Satu Hati Satu Tekad Mengembangkan Layar Kanisius

 

“Semoga di masa depan, di sekolah-sekolah Kanisius terus hidup model pendidikan reflektif, yang mengajak setiap orang untuk terbuka bagi makna baru dari hidup kita yang merupakan anugerah dari Allah ini.”

Pesan tersebut disampaikan oleh Romo Provincial dalam sambutannya pada yubileum 95 tahun Yayasan Kanisius. Rasa syukur atas usia 95 tahun tersebut diungkapkan dalam Perayaan Ekaristi bersama Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. J. Pujasumarta Pr sebagai selebran utama, Romo provincial Serikat Yesus Indonesia Rm. Riyo Mursanto SJ, ketua pengurus yayasan Kanisius Rm. Paul Suparno SJ, direktur yayasan Kanisius Pusat dan cabang Semarang Rm. Sigit Widisana SJ, direktur kanisius cabang Yogyakarta Rm. A. Mintara SJ, direktur kanisius cabang Surakarta Rm. Moerti Yoedho Koesoemo SJ, kepala paroki Muntilan Rm. Surya SJ dan beberapa romo undangan lainnya.

Kanisius dalam usia 95 telah banyak mengukir sejarah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Usia yang memang pantas disyukuri, ketika banyak organisasi/yayasan pendidikan lainnya telah mati, Kanisius masih tetap ada tentu bukan tanpa gelombang tantangan yang dari waktu ke waktu harus dihadapi. Refleksi atas perjalanan hidup yang begitu lama juga menjadi langkah konkret untuk bisa memetakan perjalanan di masa depan. Saatnya pula untuk menggali dan menemukan kembali semangat para pendahulu yang telah sedemikian berjerih payah untuk mendidik orang-orang muda. Mengapa orang muda? Karena orang muda diyakini akan membentuk masa depan gereja dan masyarakat. Maka, pendidikan menjadi ranah yang sangat relevan dan kontekstual untuk mewujudkan misi tersebut.

Tema yang diangkat dalam Yubileum 95 tahun Yayasan Kanisius adalah “Satu hati, satu tekad, mengembangkan layar Kanisius”.

 

Menapak Sejarah Masa Lalu
Kita tahu bahwa Petrus Kanisius adalah salah satu jesuit yang diutus Bapa Ignatius mendirikan mendirikan kolese pertama 1548 di Messina. Memang setelah dari Messina, Kanisius hijrah ke Jerman untuk menjalankan tugas perutusan baru namun dalam ranah yang sama yakni pendidikan. Karya pelayanan Kanisius menampakkan jiwa militannya dalam mendidik orang-orang muda. Nama Yayasan Kanisius pun berasal dari nama St. Petrus Kanisius yang lahir tahun 1521 di Nijmegen, Belanda. Dia menjadi Jesuit tahun 1543 waktu berumur 22 tahun.

Yayasan Kanisius didirikan pada tahun 1918 oleh Pater Fransiskus van Lith, SJ dengan tujuan: memberi kesempatan belajar kepada anak-anak rakyat kecil yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dan menabur sabda Kristus di kalangan masyarakat Jawa. Awalnya yayasan Kanisius dinamakan Canisius Vereniging atau perkumpulan Kanisius didirikan tanggal 31 Agustus 1918 di Muntilan oleh P. J.H.J.L. Hoeberechts, SJ sebagai ketua dan P. Josephus van Lith, SJ sebagai sekretaris. Ketika P. Van Lith meninggal, jumlah sekolahan Kanisius sebanyak 74 sekolah dan semuanya adalah SD. Canisius Vereniging kemudian diubah menjadi Canisius Stichting pada saat P. F. Strater, SJ menjadi direktur.

Perahu Kanisius mulai menghadapi gelombang ketika perang dunia II pada saat Rm. Djajasepoetra SJ menjadi pimpinan. Sekolah yang berbahasa Belanda ditutup dan sekolah berbahasa Jawa yang ada di pelosok-pelosok kehilangan subsidi, pemimpin dan pengasuhnya. Gelombang itu tak hanya terhenti pada perang dunia tetapi juga masa revolusi pasca kemerdekaan Indonesia.
Tak lama kemudian, sekitar tahun 1950-1953 nama Canisius Stichting berubah menjadi Yayasan Kanisius. Perubahan itu terjadi ketika P. Looymans SJ menjabat sebagai pimpinan Kanisius. Gelombang yang saat itu dihadapi bantuan bersubsidi untuk semua sekolah swasta dihapuskan sehingga banyak guru yang pindah ke negeri yang membawa dampak selanjutnya yaitu mencari guru-guru pengganti. Maka, diputuskan untuk mengadakan reorganisasi baru dan dengan berat hati menyerahkan beberapa sekolah ke pihak lain: Marsudirini, Keluarga, Tarakanita, Loyola, de Britto, Kebon Dalem dan Marganingsih.

Melihat ke belakang bukanlah sebuah romantisme nostalgia melainkan sebuah ajakan untuk menimba semangat para pendahulu. Betapa pendidikan menjadi media yang mencerahkan budi dan hati anak-anak didik. Dan itu merupakan suatu kebanggaan luar biasa yang pernah dimiliki. Dalam kotbahnya, Bapak Uskup juga menekankan: “Semoga keyakinan Tuhan menyertai di masa lampau memberi semangat untuk menjalani masa sekarang yang penuh tantangan. Tidak hanya di masa kini tetapi untuk di masa yang akan datang pula. Sekiranya ini menjadi suatu mesin yang bisa memompa semangat kita.”

