Panggilan: Memperjuangkan Cinta

 

Bapak-ibu, saudara-saudari terkasih selamat pagi… Bagaimana kabarnya? Sehat-sehat? Alhamdulliah…

Bapak-ibu saudara-saudari terkasih, pagi ini saya merasa cukup yakin bahwa sebagian besar dari Anda bertanya-tanya siapa gerangan yang sedang berdiri di depan? Maka baiklah saya pertama-tama memperkenalkan diri. Biasanya, salah satu pertanyaan yang sangat sering ditanyakan orang di awal perjumpaan adalah “aslinya mana?” Kalau saya ditanyain seperti itu, maka saya balik bertanya, “kira-kira dari mana?” Nah, yang cukup menarik adalah muncul beberapa jawaban. Ketika saya masih di Girisonta beberapa tahun lalu, orang-orang di stasi seringkali menjawab: “Frater dari Jakarta ya”? Ketika saya sudah di Jakarta dan bahkan di Semarang sini, orang-orang menanyakan hal yang sama “Frater dari mana?” Sebagian besar menjawab “pasti dari Jogja ya”. Saya jawab “bukan”. Beberapa lainnya menjawab “dari Solo”. Lalu saya jawab: “betul, saya dari Solo… maksud saya Solo-esi.” Mungkin kalau orang tahu nama saya maka orang akan meragukan “ke-Jawa-an” saya dan mulai bertanya-tanya sepertinya saya bukan dari daerah Jawa, dan pelan-pelan membenarkan bahwa saya dari Sulawesi. Sebab nama saya adalah “Melky”, lengkapnya Bonifasius Melkyor Pando. Saat ini saya sedang menjalani masa Tahun Orientasi Kerasulan di Yayasan Kanisius bagian Pendidikan. Selama menjalani masa TOK ini saya tinggal di paroki Gedangan ini, sudah sejak Agustus tahun lalu.

 

Minggu Panggilan

Bapak-ibu, saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja universal merayakan “Hari Minggu Panggilan”. Untuk itulah saya berdiri di depan Anda saat ini. Maka secara lugas pertanyaan yang bisa mengantar sharing saya pada kesempatan ini adalah mengapa saya tertarik menjadi imam/Romo?

Panggilan menjadi Imam

Pertanyaan ini makin relevan untuk ditanyakan kalau melihat latar belakang keluarga saya: kami tidak punya keluarga dekat yang menjadi imam, bruder ataupun suster. Semakin relevan lagi kalau melihat latar pendidikan saya karena saya hanya sekali saja sekolah di luar negeri. Maksudnya kebanyakan di negeri. Mungkin kalau di dekat rumah saya ada SMP Kanisius Yoris, maka saya akan masuk ke Yoris (promosi SMP Kanisius Yoris yang tugas koor hari ini…:). Kenapa karena muridnya aktif-aktif, gurunya yang semangat dan dedikasinya sangat tinggi.

Lalu dari mana panggilan menjadi imam itu muncul? Saya juga pernah merasa heran, kok saya yang ganteng (hahaha…J) ini mau-maunya jadi Romo ya. Padahal nanti nggak punya istri, pasangan hidup, tempat berbagi, nggak punya keturunan, nggak ada yang masakin, nggak ada yang pijet kalau capek pulang kerja dll.

Kalau saya refleksikan lagi, bagi saya, pengalaman-pengalaman sederhana yang membuat saya tertarik menjadi imam. Beberapa pengalaman: dulu waktu kecil ibu saya selalu mewajibkan anak-anaknya untuk ikut sekolah minggu. Maka ikutlah saya. Karena kakak-kakak saya juga aktif, maka saya juga ikut-ikutan. Saya ikut sekolah minggu, lalu misdinar, pencak silat THS. Pengalaman aktif ini membuat saya banyak bertemu dengan romo. Saya melihat romo itu bisa dekat dengan siapa-saja: dari anak kecil, remaja, mudika, orang tua sampai orang sepuh bisa dekat. Itu pengalaman yang cukup menarik bagi saya. Pengalaman lain, saya sering melihat romo itu dibawain makanan sama umat. Maka selain tertarik karena romo bisa dekat dengan siapa saja, ketika itu pikiran saya sebagai anak kecil wah kalau jadi Romo nanti akan dapat banyak makanan. Paling tidak pengalaman dengan ibu saya dalam beberapa kesempatan sering memasakkan makanan buat romo. Selain itu, pakaiannya selalu dicuciin dan disetrikain daripada saya nyusahin ibu untuk nyuci dan nyetrika.

Itulah beberapa pengalaman awal saya berjumpa dengan Romo. Seiring perjalanan waktu, ketertarikan itu juga pudar. Namun ketika saya SMP dan sebentar lagi akan lulus maka saya merasa tertarik untuk masuk Seminari. Sebenarnya ada agenda lain juga. Dengan masuk seminari saya bisa pergi dari rumah. Lalu saya coba tes masuk dan akhirnya diterima. ketika itu hanya saya seorang diri dari paroki yang masuk seminari. Saya tidak kenal siapapun di dalam dan tidak tahu cara hidupnya seperti apa.

Seiring perjalanan waktu saya merasa menemukan panggilan itu. Saya pelan-pelan menikmati cara hidup yang seperti ini. Atau dalam istilah anak-anak sekarang “this is it”. Saya pelan-pelan membangun dasar panggilan dengan menjalin relasi dengan Yesus. Cinta akan Yesus pelan-pelan saya bangun dengan hidup rohani dan ini saya dapatkan waktu di Seminari.

