, itu karena adanya semangat pengorbanan dan pengabdian yang tinggi dari para guru dan karyawan. Selain itu ada pula dukungan nyata dari orang tua dan pemerhati pendidikan di persekolahan Kanisius.

 

Kanisius: Fakta Masa Kini
Pada tahun ajaran 2013-2014 Yayasan Kanisius memiliki 194 sekolah. Tingkat TK berjumlah 68 sekolah; tingkat SD berjumlah 93 sekolah; tingkat SMP berjumlah 23 sekolah; tingkat SMA berjumlah 6 sekolah dan tingkat SMK berjumlah 4 sekolah. Yayasan Kanisius masih memperjuangkan pelayanan pendidikan yang masih ada khususnya di tingkat dasar dan menengah. Hal ini selaras dengan pesan Gravisimum Educationis (Pernyataan tentang Pendidikan Kristen): “oleh sebab itu memang tetap harus dikembangkan sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah, yang meletakkan dasar-dasar pendidikan”.

Jumlah siswa seluruhnya 23.030 orang; guru 1.108 orang; karyawan 211 orang. Berdasarkan data yang ada Rm. Sigit Widisana SJ sebagai direktur yayasan Kanisius, pernah membuat perbandingan guru dan siswa. Hasilnya adalah 1: 20,78 artinya 1 guru : 21 orang siswa.

 

Harapan akan Masa Depan
Perayaan syukur ini dihadiri kurang lebih 2000 orang terdiri dari semua guru, karyawan dan sejumlah siswa dari semua cabang: Semarang, Magelang, Yogyakarta dan Surakarta. Perayaan ini diadakan di Muntilan tepatnya di lapangan SMP Kanisius, Muntilan. Mereka yang datang dari jauh seperti Juwana, Pati, Wonogiri bahkan berangkat jam 04.00 subuh. Perayaan Misa syukur sendiri diadakan pkl. 10.00 WIB. Setelah Misa Syukur, acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan dan dimeriahkan oleh tampilan-tampilan dari anak-anak SD Kanisius, para guru yang secara khusus didominasi oleh IGTK (Ikatan Guru TK) dari masing-masing cabang.
Dalam sambutannya Bapak Uskup juga menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih kepada Serikat Yesus yang dipercayai oleh Keuskupan Agung Semarang menjadi nahkoda perahu dalam mengarungi lautan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menerjang gelombang-gelombang yang menggetarkan, melawan arus-arus besar zaman, seperti perahu yang bertiangkan salib Kristus dan dihembus oleh daya kekuatan Roh Kudus Yayasan Kanisius terus melaju menuju Kerajaan Bapa yang memerdekakan. Terima kasih juga kepada para guru dan karyawan yang sudah purna tugas dan sedang giat memajukan sekolah-sekolah Kanisius secara kreatif dan tak kenal lelah menjadikan sekolah-sekolah Kanisius tetap memikat dan diminati serta dipilih oleh orangtua menyekolahkan anak-anaknya agar memperoleh pendidikan yang eksploratif, integral, kreatif dan memerdekakan.”

Dengan satu hati dan satu tekad, semua ingin mengembangkan layar Kanisius ini untuk masa-masa yang akan datang. Romo provincial menekankan semoga pendidikan di Kanisius yang berwajah pendidikan hati dan pendidikan kepribadian ini tetap merupakan alternatif dari pendidikan yang semata-mata mementingkan materi dan sisi intelektual. Akhirnya, semoga dengan penuh kegembiraan semua bersatu hati dan tekad untuk kembali menyuburkan tanah Kanisius demi tumbuh-berkembangnya benih-benih Kerajaan Allah, demi keselamatan jiwa anak-anak muda dan kemuliaan Allah yang lebih besar.

Dirgahayu Kanisius! AMDG!

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka ulang tahun ke-95 Yayasan Kanisius Pendidikan, dimuat di Internos 2013.

Menembus Hujan-Banjir, Merengkuh Kegembiraan

Beberapa hari ini hujan terus mengguyur kota Semarang. Seorang anggota komunitas berkomentar “hujannya dinamis”. Sebentar rintik-rintik lalu lebat lagi. Begitu seterusnya.