 

Banyak Sekolah yang “Mati”
Sekolah Katolik banyak yang mati. Pernyataan itu bukan hanya isu semata melainkan merupakan fakta yang banyak dialami oleh sekolah-sekolah Katolik. Yayasan Kanisius juga memiliki kisah perjuangan yang sama. Hal ini jelas terlihat ketika kita melihat ke belakang dan mengamati sejarah yang pernah terjadi dan fakta masa kini. Sejarah menampilkan banyak sekolah Kanisius yang diserahkan ke pihak lain dan tak jarang pula yang ditutup. Dalam kotbahnya Bapak Uskup mengatakan: “Bagi sekolah-sekolah Kanisius yang memang karena situasi harus tutup, maka sekolah tersebut sudah menjadi “pahlawan” yang telah berjuang sekian tahun dan melahirkan generasi yang baik dan bermutu.”

Di sisi lain kita pun harus tetap melihat masa sekarang di mana masih cukup banyak sekolah Kanisius yang juga masih berdiri dengan tegak dan berani tetapi ada pula yang malu-malu. Atas fakta ini Romo Provincial menandaskan: “… semangat persevera itu tetap hidup di dalam hati para pengasuh pendidikan di sekolah-sekolah Kanisius. Semangat itu juga hidup di dada banyak orang untuk tetap mempertahankan tanda kehadiran Kerajaan Allah sebagai kerajaan kasih itu dalam masyarakat.” Artinya kalau Kanisius masih bertahan dari goncangan gelombang ombak, itu karena adanya semangat pengorbanan dan pengabdian yang tinggi dari para guru dan karyawan. Selain itu ada pula dukungan nyata dari orang tua dan pemerhati pendidikan di persekolahan Kanisius.

 

Kanisius: Fakta Masa Kini
Pada tahun ajaran 2013-2014 Yayasan Kanisius memiliki 194 sekolah. Tingkat TK berjumlah 68 sekolah; tingkat SD berjumlah 93 sekolah; tingkat SMP berjumlah 23 sekolah; tingkat SMA berjumlah 6 sekolah dan tingkat SMK berjumlah 4 sekolah. Yayasan Kanisius masih memperjuangkan pelayanan pendidikan yang masih ada khususnya di tingkat dasar dan menengah. Hal ini selaras dengan pesan Gravisimum Educationis (Pernyataan tentang Pendidikan Kristen): “oleh sebab itu memang tetap harus dikembangkan sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah, yang meletakkan dasar-dasar pendidikan”.

Jumlah siswa seluruhnya 23.030 orang; guru 1.108 orang; karyawan 211 orang. Berdasarkan data yang ada Rm. Sigit Widisana SJ sebagai direktur yayasan Kanisius, pernah membuat perbandingan guru dan siswa. Hasilnya adalah 1: 20,78 artinya 1 guru : 21 orang siswa.

 

Harapan akan Masa Depan
Perayaan syukur ini dihadiri kurang lebih 2000 orang terdiri dari semua guru, karyawan dan sejumlah siswa dari semua cabang: Semarang, Magelang, Yogyakarta dan Surakarta. Perayaan ini diadakan di Muntilan tepatnya di lapangan SMP Kanisius, Muntilan. Mereka yang datang dari jauh seperti Juwana, Pati, Wonogiri bahkan berangkat jam 04.00 subuh. Perayaan Misa syukur sendiri diadakan pkl. 10.00 WIB. Setelah Misa Syukur, acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan dan dimeriahkan oleh tampilan-tampilan dari anak-anak SD Kanisius, para guru yang secara khusus didominasi oleh IGTK (Ikatan Guru TK) dari masing-masing cabang.
Dalam sambutannya Bapak Uskup juga menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih kepada Serikat Yesus yang dipercayai oleh Keuskupan Agung Semarang menjadi nahkoda perahu dalam mengarungi lautan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menerjang gelombang-gelombang yang menggetarkan, melawan arus-arus besar zaman, seperti perahu yang bertiangkan salib Kristus dan dihembus oleh daya kekuatan Roh Kudus Yayasan Kanisius terus melaju menuju Kerajaan Bapa yang memerdekakan. Terima kasih juga kepada para guru dan karyawan yang sudah purna tugas dan sedang giat memajukan sekolah-sekolah Kanisius secara kreatif dan tak kenal lelah menjadikan sekolah-sekolah Kanisius tetap memikat dan diminati serta dipilih oleh orangtua menyekolahkan anak-anaknya agar memperoleh pendidikan yang eksploratif, integral, kreatif dan memerdekakan.”

Dengan satu hati dan satu tekad, semua ingin mengembangkan layar Kanisius ini untuk masa-masa yang akan datang. Romo provincial menekankan semoga pendidikan di Kanisius yang berwajah pendidikan hati dan pendidikan kepribadian ini tetap merupakan alternatif dari pendidikan yang semata-mata mementingkan materi dan sisi intelektual. Akhirnya, semoga dengan penuh kegembiraan semua bersatu hati dan tekad untuk kembali menyuburkan tanah Kanisius demi tumbuh-berkembangnya benih-benih Kerajaan Allah, demi keselamatan jiwa anak-anak muda dan kemuliaan Allah yang lebih besar.

Dirgahayu Kanisius! AMDG!

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka ulang tahun ke-95 Yayasan Kanisius Pendidikan, dimuat di Internos 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s