Va` Dove Ti Porta Il Cuore

Va` Dove Ti Porta Il Cuore

artinya Pergilah ke Mana Hati Membawamu…

pergilah-kemana-hati-membawamu

Olga, si nenek itu, memberi pesan kepada cucunya:

“Dan kelak. di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatiamu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkan hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu…”

Ada yang tidak berubah dalam kehidupan seorang perempuan sejak dulu. Penghayatan atas kehidupan dan cinta, pengetahuan masa lalu, dan pemahaman diri sendiri. Semua ini akan membuat kehidupan perempuan sarat makna. Olga, sang nenek, telah melewati semua itu dan menemukan dirinya sendiri. Ia ingin menjembatani jurang generasi yang demikian dalam dan meraih hati cucunya, membuatnya mengerti bahwa untuk membuat hidupnya berarti, ia harus pergi kemana hatinya membawanya…

Sebab, setiap orang punya kebebasan, tidak perlu ikut-ikutan.

– Kutipan dari Novel Susanna Tamaro, Pergilah ke Mana Hati Membawamu, Jakarta: Gramedia, 2005.

Advertisements

Mengapa Anda Menjalani Hidup Ini?

Tema ini seringkali menjadi pertanyaan oleh banyak orang. Beberapa mungkin akan menjawab dengan mantap. Tak jarang juga ada yang merasa galau dengan pertanyaan itu. Tapi, kegalauan itu barangkali sekaligus menjadi tanda pencarian jawaban atasnya. 

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka secara singkat akan saya jawab, saya menjalani hidup saya yang sekarang ini karena cinta. Karena cinta itu pula saya berani memilih berjerih payah demi memperjuangkan cinta saya itu.

Cinta ini yang meyakinkan saya untuk menjalani hidup yang saya jalani sekarang, paling tidak sampai saat ini. Saya katakan sampai saat ini karena masa depan adalah misteri, yang bukan tanpa harapan. Soal masa depan, siapa sih yang tahu, apa lagi merasa yakin, selain Tuhan? Maka persoalannya bukan saya yakin dengan jalan yang saya hidupi ini, bahwa saya akan tetap di jalani ini seterusnya, tetapi keberanian untuk mengambil dan menjalaninya; keberanian untuk memilih jalan mana yang harus saya tempuh. Satu-satunya keniscayaan adalah kasih Tuhan yang tiada berkesudahan.

Saya hanya berharap, jika cinta ini luntur bahkan padam, saya ingin sekali dan akan merindukan memohon supaya bisa jatuh cinta lagi.