Kotbah Paus Fransiskus pada Pembukaan WYD Rio 2013

paus

Dua hari lalu Paus Fransiskus merayakan 44 tahun imamat-nya. Aku masih ingat perjumpaanku dengan beliau, walau dengan jarak satu meter, tiga meter sampai hanya bisa melihatnya di screen. Tapi kesuciannya sampai merasukiku bahkan semua orang yang ada di situ. Adalah kebahagiaan ketika mendengarkan kotbahnya, suaranya yang lantang, wajahnya yang penuh sukacita, sapaannya yang personal, dialog yang hidup, dan pesan hidup yang amat mendalam.

Selama beberapa hari ke depan, aku ingin membagikan beberapa kotbah beliau selama WYD Rio 2013.

Dear Young Friends,

Good evening! In you I see the beauty of Christ’s young face and I am filled with joy. I recall the first World Youth Day on an international level. It was celebrated in 1987 in Argentina, in my home city of Buenos Aires. I still cherish the words of Blessed John Paul II to the young people on that occasion: “I have great hope in you! I hope above all that you will renew your fidelity to Jesus Christ and to his redeeming Cross” (Address to Young People, Buenos Aires, 11 April 1987).

Before I continue, I would like to call to mind the tragic accident in French Guiana in which young Sophie Morinière was killed and other young people were wounded. I invite all of you to observe a minute’s silence and to pray for Sophie, for the wounded, and for their families.

This year, World Youth Day comes to Latin America for the second time. And you, young people, have responded in great number to the invitation extended by Pope Benedict XVI to celebrate this occasion. We express to him our heartfelt thanks. I am looking at the large crowd before me – there are so many of you! And you have come from every continent! In many cases you have come from afar, not only geographically, but also existentially, culturally, socially and humanly. But today you are all here, or better yet, we are all here together as one, in order to share the faith and the joy of an encounter with Christ, of being his disciples. This week Rio has become the centre of the Church, its heart both youthful and vibrant, because you have responded generously and courageously to the invitation that Christ has made to you to be with him and to become his friends.

The train of this World Youth Day has come from afar and has travelled across all of Brazil following the stages of the project entitled “Bota fé – put on faith!” Today the train has arrived at Rio de Janeiro. From Corcovado, Christ the Redeemer embraces us and blesses us. Looking out to this sea, the beach and all of you gathered here, I am reminded of the moment when Jesus called the first disciples to follow him by the shores of Lake Tiberias. Today Christ asks each of us again: Do you want to be my disciple? Do you want to be my friend? Do you want to be a witness to my Gospel? In the spirit of The Year of Faith, these questions invite us to renew our commitment as Christians. Your families and local communities have passed on to you the great gift of faith, Christ has grown in you. I have come today to confirm you in this faith, faith in the living Christ who dwells within you, but I have also come to be confirmed by the enthusiasm of your faith!

I greet you with great affection. To all of you assembled here from the five continents and, through you, to all young people of the world, and in particular to those who have not been able to come to Rio de Janeiro but who are following us by means of radio, television and internet, I say: Welcome to this immense feast of faith! In several parts of the world, at this very moment, many young people have come together to share this event: let us all experience the joy of being united with each other in friendship and faith. And be sure of this: my pastoral heart embraces all of you with universal affection. From the summit of the mountain of Corcovado, Christ the Redeemer welcomes you to this beautiful city of Rio!

I wish to extend greetings to the President of the Pontifical Council for the Laity, the dear and tireless Cardinal Stanisław Ryłko, and to all who work with him. I thank Archbishop Orani João Tempesta, of São Sebastião do Rio de Janeiro, for the warm welcome given to me and for the considerable work of preparation for this World Youth Day, together with the many Dioceses of this vast country of Brazil. I would also like to express my gratitude to all the national, state and local authorities and to those who have worked to make possible this unique moment of celebration of unity, faith and fraternity. Thank you to my brother Bishops, to the priests, seminarians, consecrated persons and the lay faithful that have accompanied the young from various parts of the world on their pilgrimage to Jesus. To each and every one of you I offer my affectionate embrace in the Lord.

