Keramahtamahan yang Tak Pernah Terpikirkan

 

Image

 

Brasil. Siapapun yang berpikir tentangnya barangkali akan membayangkan penuh dengan kejahatan tempat para mafia dan bandar narkoba. Kami semua pun berpikir tentang hal yang sama. Bahkan sebelum berangkat, tak jarang pesan yang kami dapat supaya penuh hati-hati selama di sana. Maka tak heran jika ada yang merasa takut karena bayangan yang demikian menakutkan. Barangkali jika berkunjung ke Salvador, Bahia, suasana penuh ketakutan itu memang ada. Di sana kami sempat melakukan city tour. Kami harus dikawal polisi yang selalu siap dengan pistolnya, kalau-kalau ada yang melakukan hal yang tidak diinginkan. Hampir di setiap sudut tempat orang bermain judi, minuman keras dijual di mana saja, musik diputar sekeras mungkin. Dan satu lagi, tampang orang-orangnya amat menyeramkan. Maka, ketika di Salvador kami memang kami mengamini Brasil sebagai negara yang tingkat kejahatannya tinggi.

Namun segera pengalaman itu diganti dengan pengalaman yang bertolak belakang. Pengalaman berkunjung ke kota lain misalnya Rio de Janeiro, Sao Paulo dan wilayah sekitarnya seperti Santos dan berjumpa dengan banyak pribadi di sana membuka mata kami akan keramahtamahan negara ini. Siapa bilang Brasil tidak ramah? Siapa bilang Brasil penuh dengan kejahatan? Kami merasa bahwa pengalaman di Salvador amat tidak dapat digeneralisasi untuk mengatakan bahwa Brasil negara yang penuh kejahatan. Buktinya kami mengalami perjumpaan yang sungguh mengesankan dari banyak pribadi.

Beberapa kali mendapatkan bantuan yang sungguh berarti. Kami diterima di setiap tempat yang kami singgahi bahkan diperlakukan lebih dari tamu. Suatu kali ketika kami berjalan (peregrinasi) seseorang mendekati kami dengan sepedanya, sambil memberi semangat dia memberi kami dua botol minuman segar guarana, khas Brasil. Ketika kami tidak tahu jalan, sering kali tanpa kami minta, orang menawarkan bantuan pada kami bahkan tidak segan-segan ada yang mengantar kami sampai ke tujuan. Bukankah ini suatu kebaikan dan keramahtamahan yang tak terkira?

Pengalaman di Brasil mengubah gambaran kami tentang orang-orang Brasil. Beberapa teman bercerita tentang pengalamannya.

Sebelum ke sana, stigma yang melekat itu orang-orang Brazil jahat, harus hati-hati sama mereka karena bisa rampok-rampok bunuh-bunuh orang. Sampe sana, ya emang horror sih tapi mereka mau aja untuk bantu strangers. Jadi inget waktu peregrinasi, lagi jalan eh ada yang ngasih minuman. Di indonesia mana ada? (Vera, Magis Jakarta)

Pada persepsi awal, sebelum ke sana adalah rasa takut dengan karakter orang Amerika selatan. Biasanya kalau muncul di TV adalah human trafficking, drugs, penipuan. Cuma semua pandangan itu hilang saat ngerasain budaya mereka secara langsung. Mereka hampir seluruhnya sangat helpful and welcoming. (Fitri, Magis Jakarta)

Orang-orangnya ramah banget seperti supir bus, kondektur, polisi, dll. Gue awalnya berpikir gue akan kena drug trafficking atau perdagangan organ tubuh atau ketembak mafia. (Priska, Magis Jakarta)

Kami semua mengalami suatu proses transformasi paradigma tentang Brasil. Bayangan tentang Brasil sebelum dan sesudah ke sana sungguh bertolakbelakang. Keramahtamahan itulah yang melancarkan perjalanan kami selama di sana. Mereka orang yang sangat welcoming dan selalu tampak ingin menjelaskan banyak hal tentang budaya dan apa saja tentang negara mereka.

