“the voice that calls within”…

Akhir-akhir ini aku memang amat sibuk dengan tugas-tugasku yang baru. Bangun pagi-pagi, ikut Misa lalu sarapan dan bergegas berangkat kerja. Kadang aku pulang sore kadang juga teramat sore. Dan yang kubawa pulang adalah rasa capek disertai pikiran tentang kelanjutan tugas di hari esok. Aku belum pernah merasa sedemikian lelah yang berkelanjutan. Aku ingin setiap kali pulang langsung saja menjatuhkan diri di bantal, tidur sampai esok. Tak usah mandi, pun makan. Tidur sudah sangat berharga bagiku. Aku tidak stres, hanya lelah saja. Boleh jadi karena shock juga dengan keadaan baru.

Suatu waktu aku bercerita dengan seorang saudara, membagikan secuil pengalaman yang kudapatkan di tempat baruku ini termasuk tentang kisah ini. Sungguh pun aku tahu ini masih sangat awal. Aku tak menduga kalau cerita-cerita kecil ini membawa suatu peneguhan bagiku. Maka amat sayang jika diskusi-diskusi rohani ini tidak kutuliskan. Ini berharga karena meneguhkan.

Setelah kami saling bertukar cerita, saudaraku itu menanggapi: “Daftar tugasnya banyak ya! Dalam semua itu semoga ora lali sembahyang lan bimbingan rohani. Dan semoga semakin mengalami kebenaran bahwa dari sisi tugas dan pekerjaan, menjadi jesuit itu akan membawa kita tidak akan pernah kekurangan pekerjaan. Tetapi akumulasi tugas dan pekerjaan sendiri tidak dengan sendirinya menentukan kejesuitan kita.” Entah mengapa, tapi semua yang dikatakan itu tepat mengena diriku.

Beberapa waktu terakhir, aku memang banyak bergulat dengan hidup rohani. Bahkan, dalam beberapa kesempatan aku banyak bertanya pada Tuhan. Mengapa ada orang yang punya relasi intim dengan Tuhan? Mengapa mereka sedemikian kuat meyakini bahwa panggilan yang mereka jalani adalah pilihan tepat bagi mereka? Aku heran. Tapi aku juga iri. Aku iri karena kekokohan pondasi panggilan mereka. Sehingga ketika ada badai yang coba menggoyangkan ia tetap berdiri tegap. Aku iri karena aku tak memiliki kekokohan yang demikian. Aku iri karena relasiku dengan Tuhan seakan-akan hanya berjalan biasa-biasa saja. Aku iri dengan keintiman mereka bersama Tuhan. Aku juga ingin memiliki keyakinan yang sama. Aku juga ingin memiliki pengalaman yang sama, sehingga kalau datang badai aku tidak goyah karena aku kuat berdiri; karena aku punya pengalaman yang sungguh menguatkanku sebagaimana dengan pengalaman yang dimiliki saudara-saudaraku. Maka, kutanyakan kepada Tuhan, apa yang mesti kubuat agar aku juga bisa seperti mereka? Apa yang harus kubuat agar makin hari relasiku dengan Tuhan makin dekat, akrab dan kokoh? Apa selama ini aku kurang berdoa? Ataukah aku yang “kurang mendalam” merefleksikan pengalaman hidupku? Sungguh, Engkau tahu ya Tuhan bahwa aku juga mau dan berhasrat memiliki keyakinan dan kekokohan iman yang sama seperti mereka; iman yang yakin akan jalan keterpanggilan ini.

Saudaraku menyambungnya: “Kerinduanmu untuk berdoa dan mengalami percakapan rohani itu pasti dari kendalaman yang sering disebut “the voice that calls within”. Tak ada kata terlambat untuk selalu melangkah maju dalam kedekatan dengan Tuhan supaya menjadi saluran rahmat-nya. Tidak ada kebenaran rohani “menghidupi doa di tengah kesibukan karya” tanpa secara pribadi menyedikan waktu konkret berdoa. Apalagi untuk kita, yang masih banyak kelemahan. Dan dalam hal ini kita bisa berpikir praktis dan sederhana: sediakan waktu dan disiplin serta committed dengan rencana tersebut.

Kusadari, seringkali ungkapan bagus menemukan Tuhan dalam segala atau contemplativus in actione menjadi penghiburan semu yang membenarkanku untuk tidak secara konkret dan teguh mengusahakan waktu doa, membangun keakraban dengan Tuhan; atau bahkan menjadi sekedar wacana saleh untuk mengurangi rasa bersalah yang benar di ruang terdalam nurani ini.

I think I’ll follow the voice that calls within
Dance to the silent song it sings
I hope to find my place
So my life can fall in place
I know in time I’ll find my place
In the greater scheme of things

Advertisements

Evening Meditation

Life is hard. Full of difficult challenges. And hard choices. But even though you can’t see it, and even if you don’t feel it, God is always with you. Helping you. Trust that God is with you and will help you face your struggles and make good and life-giving decisions. [James Martin SJ]