Menembus Hujan-Banjir, Merengkuh Kegembiraan

Beberapa hari ini hujan terus mengguyur kota Semarang. Seorang anggota komunitas berkomentar “hujannya dinamis”. Sebentar rintik-rintik lalu lebat lagi. Begitu seterusnya.

Empat hari lalu aku mendapat telpon dari seorang kepala sekolah di salah satu sekolah di Kudus. Beliau memberitahukan undangan ultang tahun sekolah yang ke 65. Dalam pembicaraan tersebut, beliau sangat mengharapkan kehadiran perwakilan dari yayasan. Aku sendiri sudah memberitahu kalau Direktur sudah ada jadwal di tempat lain yang tidak bisa diwakilkan.

Tiga hari lalu. Di pagi hari undangan tertulis untuk acara tersebut baru datang. Dalam undangan tersebut salah satu agenda acara adalah “orasi pendidikan” yang diberikan oleh direktur yayasan dan kepala dinas. Direktur memberiku kebebasan untuk memilih akan ikut acara yang mana, Barat (bersama beliau), Timur atau Kota. Dengan ringan kujawab: “kalau tidak hujan saya akan ke Kudus, jika hujan maka saya akan berkeliling ke tiga sekolah di Kota yang sedang open house.”

“Bagaimanapun besok ada kemungkinan aku ke Kudus,” kataku dalam hati. Yang segera terpikir olehku “artinya besok aku yang akan menggantikan direktur untuk memberi orasi”. Aku sendiri tertawa ketika membaca undangan ini. Apa benar sekolah mengagendakan orasi? Ataukah yang dimaksud orasi adalah sambutan sebagaimana biasanya? Dalam kesederhanaan pemahamanku orasi itu semacam pidato yang diberikan oleh seseorang yang dirasa cukup ahli dalam bidang tertentu. Apa tidak salah aku memberikan orasi dalam bidang pendidikan? Siapakah aku ini yang mau berorasi? Barangkali kalau berorasi di jalan aku bisa. Dulu, waktu kuliah, aku tiga kali berorasi setiap hari Sumpah Pemuda. Itupun sebenarnya karena aku menjadi gerekan sosial senat. Selanjutnya karena permintaan teman serumah. Namun, orasi kali ini tentu bereda. Nuansa intelektual menjadi ciri khasnya.

Malam harinya, aku mendapat telpon lagi dari kepala sekolah. Mereka sungguh mengharapkan kehadiran perwakilan dari yayasan. Dan sekali lagi, orang yang paling mungkin hadir adalah aku. Bisa saja aku menolak. Dan ada banyak alasan untuk itu. Sekolah di tempat lain juga membutuhkan. Tokh direktur sendiri memberiku kebebasan. Dan hujan! Itu tentu alasan yang amat kuat.

Namun entah kenapa ada perasaan yang jauh lebih kuat yang mendorongku untuk mengusahakan hadir pada perayaan ulang tahun sekolah tersebut. Aku merasa disodorkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mungkin aku tidak menyambut penantian orang-orang yang mengharapkan kehadiranku? Mereka dengan penuh kegembiraan merayakan ulang tahun ke-65, apa aku tidak mau menyambut kegembiraan yang mereka tawarkan? Apa aku tidak mau bergembira bersama mereka? Kegembiraan itulah yang menjadi alasan kuat bagiku untuk berangkat.

Pagi-pagi kukendarai motorku menuju kota Kudus. Jujur, aku masih menyimpan keraguana, karena buruknya cuaca, karena aku belum begitu mengenal kota ini sehingga orientasi jalan masih kabur. Memang aku sudah 4 kali berkunjung ke sana tetapi selalu bersama orang lain. Sendirian saja aku belum pernah. Tapi, “bersama Dia pasti bisa, kata seorang saudara. Kubulatkan tekadku. I have to go!

Kukenakan jas hujan yang akhirnya tembus air juga. Yah, hujan memang lagi hebat-hebatnya mengguyur semua daerah Jawa Tengah. Belum aku ke luar dari kota Semarang, banjir sudah selutut. Laju motor kupelankan, kuikuti beberapa motor di depanku. Pikirku sederhana, jika mereka jatuh berarti di depanku ada lubang. Aku sungguh berhati-hati. Belum lagi jalan ke kota Kudus diwarnai dengan lubang-lubang. Padahal beberapa bulan lalu jalan ke sana masih cukup mulus. Barangkali karena truk-truk besar yang tak pernah berhenti melintasi jalan tersebut.

