Berkumpul, Bersahabat, Bergembira dan akhirnya Diutus!

peregrinasi 4

Llévame donde los hombres, necesiten tus palabras,
necesiten mis ganas de vivir,
donde falta la esperanza, donde todo sea triste,
simplemente por no saber de ti.

Lagu inilah yang senantiasa mengiri perjalanan peregrinasi kami selama kurang lebih enam hari di Brasil tepatnya di sepanjang garis pantai kota Sao Paulo. Kami tak tahu bahasa Portugis pun Spanyol namun kesederhanaan nada lagu ini membuat kami segera tahu sehingga bisa ikut bernyanyi. Boleh dikatakan, lagu ini menjadi lagu favorit kami selama berada di Brasil. Teman-teman Brasil dan Chile-lah yang mengajari kami lagu ini dan menjelaskan artinya. Tidak hanya nadanya yang sederhana tetapi juga liriknya penuh makna sehingga mampu membangkitkan semangat untuk terus melangkahkan kaki dan untuk berani maju. Arti lirik lagu di atas kira-kira seperti ini:

Bawa aku di mana ada banyak orang yang membutuhkan sabdaMu,
yang membutuhkan keinginan diriku untuk hidup,
di mana ada kekurangan harapan, di mana semuanya bersedih,
hanya karena tidak mengenalMu.

 

Along Journey to Brasil
Hampir dua bulan sebelum berangkat, kami menyiapkan sebuah tampilan dalam rangka festival malam budaya magis. Hampir setiap Sabtu-Minggu, lima orang teman yang mewakili kami, mempersiapkan tampilan tersebut. Tentu, itu hanya satu persiapan dari sekian persiapan lainnya. Tepat tanggal 9 Juli kami berangkat menuju Brasil. Kami berdelapan orang, dua orang anggota magis Jogja, lima orang anggota magis Jakarta dan saya sendiri. Tujuan utama memang ke Brasil. Dan ternyata Brasil negara daratan yang sangat luas. Karena beberapa kegiatan dilangsungkan di kota yang berbeda maka perjalanan menjadi lebih panjang lagi. Tujuan awal kami ke Salvador, Bahia tempat magis gathering dan pertemuan dengan P. Adolfo Nikolas SJ diadakan. Untuk sampai ke sana, kami harus melalui tiga kali transit, masing-masing di Singapura, Istanbul, Sao Paulo sampai akhirnya tiba di Salvador. Total waktu berada di pesawat dari Jakarta – Salvador, kurang lebih, 30 jam. Tentu saja, ini belum termasuk lama transit. Sungguh, perjalanan yang amat panjang nan melelahkan.

Perjalanan kami selama di Brasil bisa dipetakan demikian: Sao Paulo, Salvador – Bahia, Sao Paulo di beberapa kota: Peruibe, Mongagua, Sao Vicente, Santos, Rio de Janeiro, dan Sao Paulo lagi untuk kembali ke Jakarta. Dua program yang kami ikuti: Magis Brasil dan World Youth Day (WYD) atau JMJ (Jornada Mundial de Juventude) memang mengharuskan kami selalu berpindah tempat. WYD sendiri hanya dilaksanakan di satu kota yakni di Rio de Janeiro. Kami berpindah-pindah tempat karena adanya experiment magis.

 

Disatukan di Bawah Satu Bendera

bendera magis

Jumlah orang muda yang menjadi peserta yang mengikuti magis Brasil ini sekitar 3000 orang. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia, terhitung kira-kira 50 negara. Karena diadakan di Brasil, maka pantaslah jika kebanyakan partisipan datang dari negera-negara Amerika Latin seperti Chile dan Argentina. Sampai-sampai hampir di setiap acara yel-yel merekalah yang amat dikenal. Bunyinya demikian: “Chi..Chi.. Le..Le.. Viva Chile”. Siapapun yang ikut magis dan WYD saya rasa akan mengingat yel-yel mereka.

Di hari pertama, semua peserta datang dengan simbol bendera masing-masing negara. Dengan penuh kebanggaan mereka mengibarkan bendera negara mereka. Malam harinya ketika opening ceremony diadakan, semua bendera dari negara-negara yang hadir dijahit menjadi satu kesatuan. Bendera itu dikibarkan di aula College Antonio Vieria dan menjadi lambang dibukanya acara magis Brasil. We are different but we are one! We are magis!

