Apa yang Kau Inginkan?

Kita memang pernah bercerita tentang masa yang akan datang. Kala itu, kita bagikan segala mimpi yang akan kita cengkeram sekuat daya kita. Kau kisahkan mimpimu, begitupun aku.

Entah, kau masih ingat atau tidak. Kobaran api yang meluap-luap saat kita kontemplasi tentang dunia ini. Tentang saat di mana kita terjun dan masuk ke setiap sudut dunia, setiap relung hati yang butuh penyembuhan. Kita begitu terpesona dengan keberanian para misionaris. Memang kita tidak bermimpi jadi misionaris. Tapi semangatnya yang menyala, membara yang membakar semangat kita sampai kita berkobar-kobar.

Di mata dunia, kita mungkin termasuk orang-orang yang fuga mundi (lari dari dunia). Apa yang kau cari? Apa yang kau inginkan? Begitu tanya banyak orang. Apa mereka tidak tahu tentang panggilan? Apa mereka tidak pernah melihat orang-orang seperti kita? Atau apakah kita seperti orang-orang gila, orang bodoh yang mau hidup sedemikian berbeda? Dan apakah jalan hidup yang kita lakoni ini sungguh berbeda? Padahal kita juga hidup apa adanya manusia, makan, minum, ingin itu-ini, ke sana-sini. Semua ada dan tak pernah dimatikan.

Apa gunanya memperoleh seluruh dunia jika kehilangan nyawa? Itu yang sedemikian mengobarkan Xaverius kala itu. Maka dia berlayar ke Timur. Kisah-kisah seperti itu yang menginspirasi untuk maju terus.

Setiap orang punya jalan sendiri. Karena hidup ini sungguh personal, dijalani dengan diri sendiri pula. Memang kita tak pernah akan selalu bersama, dengan siapa pun. Perjumpaan yang lebih banyak adalah perjumpaan dengan diri sendiri. Maka kau harus mampu terima itu. Namun, keyakinan akan suatu kebahagiaan karena jiwa yang dipuaskan terus mendorong kaki ini melangkah. Tersandung sesekali. Yah…hanya luka sedikit. Maju lagi. Begitu seterusnya, tahap demi tahap. Dan setiap tahap ada kisahnya sendiri.

Namun pada satu titik kita berhenti dan mulai menanyakan semua yang telah lalu sambil menatap ke masa yang akan datang. Apa yang kau inginkan? Akkhhh…sulit rasanya menjawab pertanyaan itu. Ternyata, diam-diam aku ragukan mimpi itu; mimpi yang pernah kita kisahkan indah, hebat, heroik.

Pertanyaan itu terasa menuntut untuk dijawab, Apa yang kau inginkan? Lukas mengabarkan bahwa Bartimeus menjawabnya “Guru, biarlahkanlah aku melihat kembali”.

Lalu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s