Sebagian besar orang Brasil yang kami jumpai tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan para romo juga sebagian tidak bisa berbahasa Inggris. Memang bahasa Spanyol mereka sangat mahir. Namun, bahasa tidak menjadi batas untuk bersikap ramah kepada siapa saja. Walau kami sering tidak saling mengerti (bahasa) tetapi bisa saling memahami. Dalam banyak waktu kami menggunakan bahasa tubuh. Mereka sungguh menerima dan menganggap kami seperti keluarga. Barangkali menjadi kebiasaan bagi mereka untuk memeluk siapa saja. Namun bagi kami, rasanya seperti keluarga atau orang yang sudah amat lama kenal. Kami merasa sungguh diterima. Maka benarlah kutipan syair dalam lagu hymne magis brasil 2013:

From Europe and America, from Asia and Africa
From the islands and the seas, for a world renewed and free
Everyone is meant to be.

Keramahtamahan mereka membuat setiap orang sungguh dihargai, dihormati dan bahkan dianggap sebagai keluarga karena setiap orang punya arti dan makna sendiri.

Kami pun mereka-reka, boleh jadi, masyarakat Brasil sangat ramah karena penduduknya yang multikultural. Hal itu dikarenakan dulunya Brasil banyak didatangi oleh para pendatang seperti orang Eropa dan juga Asia yang kebanyakan adalah orang Jepang. Maka, kalau sekarang melihat ras mereka betul-betul bercampur. Karena itu juga sepertinya tingkat toleransi mereka sangat tinggi.

 

Kacang Merah dan Kopi a la Brasil
Setiap kali makan nasi, pasti akan selalu ada kacang merah. Itu menjadi hukum wajib. Di mana-mana akan selalu dijumpai nasi dan kacang merah. Menu ini biasanya untuk siang hari. Daging menjadi makanan utama orang Brasil sehingga harganya bisa dikatakan relatif lebih murah dibanding makanan lainnya.

Setelah makan orang biasanya minum kopi. Dalam bahasa Portugisnya cafe do Brasil. Rasa-rasanya itu menjadi hukum wajib juga. Di setiap tempat makan yang kami masuki ada coffee corner. Bagi mereka penutup makan adalah small cup coffee. Dan itu disediakan gratis untuk semua pengunjung. Tampaknya kopi menjadi suatu keharusan. Bukan tanpa alasan, Brasil juga dikenal sebagai “negara kopi” karena mereka mampu memproduksi kopi dalam jumlah yang tinggi dan mengekspornya ke banyak negara. Mereka pun punya sejarah yang cukup panjang tentang kopi. Kami sempat mengujungi museum kopi di kota Santos.

Tentang makanan, orang Brasil sangat menjunjung kebersihan. Itu tampak dari kebiasaan setiap orang/pelayan menggunakan jaring penutup kepala. Pemandangan seperti ini tidak hanya ada di restoran tetapi di setiap rumah pun mereka yang melayani di dapur wajib memakai jaring penutup kepala. Kata seorang teman Brasil, satu rambut akan mengurangi banyak pengunjung dan penilaian masyarakat/pengunjung terhadap restoran tersebut akan menjadi sangat rendah. Kebersihan tidak hanya menjadi bagian dari kualitas pelayanan tetapi akhirnya menjadi sikap/cara bertindak yang mereka junjung tinggi.
Bola, Musik dan Goyang Samba
Ketika kami menjalani peregrinasi kami selalu menginap di gereja. Setiap kali kami mampir ke Gereja, umat khususnya orang muda sudah menanti kami dengan penuh kegembiraan. Setelah makan mereka selalu mangajak kami untuk bermain bola. Dan yang mengajak tidak hanya laki-laki bahkan perempuan juga tidak kalah semangatnya. Selama menjalani peregrinasi dan di setiap kota yang kami kunjungi/lewati pemandangan yang selalu ada adalah sepak bola. Mulai dari anak-anak sampai opa-oma, laki-laki dan perempuan, semuanya bisa bermain bola. Tak heran jika bintang-bintang pesepak bola banyak datang dari Brasil. Selain itu mereka semua juga suka menonton bola. Dan ketika mereka menonton bola, teriak dan ekspresi akan selalu ada sepanjang pertandingan berlangsung. Tak sedikit yang menggeprak meja. Tapi itu adalah bagian dari ekspresi mereka ketika menonton.