Empat hari lalu aku mendapat telpon dari seorang kepala sekolah di salah satu sekolah di Kudus. Beliau memberitahukan undangan ultang tahun sekolah yang ke 65. Dalam pembicaraan tersebut, beliau sangat mengharapkan kehadiran perwakilan dari yayasan. Aku sendiri sudah memberitahu kalau Direktur sudah ada jadwal di tempat lain yang tidak bisa diwakilkan.

Tiga hari lalu. Di pagi hari undangan tertulis untuk acara tersebut baru datang. Dalam undangan tersebut salah satu agenda acara adalah “orasi pendidikan” yang diberikan oleh direktur yayasan dan kepala dinas. Direktur memberiku kebebasan untuk memilih akan ikut acara yang mana, Barat (bersama beliau), Timur atau Kota. Dengan ringan kujawab: “kalau tidak hujan saya akan ke Kudus, jika hujan maka saya akan berkeliling ke tiga sekolah di Kota yang sedang open house.”

“Bagaimanapun besok ada kemungkinan aku ke Kudus,” kataku dalam hati. Yang segera terpikir olehku “artinya besok aku yang akan menggantikan direktur untuk memberi orasi”. Aku sendiri tertawa ketika membaca undangan ini. Apa benar sekolah mengagendakan orasi? Ataukah yang dimaksud orasi adalah sambutan sebagaimana biasanya? Dalam kesederhanaan pemahamanku orasi itu semacam pidato yang diberikan oleh seseorang yang dirasa cukup ahli dalam bidang tertentu. Apa tidak salah aku memberikan orasi dalam bidang pendidikan? Siapakah aku ini yang mau berorasi? Barangkali kalau berorasi di jalan aku bisa. Dulu, waktu kuliah, aku tiga kali berorasi setiap hari Sumpah Pemuda. Itupun sebenarnya karena aku menjadi gerekan sosial senat. Selanjutnya karena permintaan teman serumah. Namun, orasi kali ini tentu bereda. Nuansa intelektual menjadi ciri khasnya.

Malam harinya, aku mendapat telpon lagi dari kepala sekolah. Mereka sungguh mengharapkan kehadiran perwakilan dari yayasan. Dan sekali lagi, orang yang paling mungkin hadir adalah aku. Bisa saja aku menolak. Dan ada banyak alasan untuk itu. Sekolah di tempat lain juga membutuhkan. Tokh direktur sendiri memberiku kebebasan. Dan hujan! Itu tentu alasan yang amat kuat.

Namun entah kenapa ada perasaan yang jauh lebih kuat yang mendorongku untuk mengusahakan hadir pada perayaan ulang tahun sekolah tersebut. Aku merasa disodorkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mungkin aku tidak menyambut penantian orang-orang yang mengharapkan kehadiranku? Mereka dengan penuh kegembiraan merayakan ulang tahun ke-65, apa aku tidak mau menyambut kegembiraan yang mereka tawarkan? Apa aku tidak mau bergembira bersama mereka? Kegembiraan itulah yang menjadi alasan kuat bagiku untuk berangkat.

Pagi-pagi kukendarai motorku menuju kota Kudus. Jujur, aku masih menyimpan keraguana, karena buruknya cuaca, karena aku belum begitu mengenal kota ini sehingga orientasi jalan masih kabur. Memang aku sudah 4 kali berkunjung ke sana tetapi selalu bersama orang lain. Sendirian saja aku belum pernah. Tapi, “bersama Dia pasti bisa, kata seorang saudara. Kubulatkan tekadku. I have to go!

Kukenakan jas hujan yang akhirnya tembus air juga. Yah, hujan memang lagi hebat-hebatnya mengguyur semua daerah Jawa Tengah. Belum aku ke luar dari kota Semarang, banjir sudah selutut. Laju motor kupelankan, kuikuti beberapa motor di depanku. Pikirku sederhana, jika mereka jatuh berarti di depanku ada lubang. Aku sungguh berhati-hati. Belum lagi jalan ke kota Kudus diwarnai dengan lubang-lubang. Padahal beberapa bulan lalu jalan ke sana masih cukup mulus. Barangkali karena truk-truk besar yang tak pernah berhenti melintasi jalan tersebut.