Pengalaman berjumpa dan berbagi memang menjadi nuansa yang sangat kental dalam acara ini. Di Salvador, kami saling membagikan pengalaman lewat setiap perjumpaan. Masing-masing begitu bersemangat membagikan pengalaman dan kekayaan (budaya ) di negara masing-masing. Semangat ini jugalah yang tampak dalam festival malam budaya magis. Tarian Ronggeng Manis dari Indonesia mampu menarik dan memikat perhatian publik. Paduan musik, gerak dan pakaiannya yang wonderful mampu mencuri perhatian. Hanya ada sekitar 20 negara yang diminta menampilkan budayanya, Indonesia salah satu di antaranya. Karena tarian ini pula, “Indonesia” menjadi cukup dikenal oleh teman-teman magis. Setiap kali bertemu dengan orang muda dari negara lain, yang selalu mereka ingat adalah tampilan budaya. Bahkan beberapa kali saya berjumpa dengan jesuit dari negara lain mereka selalu memberi apresiasi. Great presentation, begitu kata mereka.

peregrinasi 2

Pengalaman perjumpaan dan berbagi itu menjadi lebih terasa selama menjalani eksperimen. Ada lima eksperimen yang diadakan yakni sosial, spiritualitas, seni dan budaya, ekologi dan peregrinasi. Kami sendiri mengikuti peregrinasi. Pesan Pater Jenderal Adolfo Nikolas SJ yang senantiasa kami ingat selama masa ekperiment adalah “membiarkan hati dan mata tetap terbuka, untuk menerima, menyambut dan melihat apa yang dilakukan Tuhan bagi kita. Harapannya kita mungkin akan diubah oleh pengalaman itu jika kita terbuka padanya.” Pesan itulah juga yang membuat kami melepaskan segala zona nyaman dan berani mengalami semua kemungkinan yang terjadi selama peregrinasi. Bagi orang-orang muda ini menjadi pengalaman yang baru dan berbeda. Kami menjalani peregrinasi bersama teman-teman dari Prancis, Chile dan Brasil yang praktis mother tongue –nya sungguh berbeda. Praktis hampir selalu kami menggunakan empat bahasa: Inggris, Portugis, Spanyol dan Prancis. Namun, sekali lagi perbedaan budaya dan bahasa tidak menjadi batas yang memisahkan. Dalam peregrinasi, kami pun selalu berjalan dan berbagi bersama. Kami pernah berdoa rosario dalam beberapa bahasa sambil berjalan. Peregrinasi kami jalani di sepanjang garis pantai di kota Sao Paulo. Bisa dibayangkan ketika siang, matahari bahkan bisa sampai membakar kulit namun saat sore datang, dingin pun mulai menusuk sampai ke tulang. Malam hari kami mampir di gereja-gereja tertentu untuk melepas lelah dan istirahat. Setiap hari kami berjalan dengan membawa carrier yang isinya pakaian, sleeping bag, matras, dan lain sebagainya. Bagi saya pribadi ini yang membuat fisik terasa capek lebih karena beban bawaan. Namun kegembiraan yang senantiasa mengiri perjalanan mengobati rasa capek itu. Seorang teman dari Chile, Ivan namanya, selalu terlihat gembira. Dia tak tahu bahasa Inggris, namun dia selalu berusaha membuat orang bersemangat. Padahal bawaannya sangat banyak, tubuhnya gemuk. Maka bisa dibayangkan bagaimana dia tampak sulit melangkah. Namun dia sama sekali tidak mengeluh, kakinya lecet tetapi dia tetap gembira dan berusaha menyemangati teman seperjalanannya.

Siang dan sore hari kami istirahat dan refleksi pribadi. Di sore hari, satu jam sebelum istirahat kami jalan sendiri-sendiri dan hening sambil merefleksikan semua pengalaman selama sehari. Setiap malam kami mengadakan magis circle (sharing). Hampir setiap dari kami mengalami bahwa sekalipun kami selalu menggunakan 3 bahasa pengantar namun sama sekali tidak terasa sebagai batas yang memisahkan. Bahkan seringkali kami menggunakan bahasa tubuh. Setiap pagi kami memulai dengan morning prayer diambil dari buku “pilgrim’s handbook” yang sudah disediakan oleh panitia. Setiap hari kami merenungkan satu kutipan dari Latihan Rohani. Maka, kami mengalami bahwa rasa kesatuan yang terjadi tidak hanya karena punya semangat yang sama sebagai orang muda, tetapi juga penghayatan akan spiritualitas yang sama juga menjadi perekat yang mampu “menyambungkan” komunikasi di antara grup dengan ragam bahasa ini.