Sepanjang perjalanan hujan terus mengguyur. Kadang rintik-rintik, tetapi lebih sering hujannya lebat. Bagi orang sepertiku, yang cacat mata dan menggunakan kacamata, mengendarai motor saat hujan adalah sebuah perjuangan, pandangan amat kabur dan aku tahu kalau itu berbahaya. Laju motorku hanya sekitar 50 Km/jam. Lama kelamaan aku merasa perjalanan itu tidak berujung. Sampai aku merasa capek. Sesekali jika jalanan sepi laju motorku kupercepat sampai 80 km/jam. Tidak lebih dari itu. Aku belum kenal medan, banyak lubang dan hujan. Akhirnya setelah 1 jam 45 menit, aku tiba di kota Kudus tepat di sekolah Kanisius. Kuparkir motorku, kubereskan jas hujanku dan segera aku berganti pakaian dan memakai sepatu. Tampilan formal. Batik, celana kain, sepatu pantofel.

Aku menempati kursi paling depan. Sebenarnya aku paling tidak suka suasana semacam ini. Tapi mau bagaimana lagi. Kehadiranku tidak hanya mewakili diriku, aku mewakili direktur, aku mewakili yayasan, aku mewakili serikat, aku mewakili keuskupan. Agak lebay mungkin :). Bersamaku ada beberapa orang pemerintahan yang bertugas di dinas pendidikan, komite sekolah, para donatur, perwakilan masyarakat, orang tua siswa, guru-guru, beberapa kepala sekolah, romo paroki dan dewannya serta anak-anak sekolah. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Tugasku jelas, aku akan memberikan orasi (sekali lagi menurutku ini bahasa mereka). Aku sudah menyiapkan sebanyak dua setengah/tiga halaman. Malam harinya aku membaca banyak tanggapan Anies Baswedan tentang pendidikan. Retorikanya membuatku sungguh terkesan dan mengobarkan semangatku untuk menyampaikan pidato/orasi sebagaimana dia berpidato/berorasi. Aku tahu tentu latar belakang pengalaman dan pengetahuannya memang amat luas. Well, siang harinya aku juga sudah menyempatkan membaca PPR (paradigma pedagogi reflektif) yang menjadi bagian dari cara pendidikan khas di persekolahan Kanisius. Maka, berdasarkan itu semua aku meramu sambutan atau pidato atau orasi atau mungkin yang lebih tepat sharing.

Ketika tiba saatnya, aku pun menyampaikan kata sambutan dan dua poin besar tentang pendidikan. Point besarnya: pendidikan kemanusiaan dan sikap kita terhadap pendidikan. Tentu kusertakan ucapan terima kasih pula kepada semua pihak yang sudah mendukung penyelenggaraan sekolah sampai usianya yang ke-65 ini. Didengarkan atau tidak, dipahami atau tidak, bermutu atau tidak, yang pasti aku telah menyampaikannya dengan penuh usaha.

Tanpa mengurangi usaha untuk menyampaikannya dan mengusahakan yang terbaik, bagiku, yang terpenting bukan itu lagi. Namun yang terpenting bagiku adalah aku bisa hadir di tengah-tengah mereka. Dan adalah rahmat tersendiri ketika mereka menyambutku dengan penuh kegembiraan. Setiap wajah yang kujumpai ada pancaran kegembiraan. “Tidak salah aku datang ke sini”, tegasku dalam hati. Jiwaku sungguh dipuaskan. Hujan, banjir, jalan berlubang, jauh, capek, apapun itu, semua demi merengkuh kegembiraan ini. Wajah kegembiraan inilah yang membayar semua perjuanganku hari itu. Tak ada satu materipun yang bisa membayarnya.

Kutembus hujan dan banjir untuk merengkuh kegembiraan jiwa…

Advertisements

2 thoughts on “Menembus Hujan-Banjir, Merengkuh Kegembiraan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s