Sepanjang perjalanan hujan terus mengguyur. Kadang rintik-rintik, tetapi lebih sering hujannya lebat. Bagi orang sepertiku, yang cacat mata dan menggunakan kacamata, mengendarai motor saat hujan adalah sebuah perjuangan, pandangan amat kabur dan aku tahu kalau itu berbahaya. Laju motorku hanya sekitar 50 Km/jam. Lama kelamaan aku merasa perjalanan itu tidak berujung. Sampai aku merasa capek. Sesekali jika jalanan sepi laju motorku kupercepat sampai 80 km/jam. Tidak lebih dari itu. Aku belum kenal medan, banyak lubang dan hujan. Akhirnya setelah 1 jam 45 menit, aku tiba di kota Kudus tepat di sekolah Kanisius. Kuparkir motorku, kubereskan jas hujanku dan segera aku berganti pakaian dan memakai sepatu. Tampilan formal. Batik, celana kain, sepatu pantofel.

Aku menempati kursi paling depan. Sebenarnya aku paling tidak suka suasana semacam ini. Tapi mau bagaimana lagi. Kehadiranku tidak hanya mewakili diriku, aku mewakili direktur, aku mewakili yayasan, aku mewakili serikat, aku mewakili keuskupan. Agak lebay mungkin :). Bersamaku ada beberapa orang pemerintahan yang bertugas di dinas pendidikan, komite sekolah, para donatur, perwakilan masyarakat, orang tua siswa, guru-guru, beberapa kepala sekolah, romo paroki dan dewannya serta anak-anak sekolah. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Tugasku jelas, aku akan memberikan orasi (sekali lagi menurutku ini bahasa mereka). Aku sudah menyiapkan sebanyak dua setengah/tiga halaman. Malam harinya aku membaca banyak tanggapan Anies Baswedan tentang pendidikan. Retorikanya membuatku sungguh terkesan dan mengobarkan semangatku untuk menyampaikan pidato/orasi sebagaimana dia berpidato/berorasi. Aku tahu tentu latar belakang pengalaman dan pengetahuannya memang amat luas. Well, siang harinya aku juga sudah menyempatkan membaca PPR (paradigma pedagogi reflektif) yang menjadi bagian dari cara pendidikan khas di persekolahan Kanisius. Maka, berdasarkan itu semua aku meramu sambutan atau pidato atau orasi atau mungkin yang lebih tepat sharing.

Ketika tiba saatnya, aku pun menyampaikan kata sambutan dan dua poin besar tentang pendidikan. Point besarnya: pendidikan kemanusiaan dan sikap kita terhadap pendidikan. Tentu kusertakan ucapan terima kasih pula kepada semua pihak yang sudah mendukung penyelenggaraan sekolah sampai usianya yang ke-65 ini. Didengarkan atau tidak, dipahami atau tidak, bermutu atau tidak, yang pasti aku telah menyampaikannya dengan penuh usaha.

Tanpa mengurangi usaha untuk menyampaikannya dan mengusahakan yang terbaik, bagiku, yang terpenting bukan itu lagi. Namun yang terpenting bagiku adalah aku bisa hadir di tengah-tengah mereka. Dan adalah rahmat tersendiri ketika mereka menyambutku dengan penuh kegembiraan. Setiap wajah yang kujumpai ada pancaran kegembiraan. “Tidak salah aku datang ke sini”, tegasku dalam hati. Jiwaku sungguh dipuaskan. Hujan, banjir, jalan berlubang, jauh, capek, apapun itu, semua demi merengkuh kegembiraan ini. Wajah kegembiraan inilah yang membayar semua perjuanganku hari itu. Tak ada satu materipun yang bisa membayarnya.

Kutembus hujan dan banjir untuk merengkuh kegembiraan jiwa…

sebuah “ruang”

Akhir-akhir ini aku suka merekam obrolan-obrolan kecilku dengan siapa saja yang kuanggap berharga, bernilai, bermakna walau singkat dan sederhana.

Kemarin, aku bersama seorang saudara jalan-jalan ke Purwodadi. Tak satu pun dari kami yang pernah menjejakkan kaki di sana. Maka tekad kami hanyalah ingin mengisi hari libur dengan jalan-jalan ke sana. Hanya itu. Dan kami nikmati perjalanan.

