“Hadiah Natal Terindah”, Tubuh dan Darah-Nya

Ibu-bapak, saudari-saudara yang terkasih selamat pagi. Selamat Natal!

Barangkali banyak di antara Anda yang bertanya-tanya siapa gerangan yang ada di hadapan Anda sekarang ini. Maka baiklah saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Bonifasius Melkyor Pando, sejak kecil sampai sekarang saya dipanggil Melky. Saya berasal dari paroki ini. Sejak 11 tahun saya masuk Seminari, ini pertama kalinya saya berdiri di depan umat paroki. Maka, saya berterima kasih kepada Rm.Lucas atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saat ini saya sedang menjalani masa Tahun Orientasi Kerasulan di yayasan Kanisius, bagian pendidikan di Semarang, Jawa Tengah. Setelah lulus dari Seminari saya melanjutkan pendidikan menjadi imam ke Ordo Serikat Yesus (SJ).

 Ibu-bapak, saudari-saudara yang terkasih

Saya akan memulai renungan pagi ini dengan sebuah cerita. Cerita ini sekaligus poin refleksinya saya peroleh dari salah seorang saudara saya yang selalu memberi inspirasi bagi saya. Romo Ardi SJ namanya. Ceritanya demikian: Selama Perang Dunia II, banyak anak-anak berusia 12 dan 13 tahun dibawa ke Junior Gestapo, di sana mereka harus kerja paksa, tanpa istirahat. Setelah perang berakhir , sebagian besar anak-anak ini telah kehilangan kontak dengan keluarga mereka dan berjalan tanpa tujuan, tanpa makanan atau tempat tinggal. Sebagai bagian dari program bantuan untuk membangun kembali pasca perang Jerman, banyak pemuda tersebut ditempatkan di kota-kota tenda. Di sana, dokter dan perawat bekerja dengan mereka dalam upaya untuk memulihkan kesehatan mental, fisik, dan emosional mereka. Itu adalah perjuangan yang berat.

Banyak dari anak-anak akan terbangun beberapa kali selama malam menjerit ketakutan. Seorang dokter memiliki ide untuk menangani rasa takut mereka . Setelah melayani anak-anak yang sedemikian melimpah, dia akan memasukkan mereka ke tempat tidur dengan sepotong roti di tangan mereka, mereka diberitahu untuk menyimpan sampai pagi. Anak-anak mulai tidur nyenyak setelah itu karena, setelah bertahun-tahun kelaparan dan ketidakpastian makanan mereka selanjutnya, mereka akhirnya memiliki jaminan makanan untuk hari berikutnya.

Inilah yang Tuhan lakukan bagi kita. Tuhan memberikan kita Yesus dan Yesus memberi kita diriNya sendiri. Dia memberi kita tidak hanya roti untuk diselipkan ke tangan kita tapi dia memberi kita dagingnya untuk makan dan minum darah sehingga kita bisa tetap di dalam Dia dan Dia di dalam kita.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Kalau hari ini anak-anak menerima komuni: roti dan anggur lambang Tubuh dan Darah Kristus, kita ingat pemberian diri Yesus – hadiah Yesus di Perjamuan Terakhir dan di kayu salib. Lalu mengapa kita merayakan Ekaristi sekitar 2.000 tahun kemudian/saat ini? Kita melakukan ini karena Yesus mengatakan kepada kita untuk melakukannya: “Lakukan ini untuk mengenangkan Daku!” Mengapa kita membutuhkan Ekaristi? Dalam Ekaristi ia memberikan tanda terlihat dan cara yang efektif untuk dia hadir kepada kami dan kami hadir kepadanya . Seperti kata Yesus sendiri , “Mereka yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam mereka.”

Bagi anak-anak yang hari ini menerima komuni: ini adalah hadiah Natal terindah dalam hidupmu. Kamu menerima Tubuh Kristus, Yesus sendiri dan menyatukanNya dalam dirimu. Sama halnya dengan kita orang dewasa yang telah menerima komuni, dengan kelahiran Bayi Yesus yang kita peringati, rayakan dan pestakan kita diingatkan akan Allah yang menjelma menjadi manusia yang memberikan DiriNya kepada kita.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Berbicara tentang Natal, pada 10 Desember, Koran Italia, “La Stampa” menlansir wawancara dengan Paus Fransiskus. Kepada Bapa Paus ditanyakan:

Apa makna Natal bagi Paus?  Beliau menjawab: “Natal adalah sebuah pertemuan dengan Yesus. Allah selalu mencari umatNya, memimpinnya, menjaganya, berjanji bahwa Ia akan selalu berada di dekatnya. Di dalam kitab Ulangan kita membaca bahwa Allah berjalan dengan kita, memimpin kita dengan tanganNya seperti seorang bapak kepada anaknya. Hal itu indah. Natal adalah pertemuan Allah dengan umatNya. Bagi saya, Natal selalu hal ini: merenungkan/mengontemplasikan kunjungan Allah bagi umatNya.