Seorang teman mengatakan: orang Brasil itu lahir sudah dengan dua kemampuan: satu bermain bola dua musik. Hidup belum lengkap tanpa musik. Di mana-mana dan di setiap acara selalu ada musik. Jenis musik mereka pun tendesinya lebih ke yang membangkitkan semangat untuk bergoyang. Musik akan selalu berpasangan dengan goyang/tarian. Dan yang khas dari mereka adalah goyang samba. Dua hal ini selalu beriringan. Maka, bisa ditambahkan bahwa orang Brasil itu lahir sudah dengan tiga kemampuan: bermain bola, bermusik atau setidaknya menyanyi dan menari/goyang samba. Kalau mau melihat semangat orang Brasil, perhatikanlah saat mereka menyanyi dan menari. Seorang teman mengatakan: “Kayaknya bangga banget kalau bisa nari samba dengan gerakan kaki yang complicated” (Dion, Magis Jogja). Dan yang luar biasa adalah kalau sudah menyanyi dan menari mereka bisa tahan lama. Ketika kami mengadakan flash mob teman-teman Brasil-lah yang tampak paling bersemangat dan tidak pernah lelah melakukannya berulang-ulang. Ketika mendengar musik seakan-akan naluri mereka untuk bergerak begitu cepat bereaksi. Ketika di aula ada musik mereka langsung berlarian dan bersama-sama menari. Seorang teman sampai mengatakan “baterenya ga abis-abis bo” (Esi Maria, Magis Jakarta).

 

Peduli Pada yang Lemah
Ketika sudah tiba di sana dan mengalami hidup di sana, kami ragu untuk mengatakan bahwa Brasil itu negara berkembang. Mengapa? Kami melihat fasilitas umum mereka bisa dikatakan sangat maju, banyak yang mewah dan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Dan pembangunan/fasilitas umum selalu memperhatikan orang-orang yang lemah. Pemerintah Brasil sangat peduli akan sarana untuk orang cacat di setiap fasilitas publik. Kami melihat di semua tempat selalu tersedia tempat khusus bagi mereka yang cacat/lemah. Fasilitas publik (bangunan atau transportasi) selalu memberi akses bahkan mengutamakan orang cacat/lemah. Konkretnya, di semua kamar mandi, selalu tersedia kamar mandi untuk orang cacat/lemah. Di setiap transportasi umum: metro (bus), subway selalu ada tempat khusus untuk orang cacat/lemah. Dan masyarakat sungguh-sungguh menaati peraturan tersebut.

 

Kesenian: Ekspresi Kebebasan
Pemandangan yang cukup unik adalah di sudut-sudut jalan biasanya terdapat mural. Itu bagian dari art street yang menambah keindahan kota, unik, dan menunjukkan kebebasan berekspresi. Tidak hanya mural tapi banyak sculpture yang turut mempercantik kota-kota mereka. “Bikin muralnya juga ga tanggung-tanggung bisa segede high rise building dan artistnya bukan artist ecek ecek,” demikian kata seorang teman. Karena itu kami merasa bahwa Brasil kota seni, di sana ada kebebasan untuk berkreasi.

 

 

Tulisan ini merupakan refleksi atas kesaksian budaya Brasil, dimuat di Internos 2013.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s