Cerita demi cerita menemani jalan-jalan kami. Kami mengobrolkan tentang sebuah “ruang”. Kusebut sebagai ruang karena rasanya tak ada sebutan yang bisa menggambarkannya dengan pasti. Obrolan kami itu berawal dari Habibie Ainun. Aku belum pernah menontonnya apalagi membaca novelnya. Ketika film itu booming di bioskop rasa-rasaku film itu biasa-biasa saja. Tapi (setelah diceritakan dan menontonnya sepulangjalan-jalan) ternyata ada yang tidak biasa dari film/kisah tersebut dan memang tidak layak disebut ‘biasa-biasa saja’.

images

Itu adalah kisah pasangan suami isteri. Siapapun yang menonton akan setuju kalau mereka, Habibie & Ainun, adalah pasangan yang menghidupi sungguh apa arti kesetiaan. Namun kesetiaan itu berujung pada sebuah rasa ketergantungan. Memang, suami isteri patutnya setia dan selalu bersama selamanya. Hidup tentu akan terasa bahagia, seperti bulan madu setiap hari. Namun ketika salah satu tulang rusuk itu harus diambil maka hidup seakan kehilangan maknanya; yang tersisa adalah sakit dan luka yang tak ada obatnya. Habibie kehilangan Aninun setelah beberapa waktu menderita kanker. Kepergian sang kekasih hidup seketika membuat hidup seakan tak layak dijalani. Hari-hari membekaskan bayangan akan Ainun. Bagaimana tidak, lima puluh tahun sudah mereka mengaruhi bahtera hidup. Pahit getirnya hidup telah ditelan bersama. Dan bukankah itu memang suatu proses alami sebagai manusia? Aku sempat berpikir mengapa orang disatukan lalu pada akhirnya dipisahkan? Bukankah ini ketidakadilan; ketika dua menjadi satu lalu diceraikan lagi, apa itu cukup adil?

Ini pergumulan. Aku saja yang tidak berkeluarga (atau belum…hehehe…) merasakan perpisahan itu sebagai salib yang berat dan amat memilukan. Namun karena hidup harus terus berjalan, Habibie perlu menerima kepergian Ainun. Ia harus merelakan kepergiannya dan secara jujur mengakuinya. Habibie memperlukan sebuah terapi untuk akhirnya bisa melepas kepergian. Terapi itu dijalani dengan menuliskan semua pengalaman hidupnya bersama Ainun. Dengan itu dia melepaskan segala beban yang belum membuatnya lepas bebas menjalani hari-harinya semenjak kepergian Ainun. Itulah terapi yang pelan-pelan membuatnya bisa menerima kenyataan ini.

Ragam perspektif dapat dipakai untuk menonton/mengamat-amati persitiwa ini. Namun kami pilih melihatnya dari kata ‘terapi’. Ketika seseorang berada dalam pergumulan hidup – mengalami krisis yang tampak tak berkesudahan yang membuat hidup seakan tak layak lagi dijalani – ia perlu masuk ke sebuah “ruang”. Sekali lagi aku merasa tak ada sebutan yang amat pas untuknya selain itu. Sebuah “ruang” yang kumaksud adalah saat di mana seseorang hening, secara jernih melihat hidupnya, meneliti krisisnya. Di dalam “ruang” itu dia berjumpa dengan dirinya sendiri. Pasti ada banyak penolakan, pemberontakan. Ketika itu kami merasa beruntung bahwa sebagai jesuit kami diajarkan untuk selalu menyediakan waktu hening. Dalam situasi itu, kami diajari untuk secara bening melihat jejak pengalaman yang telah lalu, selanjutnya belajar membuat peta di hari kemudian. Kami diajari menerima dengan lepas bebas dan bahkan selalu berusaha menempatkan rasa syukur. Kukatakan ini bukan hal mudah. Namun kukatakan pula mungkin ini jalan terbaik karena tokh tak ada orang yang bisa sedemikian mengerti betapa hancurnya hidup yang dijalani, betapa beratnya krisis yang menerpa. Ini pergumulan.

