Jadi Guru itu “priceless”

Salah satu tanggungjawab yang saya emban saat ini adalah mencari, menyeleksi, mewawancarai dan memberi penugasan pada seorang guru. Jangankan memberi penugasan, mencari saja cukup sulit. Jangankan menyeleksi, ada saja sudah bersyukur. Ini fenomena yang amat eksistensial dan sungguh memprihatinkan. Pertanyaan yang cukup mengusikku, apakah profesi guru tidak menarik lagi bagi orang-orang zaman sekarang?

Sering kali muncul berita di TV tentang merosotnya pendidikan di Indonesia. Lalu diskusi dilakukan di mana-mana, semua orang pun dari yang berpendidikan sampai pada orang-orang yang terkadang hanya asal nyelethuk, banyak yang angkat bicara. Tapi adakah yang angkat tangan dan mengatakan ‘saya mau jadi guru’, atau sekurang-kurangnya mengatakan ‘saya mau terlibat dalam pendidikan? Saya mau ikut ambil bagian dalam mencerdaskan anak bangsa?’ Tak jarang orang menangis menyaksikan tontonan TV di mana banyak anak yang putus sekolah – karena tidak mampu secara ekonomi; karena harus membantu orang tua mencari penghasilan bahkan untuk bertahan hidup demi sesuap nasi; keadaan keluarga yang ambur radul atau karena keadaan sekolah yang hancur karena gedung roboh tak bisa diperbaiki atau karena ketaksanggupan membiayai guru -, tapi apa cukup dengan menangis? Tidak! Yang dibutuhkan setelah menangis, mau melakukan apa…

Mengapa orang-orang zaman sekarang tak lagi tertarik menjadi guru? Apa karena gaji guru yang sedikit? Apa karena status sosial guru yang tidak sejajar dengan pegawai perusahaan apalagi seorang manajer dan direktur?

Saya pun sepenuhnya sadar bahwa setiap orang tetap butuh ekonomi yang “cukup” untuk hidup; untuk membiayai keluarga; untuk menyekolahkan anak-anak. Dan memang sebagai guru, gaji yang diberikan tidak banyak namun kira saya masih cukup untuk hidup. Atau mungkin orang-orang sekarang lebih tertarik dengan gaya hidup yang dipamerkan di media, tentang keluarga bahagia punya rumah mewah, mobil yang jamani, semua gadget dll. Tapi apakah semua itu akan abadi? Apakah semua itu menjamin kebahagiaan?

Di mata dunia barangkali menjadi guru itu melarat; tidak membahagiakan. Namun pada saat seseorang menjadi guru – saya meminjam kata-kata Anies Baswedan – “Anda akan punya pengalaman dan itu bermakna seumur hidup. Anda punya saudara baru. Anda punya keluarga baru. Anda punya rumah baru. Dan Anda akan punya anak didik yang suatu saat akan kembali ke Anda, nulis sms, nulis email dan bilang: “terima kasih saya seperti ini karena dulu Anda hadir di desa saya menjadi guru.” Itu priceless, tidak bisa dihargai dengan rupiah karena yang kita tawarkan adalah kemuliaan. Anda pilih jadi guru satu tahun, pengalaman Anda, pendidikan yang Anda berikan itu bermakna bagi mereka, di desa itu, seumur hidup mereka.”

Memang profesi guru tidak menawarkan kekayaan dunia. Tetapi dia menawarkan sesuatu yang lebih mulia, lebih agung daripada kekayaan yakni kekayaan batin; dan kekayaan itu yang tak akan pernah habis dimakan ngengat, tak akan pernah hilang dicuri orang namun dia selalu terpatri kuat dan dalam. Dan sesungguhnya di sanalah kebahagiaan itu.

 

Jadi guru itu priceless!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s