sebuah “ruang”

Akhir-akhir ini aku suka merekam obrolan-obrolan kecilku dengan siapa saja yang kuanggap berharga, bernilai, bermakna walau singkat dan sederhana.

Kemarin, aku bersama seorang saudara jalan-jalan ke Purwodadi. Tak satu pun dari kami yang pernah menjejakkan kaki di sana. Maka tekad kami hanyalah ingin mengisi hari libur dengan jalan-jalan ke sana. Hanya itu. Dan kami nikmati perjalanan.

Cerita demi cerita menemani jalan-jalan kami. Kami mengobrolkan tentang sebuah “ruang”. Kusebut sebagai ruang karena rasanya tak ada sebutan yang bisa menggambarkannya dengan pasti. Obrolan kami itu berawal dari Habibie Ainun. Aku belum pernah menontonnya apalagi membaca novelnya. Ketika film itu booming di bioskop rasa-rasaku film itu biasa-biasa saja. Tapi (setelah diceritakan dan menontonnya sepulangjalan-jalan) ternyata ada yang tidak biasa dari film/kisah tersebut dan memang tidak layak disebut ‘biasa-biasa saja’.

images

Itu adalah kisah pasangan suami isteri. Siapapun yang menonton akan setuju kalau mereka, Habibie & Ainun, adalah pasangan yang menghidupi sungguh apa arti kesetiaan. Namun kesetiaan itu berujung pada sebuah rasa ketergantungan. Memang, suami isteri patutnya setia dan selalu bersama selamanya. Hidup tentu akan terasa bahagia, seperti bulan madu setiap hari. Namun ketika salah satu tulang rusuk itu harus diambil maka hidup seakan kehilangan maknanya; yang tersisa adalah sakit dan luka yang tak ada obatnya. Habibie kehilangan Aninun setelah beberapa waktu menderita kanker. Kepergian sang kekasih hidup seketika membuat hidup seakan tak layak dijalani. Hari-hari membekaskan bayangan akan Ainun. Bagaimana tidak, lima puluh tahun sudah mereka mengaruhi bahtera hidup. Pahit getirnya hidup telah ditelan bersama. Dan bukankah itu memang suatu proses alami sebagai manusia? Aku sempat berpikir mengapa orang disatukan lalu pada akhirnya dipisahkan? Bukankah ini ketidakadilan; ketika dua menjadi satu lalu diceraikan lagi, apa itu cukup adil?

Ini pergumulan. Aku saja yang tidak berkeluarga (atau belum…hehehe…) merasakan perpisahan itu sebagai salib yang berat dan amat memilukan. Namun karena hidup harus terus berjalan, Habibie perlu menerima kepergian Ainun. Ia harus merelakan kepergiannya dan secara jujur mengakuinya. Habibie memperlukan sebuah terapi untuk akhirnya bisa melepas kepergian. Terapi itu dijalani dengan menuliskan semua pengalaman hidupnya bersama Ainun. Dengan itu dia melepaskan segala beban yang belum membuatnya lepas bebas menjalani hari-harinya semenjak kepergian Ainun. Itulah terapi yang pelan-pelan membuatnya bisa menerima kenyataan ini.

Ragam perspektif dapat dipakai untuk menonton/mengamat-amati persitiwa ini. Namun kami pilih melihatnya dari kata ‘terapi’. Ketika seseorang berada dalam pergumulan hidup – mengalami krisis yang tampak tak berkesudahan yang membuat hidup seakan tak layak lagi dijalani – ia perlu masuk ke sebuah “ruang”. Sekali lagi aku merasa tak ada sebutan yang amat pas untuknya selain itu. Sebuah “ruang” yang kumaksud adalah saat di mana seseorang hening, secara jernih melihat hidupnya, meneliti krisisnya. Di dalam “ruang” itu dia berjumpa dengan dirinya sendiri. Pasti ada banyak penolakan, pemberontakan. Ketika itu kami merasa beruntung bahwa sebagai jesuit kami diajarkan untuk selalu menyediakan waktu hening. Dalam situasi itu, kami diajari untuk secara bening melihat jejak pengalaman yang telah lalu, selanjutnya belajar membuat peta di hari kemudian. Kami diajari menerima dengan lepas bebas dan bahkan selalu berusaha menempatkan rasa syukur. Kukatakan ini bukan hal mudah. Namun kukatakan pula mungkin ini jalan terbaik karena tokh tak ada orang yang bisa sedemikian mengerti betapa hancurnya hidup yang dijalani, betapa beratnya krisis yang menerpa. Ini pergumulan.

Ketika berada pada situasi pergumulan hebat; daya tak lagi ada; … Di sanalah seseorang perlu masuk ke dalam “ruang” tersebut. Kalau Habibie masuk ke dalam ruang terapi dengan menuliskan perziarahan rumah tangganya bersama Ainun – dan dengan itu dia pelan-pelan nan pasti melepaskan segala yang menghambatnya untuk tulus menerima ketiadaan Ainun- maka sebagai Jesuit ruang terapi itu situasi hening dan bening meneliti hidup, mencecap-cecap segala yang dialami.

Ada saat di mana seseorang bergumul sampai seakan-akan berada di akhir batas dayanya. “Ruang” – di mana seseorang sendiri dan yang ada hanya keheningan – membantu untuk melihat segala menjadi lebih jelas dengan mata yang baru. Pahit getir pergumulan dan pencarian dicerahkan dalam “ruang” itu. Inilah proses beriman itu, selalu bergumul, selalu ada kegelisahan dan seseorang diajak untuk terus mencari dan mencari. Ia tak pernah mapan.

Entah,

Advertisements