Ketika berada pada situasi pergumulan hebat; daya tak lagi ada; … Di sanalah seseorang perlu masuk ke dalam “ruang” tersebut. Kalau Habibie masuk ke dalam ruang terapi dengan menuliskan perziarahan rumah tangganya bersama Ainun – dan dengan itu dia pelan-pelan nan pasti melepaskan segala yang menghambatnya untuk tulus menerima ketiadaan Ainun- maka sebagai Jesuit ruang terapi itu situasi hening dan bening meneliti hidup, mencecap-cecap segala yang dialami.

Ada saat di mana seseorang bergumul sampai seakan-akan berada di akhir batas dayanya. “Ruang” – di mana seseorang sendiri dan yang ada hanya keheningan – membantu untuk melihat segala menjadi lebih jelas dengan mata yang baru. Pahit getir pergumulan dan pencarian dicerahkan dalam “ruang” itu. Inilah proses beriman itu, selalu bergumul, selalu ada kegelisahan dan seseorang diajak untuk terus mencari dan mencari. Ia tak pernah mapan.

Entah,

“the voice that calls within”…

Akhir-akhir ini aku memang amat sibuk dengan tugas-tugasku yang baru. Bangun pagi-pagi, ikut Misa lalu sarapan dan bergegas berangkat kerja. Kadang aku pulang sore kadang juga teramat sore. Dan yang kubawa pulang adalah rasa capek disertai pikiran tentang kelanjutan tugas di hari esok. Aku belum pernah merasa sedemikian lelah yang berkelanjutan. Aku ingin setiap kali pulang langsung saja menjatuhkan diri di bantal, tidur sampai esok. Tak usah mandi, pun makan. Tidur sudah sangat berharga bagiku. Aku tidak stres, hanya lelah saja. Boleh jadi karena shock juga dengan keadaan baru.

Suatu waktu aku bercerita dengan seorang saudara, membagikan secuil pengalaman yang kudapatkan di tempat baruku ini termasuk tentang kisah ini. Sungguh pun aku tahu ini masih sangat awal. Aku tak menduga kalau cerita-cerita kecil ini membawa suatu peneguhan bagiku. Maka amat sayang jika diskusi-diskusi rohani ini tidak kutuliskan. Ini berharga karena meneguhkan.

Setelah kami saling bertukar cerita, saudaraku itu menanggapi: “Daftar tugasnya banyak ya! Dalam semua itu semoga ora lali sembahyang lan bimbingan rohani. Dan semoga semakin mengalami kebenaran bahwa dari sisi tugas dan pekerjaan, menjadi jesuit itu akan membawa kita tidak akan pernah kekurangan pekerjaan. Tetapi akumulasi tugas dan pekerjaan sendiri tidak dengan sendirinya menentukan kejesuitan kita.” Entah mengapa, tapi semua yang dikatakan itu tepat mengena diriku.

Beberapa waktu terakhir, aku memang banyak bergulat dengan hidup rohani. Bahkan, dalam beberapa kesempatan aku banyak bertanya pada Tuhan. Mengapa ada orang yang punya relasi intim dengan Tuhan? Mengapa mereka sedemikian kuat meyakini bahwa panggilan yang mereka jalani adalah pilihan tepat bagi mereka? Aku heran. Tapi aku juga iri. Aku iri karena kekokohan pondasi panggilan mereka. Sehingga ketika ada badai yang coba menggoyangkan ia tetap berdiri tegap. Aku iri karena aku tak memiliki kekokohan yang demikian. Aku iri karena relasiku dengan Tuhan seakan-akan hanya berjalan biasa-biasa saja. Aku iri dengan keintiman mereka bersama Tuhan. Aku juga ingin memiliki keyakinan yang sama. Aku juga ingin memiliki pengalaman yang sama, sehingga kalau datang badai aku tidak goyah karena aku kuat berdiri; karena aku punya pengalaman yang sungguh menguatkanku sebagaimana dengan pengalaman yang dimiliki saudara-saudaraku. Maka, kutanyakan kepada Tuhan, apa yang mesti kubuat agar aku juga bisa seperti mereka? Apa yang harus kubuat agar makin hari relasiku dengan Tuhan makin dekat, akrab dan kokoh? Apa selama ini aku kurang berdoa? Ataukah aku yang “kurang mendalam” merefleksikan pengalaman hidupku? Sungguh, Engkau tahu ya Tuhan bahwa aku juga mau dan berhasrat memiliki keyakinan dan kekokohan iman yang sama seperti mereka; iman yang yakin akan jalan keterpanggilan ini.