Di bawah Satu Bendera tidak hanya berarti harafiah bahwa semua bendera dijahit satu sehingga hanya ada satu bendera. Namun Satu Bendera adalah Kristus yang sama-sama diimani. Ketika datang dengan simbol bendera masing-masing, pengalaman iman dan spiritualitas ignasian ini menyatukan di bawah Satu Bendera, Bendera Panji Kristus. Maka Bendera yang Satu itu tidak lain adalah Kristus sendiri.

 

Jose Maria de Anchieta SJ

passosAnchieta dikenal sebagai pendiri kota Sao Paulo. Bagi saya pribadi ini adalah hal yang menakjubkan, seorang jesuit bisa mendirikan sebuah kota yang sekarang berdiri megah dan ditinggali banyak orang. Jejak perjalanan rohani Anchieta menjadi rute peregrinasi kami. Kami melalui tempat dia berkontemplasi, letaknya persis di pinggir pantai. Bahkan, sampai sekarang masih ada batu tempat dia biasa duduk, merenung dan mengkontemplasikan dunia. Sekarang tempat ini menjadi tempat ziarah bagi orang Brasil. Selain itu kami juga mengunjungi tempat Anchieta membaptis orang-orang Sao Paulo. Di sana ada patung Anchieta serta sumber air yang diyakini membawa berkat. Anchieta sungguh menjadi teladan tidak hanya bagi para jesuit khususnya jesuit muda tetapi juga bagi orang-orang muda untuk terus berkobar mewartakan Kristus. Anchieta masih berumur 19 tahun ketika mulai merasul di tengah-tengah orang Brasil. Dalam usianya yang masih amat muda itu Anchieta menjadi teladan yang sungguh memberi jawab atas Esperam Por Nos Nações (nations await us) yang menjadi tema magis Brasil 2013 dan “go, do not be afraid and serve” yang tak lain adalah pesan Paus kepada seluruh orang muda. Anchieta tak hanya membangun kota Sao Paulo tetapi juga membangun iman.

 

Berkumpul untuk Diutus

flashmob
Magis menyatukan semua orang muda dari berbagai sudut dunia untuk berjumpa dan berbagi satu sama lain dalam semangat yang sama, semangat Ignasian. Setelah magis, orang-orang muda bergabung dengan jutaan orang muda lainnya yang memikili iman yang sama, iman akan Kristus yang telah menjadi manusia. Perayaan iman itu dipestakan bersama-sama dan dipimpin oleh Bapa Paus Fransiskus. Semua orang antusias menyambut kehadirannya. Ketika Misa berlangsung, tiga juta orang yang hadir bisa duduk diam dan mendengarkan setiap kata yang disampaikannya dalam kotbah.

Saat vigili night Bapa Paus Fransiskus mengajak orang-orang muda untuk menjadi rasul-rasul Kristus. “Jesus asks us to follow him for life, he asks us to be his disciples, to “play on his team.” Demikian ajakan Paus kepada orang muda. Ajakan untuk menjadi rasul Kristus digambarkan dengan ilustrasi tentang sebuah tim sepak bola, sebagaimana Brasil dikenal sebagai negara sepak bola. Apa yang dilakukan para pemain ketika mereka diminta bergabung dengan sebuah tim? Mereka tentu akan berlatih dan terus berlatih. Hal yang sama juga terjadi dalam hidup kita sebagai rasul Kristus. Kepada orang muda Paus mengajak untuk menjadi “atlet Kristus”. Paus mengutip apa yang dikatakan Santo Paulus “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1 Kor 9:25). Yesus menawarkan sesuatu yang lebih besar dari Piala Dunia! Dia menawarkan kehidupan yang berbuah, ia juga menawarkan kita sebuah masa depan bersamaNya, masa depan yang tak berujung, hidup yang kekal. Namun, Dia meminta kita untuk berlatih, supaya kita terbentuk sehingga kita dapat menghadapi setiap situasi kehidupan dengan gentar, menjadi saksi iman kita. Supaya kita bisa terbentuk kita harus berbicara denganNya: dalam doa, yang merupakan percakapan sehari-hari kita dengan Allah; dalam sakramen, yang membuat hidupNya tumbuh dalam diri kita dan kita pun serupa dengan Kristus; dalam cinta satu akan yang lain, belajar untuk mendengarkan, memahami, memaafkan, menerima dan membantu orang lain, semua orang, tanpa ada yang dikecualikan atau dikucilkan. “Jadilah atlet Kristus yang benar!”, demikian pesan Paus.