Brothers and sisters, dear friends, welcome to the XXVIII World Youth Day in this marvellous city of Rio de Janeiro!

Advertisements

Jadi Guru itu “priceless”

Salah satu tanggungjawab yang saya emban saat ini adalah mencari, menyeleksi, mewawancarai dan memberi penugasan pada seorang guru. Jangankan memberi penugasan, mencari saja cukup sulit. Jangankan menyeleksi, ada saja sudah bersyukur. Ini fenomena yang amat eksistensial dan sungguh memprihatinkan. Pertanyaan yang cukup mengusikku, apakah profesi guru tidak menarik lagi bagi orang-orang zaman sekarang?

Sering kali muncul berita di TV tentang merosotnya pendidikan di Indonesia. Lalu diskusi dilakukan di mana-mana, semua orang pun dari yang berpendidikan sampai pada orang-orang yang terkadang hanya asal nyelethuk, banyak yang angkat bicara. Tapi adakah yang angkat tangan dan mengatakan ‘saya mau jadi guru’, atau sekurang-kurangnya mengatakan ‘saya mau terlibat dalam pendidikan? Saya mau ikut ambil bagian dalam mencerdaskan anak bangsa?’ Tak jarang orang menangis menyaksikan tontonan TV di mana banyak anak yang putus sekolah – karena tidak mampu secara ekonomi; karena harus membantu orang tua mencari penghasilan bahkan untuk bertahan hidup demi sesuap nasi; keadaan keluarga yang ambur radul atau karena keadaan sekolah yang hancur karena gedung roboh tak bisa diperbaiki atau karena ketaksanggupan membiayai guru -, tapi apa cukup dengan menangis? Tidak! Yang dibutuhkan setelah menangis, mau melakukan apa…

Mengapa orang-orang zaman sekarang tak lagi tertarik menjadi guru? Apa karena gaji guru yang sedikit? Apa karena status sosial guru yang tidak sejajar dengan pegawai perusahaan apalagi seorang manajer dan direktur?

Saya pun sepenuhnya sadar bahwa setiap orang tetap butuh ekonomi yang “cukup” untuk hidup; untuk membiayai keluarga; untuk menyekolahkan anak-anak. Dan memang sebagai guru, gaji yang diberikan tidak banyak namun kira saya masih cukup untuk hidup. Atau mungkin orang-orang sekarang lebih tertarik dengan gaya hidup yang dipamerkan di media, tentang keluarga bahagia punya rumah mewah, mobil yang jamani, semua gadget dll. Tapi apakah semua itu akan abadi? Apakah semua itu menjamin kebahagiaan?

Di mata dunia barangkali menjadi guru itu melarat; tidak membahagiakan. Namun pada saat seseorang menjadi guru – saya meminjam kata-kata Anies Baswedan – “Anda akan punya pengalaman dan itu bermakna seumur hidup. Anda punya saudara baru. Anda punya keluarga baru. Anda punya rumah baru. Dan Anda akan punya anak didik yang suatu saat akan kembali ke Anda, nulis sms, nulis email dan bilang: “terima kasih saya seperti ini karena dulu Anda hadir di desa saya menjadi guru.” Itu priceless, tidak bisa dihargai dengan rupiah karena yang kita tawarkan adalah kemuliaan. Anda pilih jadi guru satu tahun, pengalaman Anda, pendidikan yang Anda berikan itu bermakna bagi mereka, di desa itu, seumur hidup mereka.”

Memang profesi guru tidak menawarkan kekayaan dunia. Tetapi dia menawarkan sesuatu yang lebih mulia, lebih agung daripada kekayaan yakni kekayaan batin; dan kekayaan itu yang tak akan pernah habis dimakan ngengat, tak akan pernah hilang dicuri orang namun dia selalu terpatri kuat dan dalam. Dan sesungguhnya di sanalah kebahagiaan itu.

 

Jadi guru itu priceless!