Apa yang disampaikan Natal bagi orang zaman ini?

Allah berbicara 2 hal kepada kita saat menemui kita. Yang pertama: milikilah harapan! Allah selalu membuka pintu-pintu, tidak pernah Dia menutupnya. Dia adalah bapak yang membukakan pintu bagi kita. Yang kedua: janganlah takut akan kelembutan! Ketika orang-orang Kristiani melupakan harapan dan kelembutan, mereka berubah menjadi sebuah Gereja yang dingin, yang tidak tahu ke mana pergi dan mengekang diri sendiri di dalam ideologi-ideologi. Saya takut ketika orang-orang Kristiani kehilangan harapan dan kapasitas untuk merangkul.”

Natal seringkali ditampilkan sebagai dongeng yang manis. Namun, Allah lahir di dalam dunia di mana terdapat banyak penderitaan dan kesengsaraan.

“Apa yang kita baca dalam Injil adalah sebuah warta sukacita. Para penginjil mengisahkan sebuah sukacita. Natal bukanlah sebuah keluhan tentang ketidakadilan sosial, tentang kemiskinan, namun adalah warta sukacita. Natal adalah sukacita, sukacita rohani, sukacita Allah, sukacita batin, sukacita karena terang dan kedamaian. Ketika orang tidak memiliki kapasitas atau berada di dalam situasi manusiawi yang tidak memungkinkannya memahami sukacita ini, dia merayakan pesta itu dengan kegembiraan duniawi.”

Sukacita itulah juga yang disampaikan dalam Bacaan Injil hari ini. Ketika mereka melihat Bayi Yesus di dalam palungan, para gembala mewartakan kabar sukacita mulia kelahiran Yesus sang Putera.

Satu catatan yang diberikan Romo Gianto SJ. Disebutkan dalam ay. 15 “… gembala-gembala itu berkata satu kepada yang lain, ‘Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat ….'” Kita diajak oleh para gembala yang telah menyaksikan kebesaran Tuhan untuk ikut pergi mencarinya “di Betlehem”, di tempat yang kita semua tahu, yang dapat dicapai, bukan di negeri antah-berantah sana. Tak lain tak bukan ialah pergi mendapati dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau siapa saja – di “Betlehem” – boleh jadi dalam diri orang yang kita cintai, boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, dalam diri orang-orang yang membutuhkan kedamaian, atau juga dalam diri kita sendiri yang diajak ikut menghadirkannya. Ini bisa memberi arah baru dalam kehidupan. Betlehem bisa bermacam-macam wujudnya, namun satu hal sama. Di situlah Tuhan diam menantikan orang datang menyatakan simpati kepada-Nya.

Para gembala dengan sukacita mengajak kita ke Betlehem kita masing-masing untuk melihat sukacita itu dan memberitakan sukacita itu pula. Dan sukacita itu adalah bahwa kita telah menerima Yesus.

Ibu-Bapak, Saudari-Saudara terkasih…

Semoga Tubuh dan Darah Kristus ini baik bagi anak-anak yang komuni pertama atau orang tua yang sudah selalu menyambutNya sungguh menyadari bahwa kita menjadi apa yang kita terima yakni Kristus sendiri yang kelahiranNya dengan penuh sukacita kita rayakan hari ini.

Anak-anak, lihatlah Yesus menyelipkan roti ke tanganMu, bahkan masuk ke dalam diriMu. Dan ini pengalaman sukacita dan hadiah Natal terindah untukmu.

Semoga anak-anak dan kita semua membagikan pengalaman sukacita ini sama seperti para gembala yang mewartakan pengalaman berjumpa dengan Bayi Yesus. Semoga kita mampu menjadi roti hidup bagi sesama. Kita menjadi darah yang tercurah bagi sesama.

Marilah kita memberikan hadiah terindah untuk bayi Yesus, yakni diri kita sendiri. Semoga makin hari kita makin hidup dalam pengharapan dan kelembutan hati. Mari kita menemukan sukacita dan mengajak orang lain menemukannya di Betlehem kita masing-masing. Selamat Natal! Tuhan memberkati. Amin.

 

(Ini adalah catatan kotbah yang saya sampaikan pada 25 Desember 2013 di paroki Soroako, Sul-Sel).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s