 

Panggilan menjadi Jesuit

Lalu mengapa saya tertarik masuk Jesuit? Ketika di Seminari saya suka sastra. Nah setiap kali masuk perpustakaan saya selalu melihat banyak penulis itu adalah Jesuit. Maka saya tertarik menjadi Jesuit karena ingin menjadi penulis. Walaupun dalam perkembangan ketertarikan ini memudar bahkan hilang sama sekali. Keinginan lain karena Jesuit itu dikenal pintar/pandai-pandai-terkenal. Prinsip saya sebagai orang muda, saya ingin menjadi bagian dari mereka.

Lalu dari seminari saya mendaftar untuk masuk ke serikat Yesus. Waktu itu lagi-lagi saya seorang diri saja. Kami tes ber-18 dan yang diterima 9 orang. Sampai sekarang kami masih ber-6. Ketika masuk ke serikat Yesus saya merasa motivasi saya sebelumnya pelan-pelan diruntuhkan dan dibangunlah motivasi yang mendasar dan lebih kokoh. Saya ingat salah satu pertanyaan St. Ignatius Loyola kepada St. Fransiskus Xaverius: “apa gunanya memperoleh seluruh dunia jika kehilangan jiwamu”. Kita tahu bahwa Xaverius orang yang sangat ambisius untuk menaklukkan dunia. Dia orang cerdas dan punya misi untuk mempertahankan keharuman nama keluarganya. Saya merasa memiliki pengalaman yang senada. Impian awal saya juga ingin menjadi orang yang dikenal, bagian dari orang-orang pintar dll. Saya berefleksi kalau saya mau mengikuti Yesus mengapa pertimbangan-pertimbangan dasar saya sangat bersifat duniawi? Kalau mau ikut Yesus ya harus total dan menanggalkan keduniawian. Tapi tentu totalitas ini tidak mengingkari kemanusiawian.

Oom saya pernah mengatakan: “kalau saya jadi kamu saya akan memilih ‘ordo/kongkregasi’ yang tidak jauh, sehingga masih bisa sering pulang berjumpa dengan keluarga. Namun bagi saya, yang terpenting adalah mengikuti Yesus. Saya merasa bahwa dengan meilih masuk Serikat Yesus, saya akan lebih mengikuti Yesus secara lebih total, tidak setengah-setengah. Tidak mengatakan bahwa keluarga tidak penting. Tentu sangat penting dan berpengaruh pada panggilan. Namun saya merasa justru mengikuti Yesus secara lebih total saya merasa mendapat banyak keluarga baru. Anda semua menjadi keluarga baru bagi saya.

Salah satu ketertarikan lain adalah pamflet promosi Jesuit: Pendosa yang di panggil. Bagi saya ini sangat mengena. Saya merasa juga bagian dari orang berdosa tetapi di sisi lain saya juga merasa di dalam diri saya ada panggilan.

 

Bacaan Injil: Yohanes 10:1-10

Bacaan Injil hari ini bagi saya mau mengajak kita untuk merefleksikan siapa Yesus bagi kita? Pertanyaan ini bisa menjadi bahan refleksi kita masing-masing: siapa Yesus bagi kita? Penginjil Yohanes dengan mantap menyebut Yesus sebagai seorang Gembala yang menuntun dan memelihara kawanan dombaNya. Ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada Maria Magdalena, “Maria”. Lalu Maria menjawab “Rabuni” artinya Guru. Bagi Maria, Yesus adalah Guru. Dalam bacaan Injil beberapa minggu lalu kita mendengar Thomas yang tidak percaya pada kebangkitan Yesus sampai mencucukkan tangannya ke lambung dan tangan Yesus. Dia mengatakan “ya Tuhanku dan Allahku…” lalu bagi Anda, Yesus itu siapa?

Tidak bermasuk alay, tapi bagi saya Yesus adalah Cinta. Bagi saya Dia adalah perwujudan cinta. Dia adalah Unconditional Love (cinta tak bersyarat). Karena itu, jika saya berdiri di depan Anda saat ini sebagai seorang frater yang ingin menjadi imam itu karena cinta saya kepada Tuhan. Paling tidak sampai saat ini. Dalam perjalanan meniti panggilan ini kadang cinta akan yang lain – akan dunia juga muncul dan kadang sedemikian kuat sehingga cinta akan Yesus itu pelan-pelan memudar, luntur. Namun, jika cinta itu luntur atau bahkan hilang maka yang saya mohonkan adalah jatuh cinta kepadaNya kembali. Namun itulah panggilan. Panggilan bagi saya adalah perjuangan mengenal Cinta, memelukNya, mencintaiNya. Panggilan bagi saya adalah memperjuangkan Cinta itu sendiri.

 

Penutup

Marilah kita mohon agar dari hari ke hari kita bisa makin mengenalNya lebih dalam, mencintaiNya lebih mesra dan mengikutiNya lebih dekat. Di akhir sharing ini kami ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk Anda semua. Lagu ini berjudul “I beg to fall in love with Thee”. Sebuah lagu yang menggambarkan kerinduan mendalam untuk bisa jatuh cinta pada Tuhan.

Biasanya memang Jesuit dikenal tidak bisa menyanyi. Maka jika nanti terdengar suara fals, itu menegaskan bahwa kami sungguh-sungguh Jesuit. Hehehe…

 

Sharing/kotbah ini saya bagikan hari ini, 11 Mei 2014 dalam rangka Minggu Panggilan.

Advertisements

One thought on “Panggilan: Memperjuangkan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s