Dalam Misa magis bersama Pater Jenderal jelas disebut sebagai Misa pengutusan. Hal yang senada diulangi lagi ketika WYD oleh Mgr. Orani Joao Tempesta ketika Misa bersama Paus. Beliau mengatakan bahwa ini adalah waktu pengutusan dan bukan perpisahan. Lebih lanjut, Bapa Paus Fransiscus sendiri berpesan: “Jesus is calling you to be a disciple with a mission!” Beliau menegaskan kembali bahwa waktunya menyampaikan pengalaman iman ini kepada orang lain. Iman itu adalah kobaran api yang tumbuh kuat bila semakin dibagikan, sehingga setiap orang dapat mengetahui, mencintai dan mengakui Yesus Kristus, Tuhan atas kehidupan dan sejarah (lih. Rom 10:9).

JMJ ini sungguh menjadi perayaan pesta iman. Setiap hari kami mengikuti katekese-katekese yang diberikan oleh para uskup. Tempatnya tersebar di semua gereja di Rio, dibagi berdasarkan bahasa masing-masing. Bagi Sandrine, seorang teman Prancis, dia merasa sangat beruntung bisa mengikuti perayaan puncak bagi orang-orang muda yang memiliki iman yang sama. Baginya, ini juga menjadi dinamika yang penting bagi orang-orang muda Katolik untuk bisa berkumpul dan berbagi kekayaan iman. Jumlah orang muda yang hadir dalam JMJ kali ini sekitar tiga juta orang. Tiga juta orang ini dikumpulkan dalam perayaan iman bersama bapa Paus Fransiskus di pinggir pantai Copacabana, Rio de Janeiro.

 

Pengalaman Iman dan Persahabatan

Pengalaman magis dan JMJ ini sungguh menjadi pengalaman yang amat berarti. Beberapa teman memberi kesan:

“Saya merasa ini seperti sebuah ilusi tapi dalam proses inilah saya merasa ini bukan imajinasi belaka tapi ini nyata dan Tuhan lah yang menghidupkan semuanya ini sehingga rasanya begitu indah. Kehangatan dari para Jesuit disini yang mengayomi dan memperhatikan kami, teman-teman yang begitu unik dan baik hati sampai ingin menangis saat melihat teman dari Chile yang menangis saat kita pulang, dan Father Michael SJ yang memberi pesan pada saya untuk terus pantang menyerah dalam hidup.” (Esi, Magis Jakarta)

Magis mengajarkan saya banyak hal. Lewat perjalanan ini saya belajar untuk menghadapi hal-hal yang selama ini saya hindari. Saya diajar untuk keluar dari comfort zone saya. Ke depannya, saya ingin mencoba dan berusaha terlebih dahulu sebelum akhirnya saya berkata saya tidak bisa. (Vera, Magis Jakarta)

Aku belajar banyak hal dari perjalananku selama Magis Gathering dan World Youth Day 2013. Berbagi pengalaman hidup dengan teman-teman baru juga membuka mataku akan hal-hal esensial dalam hidup, misalnya cinta, baik itu dalam hubungan vertikal maupun horizontal. Sekembalinya aku dari Brazil, aku berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik serta lebih terbuka. Jalan hidup yang terpampang di depan mata ini sungguh tak ada ujungnya, kadang menakutkan, sama ketika kami berjalan menyusur garis pantai, tak ada ujungnya. Namun ketika aku menerima hidup ini dengan keyakinan akan rencanaNya, aku tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. (Priska, Magis Jakarta)

Masing-masing orang muda mendapat banyak pengalaman yang sungguh meneguhkan iman mereka akan Yesus Kristus dan rasa persahabatan dengan sesama. Pengalaman iman dan persahabatan inilah yang senantiasa meneguhkan untuk makin mengenal Kristus, mencintai lalu mengikutiNya dari hari ke hari. Orang-orang muda sungguh diajak dan sekaligus ditantang untuk membawa kabar gembira kepada banyak orang yang membutuhkan sabdaNya, di mana ada kekurangan harapan, di mana semua orang bersedih, hanya karena tidak mengenalNya.

Pengalaman iman dan persahabatan ini yang senantiasa meneguhkan untuk makin mencintai Kristus dan berbagi dengan sesama, sebagaimana yang tercermin dalam lagu di bawah ini. Lagu ini yang senantiasa juga diulangi selama perjalanan acara magis Brasil. Lagu ini dinyanyikan oleh seorang Jesuit, Cristobal Fones SJ dan saya ingat persisi lagu ini juga menjadi lagu favorit magister saya ketika novisiat.

Amarte a ti, Senor
En todas las cosas
Y a todas en ti
En todo amar y servir
En todo amar y servir.

 

Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman mengikuti MAGIS Gathering dan World Youth Day di Brasil pada 2013. Refleksi ini juga telah dimuat di majalah Internos 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s