Yang Lumrah – Yang Sementara

Kita hidup di dunia yang dibentuk oleh media untuk terpukau hal-hal yang tak biasa. Kita menengok ke sekitar dan pasar membujuk kita terpikat benda-benda yang tak lumrah karena dikemas. Dan yang sehari-hari, yang tak dikemas, pun jadi datar. Rasa bosan, tanpa selalu disadari, menyusup. Kita pun terus menerus mencari cara membebaskan diri dari yang banal. Yang banal menjemukan.

Tapi kejemuan adalah sejenis bunuh diri yang lambat. Ia dimulai ketika orang tak menemukan arti dalam hal-hal yang tak bisa kekal, benda yang sepele, laku yang sederhana-sementara justru hal dan benda yang sedemikian itu yang merupakan bagian langsung kehidupan.

Dalam film ‘Before Sunrise’ yang tak terlupakan justru karena hal tentang saat-saat yang lumrah, sementara, tentang hal 12 jam yang tanpa drama dalam hidup dua orang yang tak sengaja bertemu dan tak punya tujuan tertentu.

Jesse naik kereta di Budapest menuju Wina dari mana ia akan terbang kembali ke Amerika, dan Celine menuju Paris, kembali kuliah. Dalam gerbong itu mereka terlibat dalam percakapan, dan makin lama makin merasa percakapan itu menyenangkan. Maka Celine setuju turun di Wina sampai esok paginya, sampai pada pukul 09.30 saat Jesse dengan Austrian Airlines kembali ke Amerika.

Jesse tak punya cukup uang untuk menginap di hotel; mereka memutuskan untuk hanya berjalan sepanjang malam menyusuri kota. Berjalan, bercakap-cakap, minum di kafe, berbaring di taman, berciuman, tapi tak lebih. Mereka tahu beberapa jam lagi mereka tak akan saling melihat. Mereka takut akan saling kehilangan.

Pertemuan itu begitu sementara. Anehnya kita, yang mengikutinya, justru tersentuh oleh apa yang sementara. Percakapan itu begitu biasa, tapi kita pelan-pelan tahu bahwa yang lumrah itu justru istimewa.

Jesse: Aku pikir benar sekali, maksudku, semua hal-setiap hal-tak bisa kekal. Tapi kamu juga tahu kan, itu yang membuat waktu kita, di saat-saat tertentu, begitu penting?

Celine: Yah, aku tahu. Tapi itu kan seperti kita malam ini. Sehabis besok pagi, kita mungkin tak akan pernah ketemu lagi…

Pagi datang dan mereka tak menangis. Hidup selalu terdiri atas pelbagai selamat tinggal. Tapi bukan kematian.

 

Tulisan ini disadur langsung dari tulisan Goenawan Mohamad berjudul “Lumrah” dimuat di TEMPO, 30 Maret 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s