Saudaraku menyambungnya: “Kerinduanmu untuk berdoa dan mengalami percakapan rohani itu pasti dari kendalaman yang sering disebut “the voice that calls within”. Tak ada kata terlambat untuk selalu melangkah maju dalam kedekatan dengan Tuhan supaya menjadi saluran rahmat-nya. Tidak ada kebenaran rohani “menghidupi doa di tengah kesibukan karya” tanpa secara pribadi menyedikan waktu konkret berdoa. Apalagi untuk kita, yang masih banyak kelemahan. Dan dalam hal ini kita bisa berpikir praktis dan sederhana: sediakan waktu dan disiplin serta committed dengan rencana tersebut.

Kusadari, seringkali ungkapan bagus menemukan Tuhan dalam segala atau contemplativus in actione menjadi penghiburan semu yang membenarkanku untuk tidak secara konkret dan teguh mengusahakan waktu doa, membangun keakraban dengan Tuhan; atau bahkan menjadi sekedar wacana saleh untuk mengurangi rasa bersalah yang benar di ruang terdalam nurani ini.

I think I’ll follow the voice that calls within
Dance to the silent song it sings
I hope to find my place
So my life can fall in place
I know in time I’ll find my place
In the greater scheme of things

Aku masih mencintaimu

Keinginan Bartimeus hanyalah sederhana namun eksistensial bagi dirinya. Dia menginginkan kesembuhan, dan persis bahwa keinginan itulah yang mengantarnya untuk memperolehnya.

Iri aku dengan Bartimeus. Mengapa imannya begitu kuat dasarnya. Juga dengan orang-orang, saudara-saudaraku yang punya keintiman relasi yang mengokohkan hidupnya juga, setidaknya membuat mereka yakin dengan apa yang dijalaninya. Sirik aku dengan mereka.

Sudah kukatakan aku ragukan semua mimpi mulia nan heroik yang pernah ada. Barangkali aku akan mendapatnya, tapi aku ragukan juga diriku yang menjalaninya. Aku ragukan kesiapanku, aku cemaskan kesetiaanku, aku takutkan kekuatanku. Melihat samudera dengan gelombang badai dahsyat, padang gurun kering membakar, bukit dengan tanjakan penuh kerikil; sewaktu-waktu batu besar bisa menjatuhimu dari atas. Aku ragukan apakah aku bisa. Jujur, aku tak mau jatuh pada lubang yang sama di mana orang, pendahuluku juga jatuh. Aku ragu, cemas, takut.

Di sinilah aku Tuhan, berdiri lunglai, tak berdaya dan tak kuat lagi. Maka, jika Bartimeus memiliki keinginan untuk sembuh bahkan aku rasa aku tak punya keinginan semacam itu untuk diriku.

Ignatius bahkan menurunkan level pertanyaannya apakah kau punya keinginan untuk menginginkannya?

Well, kujernihkan hati dan budiku, kumantapkan jalan yang harus kulewati. Ingin rasanya kujauhkan mimpi yang pernah ada dan kubuang jauh biar yang baru datang lagi dan kurajut kisah bersamanya. Sulit. Mimpi yang sama masih membayangiku, samar-samar memang tapi ada. Mimpi itu masih bersuara, lirih memang tapi ada. Dia undang aku untuk mencapainya, dia undang aku berbulan madu bersamanya. Sulit.

Aku lelah dan menyerah. Kau luar biasa jauh melebihi yang terpikirkan. Sampai-sampai, aku harus akui bahwa rasa itu masih ada. Dan dengan malu-malu pula kukatakan dari hati terdalamku “aku masih mencintaimu”. Aku tak tahu sampai kapan; tak tahu pula sampai di mana kubisa berdiri tegar memanggul salib hidupku; salib yang kuyakini membawaku sampai pada kemuliaan. Yang kutahu bahwa “aku masih ada rasa denganmu; aku masih ingin melanjutkan kisah kita karena aku masih mencintaimu.”

Jadi!